Jakarta, CNBC Indonesia - Tensi panas di Timur Tengah kembali membara setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim bahwa pihaknya mempunyai kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur krusial bagi pasokan daya dunia. Pernyataan ini muncul di tengah tindakan berani komando Iran nan menyita dua kapal kontainer di wilayah tersebut.
Mengutip laporan dari The Guardian, pada Kamis, (23/04/2026), Donald Trump menyatakan bahwa kepemimpinan Iran saat ini sedang goyah akibat pertikaian internal sehingga tidak jelas siapa nan sebenarnya memegang kendali di Teheran. Namun, klaim Trump ini dinilai meragukan mengingat militer Iran tetap bisa melakukan penyitaan kapal dan adanya ancaman ranjau laut nan bisa melumpuhkan jalur pelayaran selama berbulan-bulan.
"Kami mempunyai kendali total atas Selat Hormuz. Tidak ada kapal nan bisa masuk alias keluar tanpa persetujuan Angkatan Laut Amerika Serikat. Wilayah itu 'Terselubung Rapat', sampai Iran bisa membikin KESEPAKATAN!!!" kata Trump dalam unggahannya di media sosial Truth Social.
Komentar Trump tersebut terlontar setelah pasukan unik AS menghadang sebuah kapal tanker minyak tanpa kebangsaan di Samudra Hindia nan dituduh Pentagon membawa minyak mentah Iran.
Operasi militer ini berjalan hanya beberapa jam setelah Iran menyita dua kapal kontainer, nan membikin kedua belah pihak sekarang saling menerapkan blokade di selat tersebut hingga mengerek nilai minyak bumi ke level US$100 per barel.
Dampak dari blokade dobel ini semakin diperparah dengan keberadaan ranjau laut. Dalam sebuah pengarahan kepada Kongres, Pentagon memperingatkan bahwa pembersihan ranjau dari rute laut tersebut bisa menyantap waktu hingga enam bulan, sebagaimana dilaporkan oleh Washington Post.
"Laporan tersebut tidak akurat," ujar ahli bicara Pentagon menanggapi laporan lama pembersihan ranjau itu, meskipun dia tidak memberikan keberatan secara spesifik.
Trump sendiri mengeklaim bahwa kapal penyapu ranjau AS sedang bekerja dengan kecepatan tiga kali lipat. Ia juga menegaskan telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk bertindak tegas terhadap siapapun nan mencoba menyabotase jalur air tersebut.
"Saya telah memerintahkan Angkatan Laut untuk menembak dan membunuh kapal apa pun nan memasang ranjau di jalur air. Tidak boleh ada keraguan sama sekali," tegas Trump.
Krisis ini memicu kekhawatiran dunia terhadap stabilitas pasokan energi. Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol, memperingatkan bahwa situasi saat ini merupakan ancaman paling serius bagi ketahanan daya global.
"Dunia saat ini sedang menghadapi ancaman keamanan daya terbesar dalam sejarah," ungkap Birol dalam sebuah wawancara dengan CNBC.
Di sisi lain, Trump juga mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata dengan golongan Hizbullah selama tiga minggu. Meski demikian, pertempuran mini tetap terjadi, termasuk serangan Israel nan menewaskan wartawan Lebanon, Amal Khalil, pada hari Rabu sebelumnya.
Ketika ditanya mengenai seberapa lama dia bakal menunggu kesepakatan tenteram dengan Iran, Trump menanggapi dengan santuy namun penuh ancaman terhadap kekuatan militer Iran nan diklaimnya sudah hancur.
"Jangan buru-buru saya. Angkatan Laut mereka sudah hilang. Angkatan Udara mereka hilang, pertahanan anti-pesawat mereka hilang... mungkin mereka mengisi kembali sedikit selama jarak dua minggu, tapi kami bakal menghancurkannya dalam waktu sekitar satu hari jika mereka melakukannya," tambah Trump.
Trump menegaskan bahwa dia tidak mau terburu-buru melakukan negosiasi singkat lantaran dia menginginkan hasil nan permanen bagi stabilitas kawasan.
"Saya mau membikin kesepakatan terbaik. Saya bisa saja membikin kesepakatan sekarang... tapi saya tidak mau melakukan itu. Saya mau kesepakatan itu abadi," jelas Trump.
Hingga saat ini, Iran tetap menolak untuk menghadiri pembicaraan tenteram di Pakistan. Trump menuding penolakan ini disebabkan oleh ketidakharmonisan di internal pemerintahan Teheran antara golongan garis keras dan moderat dalam menentukan strategi negosiasi.
"Iran sedang mengalami kesulitan besar untuk mencari tahu siapa pemimpin mereka!" ujar Trump.
Kondisi kepemimpinan Iran memang menjadi sorotan setelah Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei dilaporkan terluka parah dalam serangan campuran AS-Israel pada Februari lalu. Mengutip New York Times, meskipun terluka, Khamenei disebut tetap mempunyai ketajaman mental meski kudu menjalani serangkaian operasi medis.
"Satu kakinya dioperasi tiga kali dan dia menunggu prostetik. Dia menjalani operasi pada satu tangan dan perlahan-lahan fungsinya kembali. Wajah dan bibirnya terbakar parah, membuatnya susah berbicara, dan akhirnya dia bakal memerlukan operasi plastik," lapor surat berita tersebut mengutip pejabat Iran.
Sementara itu, pihak Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran berkilah bahwa penyitaan terhadap dua kapal, ialah Epaminondas milik Yunani dan MSC Francesca nan berbendera Panama, dilakukan lantaran adanya pelanggaran keamanan maritim.
"Dua kapal tersebut membahayakan keamanan maritim dengan beraksi tanpa izin nan diperlukan dan merusak sistem navigasi," sebut pernyataan resmi angkatan laut IRGC.
(tps/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·