TPS3R Dekat SLB di Bantul Dilaporkan ke ORI, Diduga Sebabkan Siswa Alami ISPA

Sedang Trending 1 jam yang lalu
SLB Negeri 2 Bantul melaporkan operasional sebuah TPS3R di sekitar sekolah mereka ke ORI DIY lantaran diduga telah mencemarkan lingkungan hingga mengganggu kesehatan siswa. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Sebuah Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Sewon, Bantul, dilaporkan penduduk berbareng Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 2 Bantul ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (20/4).

Laporan ini muncul setelah aroma menyengat dari aktivitas pengolahan sampah dirasakan setidaknya dalam satu tahun terakhir.

Direktur Eksekutif Ide dan Analitika Indonesia (IDEA), Ahmad Hedar, mengatakan para siswa mengalami gangguan pernapasan akibat asap pembakaran sampah. Ia menyebut jarak TPS3R nan hanya sekitar 50–75 meter dari sekolah membikin sirkulasi udara terganggu.

“Sudah muncul indikasi penyakit pernafasan seperti ISPA dan asma. Tahun 2025 nyaris setiap hari residu dari pembakaran sampah itu masuk ke dalam lingkungan sekolah,” kata Hedar di Kantor ORI DIY, Senin (20/4).

Ia menambahkan, aktivitas belajar di sekolah turut terdampak lantaran aroma sampah nan masuk ke ruang kelas.

“Sekolah kudu menutup jendela rapat-rapat, ruangan tata boga untuk pengolahan makanan sudah tidak bisa dipakai,” ujarnya.

Selain itu, pihak pelapor juga menduga terjadi pencemaran sumber air di sekitar lokasi. Hedar mengatakan penduduk terpaksa membeli air bersih lantaran sumber air nan ada tidak lagi layak digunakan.

“Sudah ada dugaan pencemaran sumber air bersih, sumber-sumber air bersih sudah sangat bau, tidak bisa dipakai sehingga penduduk kudu membeli untuk mencukupi kebutuhan air,” kata Hedar.

Ia juga mempersoalkan proses pendirian TPS3R nan dinilai tidak melalui sosialisasi nan memadai kepada penduduk sekitar.

“Kami menyoroti tata kelola pembangunan, ini prosesnya terkesan tertutup lantaran tiba-tiba pasca penutupan TPA Piyungan itu muncul TPS3R dan itu tidak ada proses sosialisasi,” ujarnya.

Laporan ini diajukan oleh SLB Negeri 2 Bantul nan mempunyai 132 siswa, sejumlah guru, serta tiga kepala family nan tinggal di sekitar lokasi.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Prasarana, Sudarmana, mengatakan keluhan sudah dirasakan sejak sebelum TPS3R beroperasi, namun kondisi memburuk sejak 2025.

“Keluhan kami sudah dirasakan sejak TPA Piyungan ditutup. Sejak ditutup, tempat pembuangan sampah sebelum jadi TPS3R di seberang kami sudah beraktivitas. Terjadi penumpukan terus menerus, pembakaran terus menerus,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Keasistenan Pemeriksaan Verifikasi Laporan ORI DIY, Mohammad Bagus Sasmita, mengatakan pihaknya bakal menindaklanjuti laporan tersebut dengan meminta keterangan dari pihak terkait.

“Dalam minggu ini, 1-3 hari jika kami perlu kami cek di lapangan untuk mengetahui kondisi lapangan setelah itu kami penjelasan bakal meminta keterangan pihak terkait,” kata Bagus.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan