PT Pertamina (Persero) mulai memperluas sumber bahan baku daya baru terbarukan (EBT) selain minyak sawit. Sejumlah pengganti seperti tebu, molase, hingga sorgum mulai dilirik sebagai bagian dari strategi diversifikasi daya nasional.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Pertamina dalam mendorong transisi daya sekaligus menjaga ketahanan daya nasional di tengah ketidakpastian global. Selama ini, pengembangan bioenergi di Indonesia identik dengan pemanfaatan crude palm oil (CPO). Namun, perusahaan pelat merah tersebut sekarang mulai membuka opsi bahan baku lain nan dinilai lebih beragam dan berkelanjutan.
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menjelaskan bahwa pengembangan daya berbasis nabati saat ini tidak lagi terbatas pada sawit. Pertamina telah menjajaki beragam sumber pengganti nan dapat digunakan sebagai campuran bahan bakar fosil.
“Jadi selain sawit juga kita kan sudah mulai melirik tebu ya untuk molase. Kita ada untuk bioetanol di sana di Glenmore ya,” ujar Arya kepada wartawan di Oil Building Center, Kamis (16/4).
Ia menambahkan, pemanfaatan tebu melalui produk turunan seperti molase berpotensi dikembangkan menjadi bioetanol nan dapat dicampurkan ke dalam bahan bakar jenis bensin. Skema ini apalagi telah mulai diterapkan dalam skala awal.
“Itu sedang kita ini juga, dan itu dari tebu juga bisa kelak untuk gasoline itu. E5, 5 persen dan lain-lain. Kan sekarang sudah kita gunakan di Pertamina Green ya,” lanjutnya.
Tak hanya tebu, Pertamina juga tengah mengeksplorasi beragam sumber nabati lain, termasuk tanaman non-pangan. Upaya ini dilakukan melalui kegunaan riset dan penemuan internal perusahaan guna mencari komposisi daya nan optimal antara bahan bakar fosil dan daya terbarukan.
“Jadi semua sumber-sumber nabati itu sekarang memang sedang diteliti sebagai bahan sumber untuk pencampuran dengan fossil fuel ya. Dan ini sudah berjalan, ada molase tadi, ada sawit, kemudian kelak ada juga sorgum dan lain-lain gitu,” jelas Arya.
Meski demikian, Pertamina menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan daya dan ketahanan pangan. Penggunaan bahan baku nabati untuk daya tidak boleh mengganggu kesiapan bahan pangan masyarakat.
“Tapi kita tentu kudu balance antara mana nan food grade, mana nan fuel grade kan. Nah ini juga perlu support pemerintah,” kata Arya.
Diversifikasi bahan baku ini juga sejalan dengan strategi jangka panjang Pertamina nan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi daya fosil, tetapi juga mengembangkan daya masa depan nan lebih ramah lingkungan. Pendekatan ini dinilai krusial agar transisi daya dapat melangkah secara berjenjang tanpa mengganggu stabilitas pasokan daya nasional.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·