Menkes Budi Gunadi Sadikin(MI/ARNOLDUS DHAE)
KRISIS penyakit jantung di Indonesia tetap menjadi tantangan serius. Setiap tahun, sekitar 260 ribu masyarakat Indonesia meninggal akibat serangan jantung, sementara kapabilitas jasa kesehatan, jumlah master spesialis, hingga deteksi dini tetap belum bisa mengimbangi tingginya kasus.
Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam 67th Annual World Congress International College of Angiology (ICA) 2026 nan digelar berbarengan dengan 6th Indonesian Vascular Annual Scientific Congress (IndoVASC) di The Westin Resort Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung nan dimulai sejak Jumat (31/7/2026). Forum ilmiah internasional ini diikuti sekitar 600 peserta dari beragam disiplin pengetahuan kesehatan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penyakit jantung sekarang menjadi penyebab kematian terbesar kedua di Indonesia setelah stroke. Karena itu, pemerintah menargetkan peningkatan usia angan hidup masyarakat dari 72 tahun menjadi 76 tahun dalam lima tahun mendatang.
"Setiap tahun di Indonesia, sekitar 260.000 orang meninggal bumi akibat serangan jantung. Kondisi ini menempati urutan kematian kedua setelah stroke," ujar Budi. Ia menegaskan bahwa upaya meningkatkan usia angan hidup tidak bakal tercapai tanpa menekan nomor kematian akibat penyakit kardiovaskular.
Pada kesempatan nan sama Menkes juga nomor kematian bayi akibat serangan jantung. Dalam paparannya, Budi juga mengungkapkan Indonesia mencatat sekitar 48 ribu bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar seperempat merupakan kasus berat nan memerlukan penanganan segera.
Namun, kapabilitas operasi nasional saat ini baru bisa menangani sekitar 6.000 bayi setiap tahun, sehingga tetap banyak pasien nan kehilangan kesempatan hidup akibat keterlambatan pemeriksaan maupun rujukan. Kondisi itu menjadi salah satu argumen pemerintah mempercepat program skrining kesehatan nasional nan menargetkan seluruh masyarakat Indonesia, termasuk bayi baru lahir, hingga 2029.
Selain itu, Kementerian Kesehatan juga terus memperluas jasa kateterisasi jantung. Jika pada 2019 jasa PCI hanya tersedia di 43 kabupaten dan kota, sekarang telah berkembang menjadi 151 daerah, dengan sasaran seluruh Indonesia dapat terlayani pada 2027. Menkes juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas jasa antar rumah sakit, bukan hanya pemerataan fasilitas.
Menurutnya, pertimbangan terhadap nomor keberhasilan tindakan medis diperlukan agar rumah sakit nan tetap mempunyai tingkat kematian tinggi dapat memperoleh pembinaan dan peningkatan kapasitas.
Ketua penyelenggara IndoVASC, Dr. Iwan Dakota, mengatakan penyelenggaraan kongres bumi berbareng ICA bermaksud memperkuat kerjasama ilmiah sekaligus meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan Indonesia dalam penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah.
"Kita sudah tiga kali menjadi tuan rumah World Congress ICA, ialah tahun 2011, 2015, dan sekarang 2026. Tahun ini sekitar 600 peserta hadir, mulai dari master jantung, master bedah, master penyakit dalam hingga master umum, dengan angan keahlian penanganan penyakit kardiovaskular semakin meningkat," ujarnya.
Presiden International College of Angiology, Dr. Frank Manetta, mengaku terkesan dengan penyelenggaraan kongres di Bali. Menurutnya, semangat kerjasama nan ditunjukkan para tenaga kesehatan Indonesia sejalan dengan visi ICA dalam meningkatkan pelayanan pasien penyakit kardiovaskular di seluruh dunia.
Ia menambahkan bahwa penanganan penyakit jantung tidak hanya menjadi tanggung jawab master spesialis, tetapi memerlukan keterlibatan master jasa primer, radiolog, perawat, fisioterapis hingga tenaga kesehatan lainnya.
Sementara itu, Iwan menjelaskan penyakit jantung koroner tetap menjadi kasus terbanyak di Indonesia sekaligus penyebab kematian utama akibat penyakit jantung. Di posisi kedua adalah penyakit katup jantung nan banyak dipicu penyakit jantung rematik akibat jangkitan tenggorokan nan tidak tertangani sejak masa kanak-kanak.
"Kalau kita lihat datanya, paling banyak penyakit jantung adalah penyakit jantung koroner. Nomor dua penyakit katup jantung. Penyakit katup ini banyak dipicu penyakit jantung rematik nan sebenarnya bisa dicegah sejak mini dengan pengobatan jangkitan tenggorokan," jelasnya.
Ia memperkirakan lebih dari 50 persen kasus penyakit jantung di Indonesia merupakan penyakit jantung koroner, sementara sekitar 20–30 persen merupakan penyakit katup jantung. Sisanya berasal dari hipertensi maupun penyakit jantung bawaan. Karena itu, menurutnya, langkah paling efektif adalah meningkatkan kesadaran masyarakat melalui skrining tekanan darah, kolesterol, dan glukosuria di tingkat Puskesmas sebelum penyakit berkembang menjadi lebih berat.
Selain pencegahan, Indonesia juga tetap menghadapi keterbatasan jumlah master ahli jantung. Saat ini jumlah master jantung diperkirakan baru mendekati 2.000 orang, sementara kebutuhan ideal mencapai sekitar 2.800 hingga 3.000 dokter, alias rasio satu master jantung untuk setiap 100 ribu penduduk.
Meski demikian, Iwan optimistis kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dalam dua tahun ke depan melalui percepatan pendidikan master ahli berbasis rumah sakit (hospital based).
Ia juga menepis dugaan bahwa kualitas jasa jantung di Indonesia kalah dibanding negara tetangga. Menurutnya, keahlian master maupun teknologi nan dimiliki rumah sakit di Indonesia sudah sangat kompetitif, apalagi dalam beberapa aspek lebih maju dibanding negara lain. "Peralatannya sebagian justru lebih canggih. nan perlu terus diperbaiki mungkin komunikasi dan pelayanan kepada pasien," katanya. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·