3 dari 13 Peneliti ParagonCorp Raih Penghargaan dalam SICS Summit 2026

Sedang Trending 55 menit yang lalu

Jakarta -

Tiga dari 13 peneliti ParagonCorp meraih penghargaan dalam kejuaraan ilmiah SICS Summit 2026 melalui penelitian mengenai perawatan kulit dan rambut. Ketiganya merupakan bagian dari 13 peneliti Research and Development ParagonCorp nan berperan-serta dalam forum ilmiah di ICE BSD, Tangerang.

Ketiga peneliti tersebut adalah Nur Huda Arif Indiarto nan meraih Juara 1 Poster Presentation, Nurani Istiqomah sebagai Juara 1 Oral Presentation, dan Shania Rizki Ivany sebagai Juara 2 Oral Presentation.

Penelitian mereka mengangkat tiga persoalan berbeda nan berangkaian dengan kebutuhan perawatan kulit dan rambut, ialah back-acne, ketombe pada kondisi berhijab, serta pemulihan kulit setelah prosedur dermatologis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nur Huda meneliti penggunaan multi-active body cleanser nan memadukan bamboo, peppermint, PHA, dan niacinamide untuk memandang perannya dalam pengurangan back-acne, sekaligus mengeksplorasi aspek sensory relaxation dari pengalaman penggunaan.

Penelitian berjudul Clinical Evaluation of a Multi-Active Body Cleanser with Bamboo, Peppermint, PHA, and Niacinamide for Back-Acne Reduction and Sensory Relaxation tersebut berangkat dari kemauan untuk memahami kebutuhan kulit tubuh nan mungkin belum banyak mendapat perhatian dibandingkan kulit wajah.

"Bagi saya sebagai peneliti, menarik untuk memandang gimana persoalan nan dekat dengan keseharian dapat diterjemahkan menjadi pertanyaan ilmiah, kemudian dipelajari melalui pendekatan klinis untuk mendapatkan pemahaman nan lebih terukur," ujar Nur Huda dalan keterangan tertulis, Jumat (23/10/2026).

Berbeda dengan penelitian Nur Huda nan berfokus pada kulit tubuh, Shania mengkaji pengelolaan ketombe pada kondisi berhijab melalui penelitian berjudul Managing Dandruff Under Hijab-Wearing Conditions: Clinical and Antimicrobial Evaluation of a Piroctone Olamine-Botanical Amino Acid-Based Shampoo.

Penelitian tersebut menggunakan pendekatan clinical evaluation dan antimicrobial evaluation untuk mempelajari pengelolaan ketombe pada kondisi berhijab menggunakan formula sampo berbasis piroctone olamine dan botanical amino acid, dengan perhatian pada aspek ilmiah nan berangkaian dengan kondisi kulit kepala dan ketombe.

"Sebagai peneliti, kami mencoba memandang kebutuhan pengguna bukan hanya dari apa nan terlihat, tetapi juga memahami konteks di baliknya. Kondisi berhijab menjadi salah satu konteks nan menarik untuk dipelajari secara ilmiah agar kami dapat terus memperluas pemahaman mengenai kebutuhan kulit kepala dan gimana pendekatan perawatan dapat dikembangkan secara lebih relevan," ucap Shania.

Sementara itu, Nurani meneliti penggunaan pelembap soothing dalam mendukung pemulihan kulit setelah tindakan dermatologis seperti picosecond laser dan chemical peeling. Fokus tersebut juga merefleksikan kebutuhan pada kategori perawatan kulit sensitif dan pemulihan kulit nan dikembangkan melalui Wardah Derma Sensitive Skin Rescue Moisturizer

Melalui penelitian berjudul Clinical Evaluation of a Post-Procedural Soothing Moisturizer in Supporting Skin Recovery Following Picosecond Laser and Chemical Peeling Treatments, dia mengevaluasi penggunaan post-procedural soothing moisturizer dalam mendukung pemulihan kulit setelah kedua prosedur tersebut.

"Penelitian ini berangkat dari kemauan untuk memahami kebutuhan kulit setelah prosedur dermatologis. Melalui pertimbangan klinis, kami mempelajari gimana pelembap nan menenangkan dapat mendukung proses pemulihan kulit setelah tindakan seperti picosecond laser dan chemical peeling," tutur Nurani.

Ketiga penelitian tersebut dipresentasikan dalam SICS Summit 2026, forum nan mempertemukan intelektual dan ahli di bagian kosmetik dari Indonesia maupun beragam negara. Keikutsertaan para peneliti ini menjadi kesempatan untuk memaparkan hasil penelitian sekaligus berganti pengetahuan dengan organisasi ilmiah.

Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa menjelaskan, keikutsertaan dalam forum ilmiah menjadi kesempatan bagi para peneliti untuk mempresentasikan hasil penelitian sekaligus berganti pengetahuan dengan organisasi ilmiah.

Menurutnya proses tersebut krusial agar R&D dapat terus berkembang dan penelitian nan dilakukan dapat semakin relevan dengan kebutuhan industri dan konsumen.

"Bagi kami, forum seperti SICS Summit bukan hanya tentang mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga tentang gimana para peneliti terus belajar, berganti perspektif, dan membangun jejaring dengan organisasi ilmiah," pungkas dr. Sari Chairunnisa.

Forum nan diselenggarakan oleh Society of Indonesian Cosmetic Scientists (SICS) tersebut menjadi ruang bagi para peneliti untuk mempresentasikan hasil penelitian dan berganti pengetahuan dalam organisasi sains kosmetik.

Keikutsertaan 13 peneliti ParagonCorp dalam forum tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas jejaring ilmiah dan mengembangkan kapabilitas R&D. Melalui partisipasi dalam forum ilmiah, ParagonCorp turut membuka ruang bagi para peneliti untuk mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi kosmetik.

(anl/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑