Wall Street Variatif, Investor Berharap Negosiasi AS dan Iran Ada Titik Temu

Sedang Trending 5 hari yang lalu
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Indeks saham utama Amerika Serikat alias Wall Street bervariatif pada penutupan perdagangan Rabu (15/4). Pergerakan Wall Street didorong optimisme penanammodal terhadap keahlian untung perusahaan dan angan kemajuan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip Reuters, Indeks S&P 500 (.SPX) naik 55,57 poin alias 0,80 persen menjadi 7.022,95. Nasdaq Composite (.IXIC) naik 376,93 poin alias 1,60 persen persen menjadi 24.016,02. Nasdaq juga membukukan kenaikan beruntun selama 11 sesi untuk pertama kalinya sejak November 2021. Indeks Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 72,27 poin alias 0,15 persen, menjadi 48.463,72.

Nasdaq juga mencatatkan rekor penutupan untuk pertama kalinya sejak 29 Oktober, sekaligus sempat menyentuh level tertinggi intraday. Penguatan ini ditopang reli saham perangkat lunak dan sektor teknologi secara luas, hanya 13 hari perdagangan setelah indeks tersebut sempat masuk fase koreksi akibat kekhawatiran bentrok di Timur Tengah.

Sentimen positif pasar turut didorong angan bahwa Washington dan Teheran dapat kembali ke meja perundingan guna meredakan konflik. Perang nan berjalan sebelumnya telah memicu gangguan di pasar minyak global, meningkatkan kekhawatiran inflasi, serta menambah ketidakpastian arah suku bunga.

Dari sisi kebijakan, Gedung Putih mengatakan pembicaraan lanjutan dengan Iran tetap berjalan dan dinilai produktif. Namun, laporan mengenai permintaan gencatan senjata dibantah. Di sisi lain, Departemen Keuangan AS tetap menjatuhkan hukuman terhadap sejumlah individu, perusahaan, dan kapal nan mengenai dengan prasarana transportasi minyak Iran.

Sepanjang perdagangan, S&P 500 sempat mencetak rekor intraday pertamanya sejak bentrok memanas, sebelum akhirnya ditutup di level tertinggi baru. Sebelumnya pada Maret, indeks ini sempat terkoreksi hingga 9 persen dari rekor penutupan pada akhir Januari.

Pelaku pasar menilai esensial ekonomi AS tetap cukup kuat. CEO Falcon Wealth Planning, Gabriel Shahin, mengatakan koreksi pasar sebelumnya lebih berkarakter teknikal dan bukan disebabkan pelemahan mendasar ekonomi.

"Jika kita mengesampingkan buletin utama, tidak ada nan salah secara mendasar dengan upaya kita alias perekonomian secara luas. Investor memandang ketahanan S&P dan menyadari bahwa mesinnya tetap melangkah dengan lancar,” katanya, dikutip dari Reuters, Kamis (16/4).

Kepala Strategi Ekonomi dan Pasar di ClearBridge Investments, Jeff Schulze, mengatakan penguatan pasar didorong kombinasi awal musim laporan finansial nan solid dan angan meredanya tensi geopolitik. Menurutnya, pasar condong bergerak lebih dulu sebelum kepastian betul-betul terbentuk.

"Pasar jarang menunggu info menjadi lengkap. Meskipun tetap ada ketidakpastian di luar sana mengenai gangguan energi, pasar dengan tepat menilai bahwa risikonya menurun dan jalur nan paling mudah adalah naik,” ujarnya.

Saham Bank of America (.BAC.N) naik 1,8 persen setelah pemberi pinjaman terbesar kedua di AS melaporkan pertumbuhan untung kuartal pertama. Sementara saham raksasa Wall Street Morgan Stanley (.MSN) naik 4,5 persen setelah melaporkan lonjakan untung kuartalan, perihal ini membantu mendongkrak indeks finansial S&P 500 (.SPSY), nan berhujung naik 0,8 persen.

Indeks volatilitas CBOE (.VIX) berhujung turun 0,19 poin setelah mencapai level terendah sejak 26 Februari. Kemudian di antara 11 sektor industri utama S&P 500, indeks teknologi info S&P 500 (.SPLRCT) mengalami kenaikan terbesar memimpin dengan reli 2,08 persen.

Salah satu dorongan besar datang dari saham-saham perangkat lunak, dengan indeks perangkat lunak dan jasa S&P 500 (.SPLRCIS) naik 4,3 persen, hari ketiga berturut-turut mengalami kenaikan.

Saham (.SPLRCM), turun 1,3 persen, dan Industrials (.SPLRCI), dengan penurunan sebesar 1,24 persen, merupakan sektor nan mengalami kerugian terbesar.

Namun, dengan nilai minyak nan tetap jauh di atas level sebelum perang dan tanpa kepastian mengenai penyelesaian perang di Timur Tengah, beberapa mahir strategi memperingatkan katalis baru mungkin diperlukan untuk mempertahankan momentum pasar.

Sebelumnya, Presiden Bank Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, mengatakan meskipun dia tidak memandang kebutuhan mendesak bagi bank sentral untuk mengubah penetapan sasaran suku bunga, ada kemungkinan pemotongan alias apalagi kenaikan suku kembang bakal terjadi di masa mendatang.

Di tempat lain di pasar, saham komputasi kuantum telah mengalami kenaikan sejak sebelum pasar dibuka. Rigetti Computing (RGTI.O) mengakhiri sesi dengan kenaikan lebih dari 13 persen sementara D-Wave Quantum (QBTS.N) Argit Quantum (ARGQ.O) ditutup naik 22,6 persen, meningkat lebih dari 16 persen.

Di antara saham-saham lain nan mengalami pergerakan signifikan, Broadcom (AVGO.O) Naik 4,2 persen setelah Meta (META. Ο) memperpanjang kesepakatan chip kustomnya dengan perusahaan tersebut.

Saham Snap (SNAP.N) naik 7,9 persen setelah perusahaan tersebut mengatakan bakal melakukan PHK terhadap sekitar 1.000 karyawan, sementara produsen dasar kaki Allbirds (BIRD.Q) saham ditutup naik 582 persen setelah pengumuman bahwa perusahaan bakal beranjak konsentrasi ke prasarana Al.

Jumlah saham nan naik melampaui jumlah saham nan turun dengan rasio 1,2 banding 1 di NYSE, di mana terdapat 271 saham nan mencapai nilai tertinggi baru dan 46 saham nan mencapai nilai terendah baru.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan