JAKARTA - Tiga contoh pidato singkat tentang berterima kasih menarik untuk disimak. Bersyukur merupakan bentuk terima kasih dari seorang hamba kepada Sang Pencipta atas segala nikmat nan diterimanya, baik nan tampak besar maupun nan sering luput dari perhatian. Karena dekat dengan kehidupan sehari-hari, tema ini kerap dipilih dalam ceramah, kultum, dan pengajian di beragam kesempatan.
Lantas, seperti apa saja contoh pidato singkat tentang bersyukur? Melansir dari beragam sumber, berikut adalah contohnya.
1. Contoh Ceramah Tentang Nikmat Allah nan Tak Terhitung
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kaum muslimin nan dirahmati Allah, nikmat nan Allah SWT berikan kepada kita sangat berlimpah. Sering kali nikmat itu datang tanpa diminta, mulai dari kesehatan, rezeki, akal, hingga nikmat Islam. Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 18, “Dan jika Anda menghitung nikmat Allah, niscaya Anda tidak bakal bisa menghitungnya. Sungguh, Allah betul-betul Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Hadirin sekalian, secara bahasa, syukur berfaedah pujian kepada pihak nan telah melakukan baik atas kebaikannya. Syukur juga merupakan kebalikan dari kufur. Adapun menurut istilah, syukur berfaedah memakai seluruh nikmat Allah, seperti pendengaran, penglihatan, dan hati, sesuai dengan tujuan penciptaannya.
Rasulullah SAW adalah teladan dalam bersyukur. Suatu ketika, Bilal bertanya kenapa beliau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosanya, baik nan lampau maupun nan bakal datang. Beliau menjawab bahwa dirinya mau menjadi hamba nan bersyukur. Sahabat Umar bin Khattab pun pernah menyampaikan bahwa jika sabar dan syukur diibaratkan dua ekor unta, dia tidak keberatan menunggangi nan mana pun. Ucapan ini mengingatkan kita agar siap berterima kasih dalam setiap keadaan.
Demikian pidato singkat ini, semoga bermanfaat. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
2. Contoh Ceramah Tentang Syukur Saat Lapang dan Sempit
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hadirin nan dirahmati Allah, berterima kasih adalah adab mulia nan semestinya dimiliki oleh setiap umat muslim. Rasa syukur tumbuh dari kecintaan kita kepada Allah SWT dan kudu selalu hadir, baik ketika senang maupun susah.
Ketika nikmat datang, kita teguhkan dalam hati bahwa semuanya berasal dari Allah. Kita ucapkan alhamdulillah dengan penuh rasa terima kasih, lampau kita manfaatkan nikmat itu sebaik-baiknya sesuai keahlian dan hukum agama.
Meski demikian, rasa syukur tidak semestinya hanya datang saat hidup terasa lapang. Rasa syukur itu juga perlu dipertahankan ketika kita sedang diuji. Di sinilah ujian rasa syukur nan sesungguhnya. Ketika kesulitan datang, lisan jadi lebih mudah mengeluh daripada mengucap alhamdulillah. Bayangkan ketika kita sedang berpuasa di siang nan terik, lampau motor nan kita kendarai tiba-tiba mogok di tengah jalan. Pada saat itu, hati pun bakal mudah diliputi oleh rasa jengkel dan mulut jadi mengucap keluhan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·