Yuan Makin Populer di Tengah Perang di Iran, Dinilai Mulai Bisa Saingi Dolar AS

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Mata duit China Yuan Foto: Reuters/Thomas White

Perang nan terjadi di Iran kembali menghidupkan wacana penggunaan yuan China dalam perdagangan minyak dunia alias nan dikenal sebagai 'Petroyuan'. Perang itu dinilai memicu optimisme baru mata duit China untuk menyaingi kekuasaan dolar AS dalam transaksi energi.

Mengutip Bloomberg, Selasa (14/4), meski tetap jauh tertinggal dibanding dolar AS dalam perdagangan internasional, permintaan yuan meningkat setelah Iran menutup Selat Hormuz dan mulai menerima pembayaran dalam mata duit China untuk menjamin keamanan pelayaran kapal kargo.

Di saat nan sama, AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump justru memperketat tekanan dengan memblokade pelabuhan Iran usai gagalnya perundingan damai.

Petroyuan merupakan konsep nan didorong Presiden Xi Jinping saat kunjungannya ke Timur Tengah pada 2022, meski kurang berhasil.

Seiring bentrok memanas, volume perdagangan minyak dalam denominasi yuan dilaporkan meningkat. Sistem pembayaran lintas pemisah China (CIPS) apalagi mencatat rekor transaksi harian hingga 1,22 triliun yuan, menandakan semakin aktifnya penggunaan mata duit tersebut di pasar global.

Sejumlah analis menilai perang ini bisa menjadi titik awal melemahnya kekuasaan petrodolar. China dinilai mempunyai fondasi nan semakin kuat, terutama lantaran hubungan ekonominya dengan negara-negara Timur Tengah terus diperluas, termasuk lewat pengembangan pasar minyak berjangka di Shanghai.

Berdasarkan info resmi, pembayaran dan penerimaan dalam yuan antara China dan Timur Tengah mencapai 1,1 triliun yuan pada 2024, meningkat dengan laju tahunan 53 persen sejak 2020. Sebagian besar transaksi tersebut melibatkan sekuritas, bukan barang, nan hanya mencakup 18 persen dari total.

Meski begitu, para analis menilai penggunaan yuan dalam perdagangan minyak belum bakal menggantikan dolar dalam waktu dekat. Dolar AS tetap menjadi mata duit utama dalam sekitar 20 persen perdagangan global, terutama di sektor energi.

Selain itu, beragam tantangan tetap membayangi ambisi China. Yuan belum sepenuhnya bebas diperdagangkan, sementara pasar finansial China juga tetap relatif tertutup dibandingkan dengan AS.

“Konsep petroyuan tetap merupakan kesempatan mini dalam meningkatkan peran yuan dalam pembayaran global. Bahkan jika beberapa transaksi minyak dilakukan dalam yuan untuk menghindari sanksi, perihal itu mini kemungkinan menjadi perubahan besar dalam lanskap mata duit global,” kata guru besar di Cornell University, Eswar Prasad, dikutip dari Bloomberg.

Dalam penyelesaian perdagangan komoditas global, Zhu Zhaoyi, dari Peking University memperkirakan porsi dolar AS bakal turun menjadi sekitar 70 persen dari saat ini 80 persen dalam lima tahun ke depan. Sementara itu, porsi yuan bisa meningkat dari 4 persen sampai 5 persen menjadi 8 persen sampai 10 persen.

Salah satu aspek utama nan memperlambat proses ini adalah keengganan Beijing untuk membuka arus keluar-masuk modal secara bebas. Otoritas tetap mengendalikan yuan dan hanya mengizinkan pertumbuhan terbatas dalam perdagangan luar negeri. Likuiditas yuan offshore sekitar 1,6 triliun yuan per Maret tahun lalu, lebih mini dibanding lebih dari USD 15 triliun aset dolar offshore.

Dang Dolar AS. Foto: Antara/Puspa Perwitasari

Meski begitu, China dinilai mempunyai posisi nan semakin kuat untuk masa depan, terutama lantaran penanganan bentrok oleh Trump memunculkan pertanyaan tentang komitmen AS terhadap sekutu lamanya, nan dalam jangka panjang dapat mengurangi daya tarik dolar. Yuan apalagi mengungguli mata duit Asia lainnya dan negara G10 sejak perang pecah.

Di dalam negeri China, semakin banyak pihak nan memandang kondisi dunia sekarang lebih mendukung internasionalisasi yuan. Mantan Gubernur Bank Sentral China Zhou Xiaochuan menyebut ini sebagai jendela emas untuk mendorong yuan menjadi mata duit global, dan meminta kreator kebijakan memanfaatkan momentum tersebut.

Sejauh ini, ekspansi penggunaan yuan dalam perdagangan komoditas banyak dipimpin oleh negara nan terkena sanksi. Hampir seluruh perdagangan bilateral antara Rusia dan China diselesaikan dalam yuan alias rubel, termasuk impor bahan bakar fosil China senilai 563 miliar yuan.

Namun sebagian besar kemajuan tetap terbatas pada penyelesaian transaksi perseorangan dalam yuan, belum sampai pada perubahan patokan nilai minyak dunia nan menjadi syarat utama petroyuan. Kontrak berjangka minyak dalam yuan nan dimulai pada 2018 di Shanghai tetap jauh lebih mini volumenya dibanding perjanjian WTI.

Bagi China, ini adalah strategi jangka panjang tanpa tenggat waktu. Sejarah menunjukkan kekuasaan mata duit dunia memerlukan waktu lama untuk berubah. Meskipun ekonomi Inggris sudah lebih mini dari AS sejak 1900, pound sterling tetap dominan hingga 1940-an.

China terus mendorong penggunaan yuan dalam perdagangan sembari membangun prasarana pembayaran nan diperlukan. Pada 2023, China untuk pertama kalinya menyelesaikan impor LNG dalam yuan melalui bursa Shanghai, termasuk pasokan dari Uni Emirat Arab.

Tahun tersebut juga mencatat transaksi minyak lintas pemisah pertama dalam yuan digital. Tahun lalu, First Abu Dhabi Bank menjadi peserta langsung pertama dari Timur Tengah dalam sistem CIPS.

“Sebelum bentrok Iran, beberapa negara Teluk sudah merasa perlu memperluas diplomasi ekonomi dengan menjajaki perdagangan non-dolar. Jika bentrok Iran memperkuat dorongan ini, lebih banyak negara Teluk mungkin bakal semakin menerima petroyuan seiring waktu,” kata Charles Chang dari S&P Global Ratings.

video story embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan