Kita berambisi perang nan terjadi antara Amerika dan sekutunya dengan Iran segera berakhir. Perang menimbulkan guncangan di beragam sektor, terutama sektor ekonomi bagi banyak negara. Ancaman krisis ekonomi di depan mata.
Banyak negara mulai menyusun strategi untuk menyelamatkan negaranya dari ancaman krisis, apalagi tergoda dengan rayuan Trump untuk berasosiasi dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace) bentukannya.
Di tengah situasi ini, Paus Leo XIV bersuara sangat tajam dengan mengutuk peperangan nan terjadi. Pada saat seremoni Minggu Palma, Paus mengecam dengan mengatakan “Ia [Tuhan] tidak mendengar angan dari mereka nan melancarkan perang, tetapi menolaknya dengan mengatakan, "Walau Anda banyak berdoa, Aku tidak bakal mendengarnya: tanganmu berlumur darah." Reaksi nan sangat keras dilancarkan Trump sebagai jawaban atas pernyataan Paus itu.
Paus sebagai pemimpin negara Vatikan dan pemimpin spiritual umat Katolik dengan berani mengkritik Trump sebagai pemimpin negara adidaya. Paus tetap mau menjadi bunyi moral bumi (moral voice of the world) sekalipun dia berasal dari Amerika. Ia mau menunjukkan bahwa kemanusiaan sebagai perihal nan paling utama. Bahkan dengan menohok, Paus mengatakan, “Saya tidak takut Trump” (CNN Indonesia, 03 April 2026).
Kekuasaan dan Moralitas
Trump selalu menggaungkan slogannya “American First”. Slogan ini menunjukkan bahwa Amerika mau mengatur segala aspek di dunia. Trump sadar bahwa Amerika bukan lagi satu-satunya negara adikuasa nan bisa seenaknya mengatur negara lain.
Kebangkitan negara seperti Tiongkok, Rusia, dan Uni Eropa menjadi ancaman untuk Trump. nan tidak disadari Trump adalah negara-negara lain mulai gerah dengan caranya menggunakan kekuasaan. Ia tidak segan menakut-nakuti negara-negara berkembang demi kepentingan kekuasaannya (muc.co.id, 20 Januari 2026).
Immanuel Kant tidak memandang kekuasaan hanya sebagai keahlian untuk memaksakan kehendak, tetapi sebagai sesuatu nan kudu tunduk pada norma moral nan bertindak secara universal. Kekuasaan tidak boleh digunakan hanya lantaran kepentingan alias hasil tertentu, tetapi kudu didasarkan pada prinsip-prinsip nan bisa diterapkan secara umum dan rasional.
Prinsip utama Kant adalah bahwa manusia kudu dihormati sebagai tujuan nan penting, bukan hanya sebagai perangkat untuk tujuan orang lain. Ini adalah kritik nan tajam terhadap langkah penguasaan kekuasaan nan sering kali menggunakan manusia sebagai perangkat untuk mencapai tujuan tertentu, seperti tujuan politik, ekonomi, alias ideologi.
Dalam beragam sistem pemerintahan, orang-orang sering dianggap sebagai angka, alat, alias apalagi korban hanya demi kestabilan alias kemajuan. Bagi Kant, langkah seperti ini tidak hanya tidak baik secara moral, tetapi juga merusak dasar kehidupan manusia itu sendiri.
Jika memandang pemikiran Kant, langkah Trump mempertahankan kekuasaan bertentangan dengan moralitas. Sudah sepatutnya kita berterima kasih kasih kepada Paus nan tetap menjalankan perannya sebagai penjaga moral dunia. Paus mau kekuasaan nan sah adalah kekuasaan nan dijalankan berasas tanggungjawab moral, bukan semata-mata untuk mempertahankan kekuasaan alias mencapai tujuan pragmatis.
Pertaruhan Global
Dalam beragam kesempatan, Paus Leo XIV mengemukakan bahwa perdamaian tidak bisa dibangun dengan menakut-nakuti alias mendominasi, tetapi kudu melalui komunikasi nan jujur dan tanggung jawab.
Pernyataannya nan kuat—“Stabilitas dan perdamaian hanya bisa dicapai melalui perbincangan nan masuk akal, tulus, dan bertanggung jawab”—menjadi seperti petunjuk moral bagi bumi nan semakin terpecah belah. Seruan ini mengingatkan kita pada tradisi lama Gereja dalam mengajarkan nilai-nilai sosial nan menjunjung tinggi martabat manusia dan rasa solidaritas sebagai landasan untuk hidup bersama.
Paus Leo XIV mengingatkan bahwa setiap keputusan politik mempunyai akibat etis. Perang bukan hanya tentang strategi dan menang, melainkan juga tentang penderitaan rakyat nan tiada habisnya. Anak-anak nan kehilangan angan masa depan, family nan hancur berantakan, dan generasi nan tetap merasa trauma adalah akibat nan kudu diterima.
Dialog nan jujur bisa membuka langkah baru untuk mencari solusi nan lebih baik dan bisa dipertahankan. Dialog bukan berfaedah kelemahan, melainkan sebagai keberanian untuk mengakui bahwa tidak ada pihak nan punya semua jawaban. Dialog menggambarkan sikap rendah hati dan penghargaan terhadap martabat orang lain, meskipun terdapat perbedaan nan sangat jauh.
Pertaruhan dunia sekarang bukan hanya soal siapa nan menang dalam suatu konflik, melainkan juga tentang jenis bumi apa nan mau kita ciptakan.
Dalam situasi ini, peran seorang pemimpin sangat penting. Pemimpin tidak hanya wajib melindungi kepentingan negara, tetapi juga kudu memperhatikan dampaknya terhadap bumi secara keseluruhan. Kepemimpinan nan bertanggung jawab adalah langkah memimpin nan bisa menjaga kepentingan negara sekaligus memenuhi tanggungjawab moral terhadap dunia.
Babak Akhir: Pilihan Ada di Tangan Kita
Di tengah bentrok dunia nan terus berlangsung, kita mendengar dua pendapat nan berasal dari bumi nan berbeda—suara nan tidak hanya mencerminkan perbedaan kepentingan, tetapi juga perbedaan langkah memandang nilai kemanusiaan. Di satu pihak, ada bunyi nan meminta berdialog, berpikir jernih, dan bertanggung jawab secara moral; di pihak lain, terdengar bunyi kekuatan, dominasi, dan pendekatan nan keras dengan mengandalkan tekanan serta ancaman.
Suara dari kedua bumi ini bisa kita lihat melalui perbedaan antara pemimpin spiritual seperti Paus Leo XIV nan membujuk perbincangan jujur dan perdamaian, dengan tokoh politik seperti Donald Trump nan biasanya menggunakan pendekatan keras dan konfrontatif dalam menangani bentrok internasional. Kedua bunyi itu tidak hanya berbeda dalam strategi, tetapi juga berbeda dalam mengerti makna kekuatan dan tujuan akhir dari kekuasaan tersebut.
Di kembali perbedaan itu, tersimpan pertaruhan besar: masa depan perdamaian dunia. Sejarah menunjukkan bahwa keputusan nan diambil saat menghadapi krisis tidak hanya memengaruhi orang-orang saat ini, tetapi juga menentukan masa depan peradaban manusia. Membuka ruang untuk perbincangan bisa jadi awal untuk memperbaiki hubungan, sedangkan memperkeras perbedaan bisa membikin penderitaan bersambung dan luka-luka nan terjadi semakin dalam.
Babak akhir ini adalah milik kita bersama. Dan seperti semua babak krusial dalam sejarah manusia, dia menuntut satu perihal nan paling mendasar: pilihan.
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·