SBY Kenang Atasi Krisis Tsunami Aceh-Ekonomi 2008: Saya Tak Boleh Gamang

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri FPCI "Supermentor" di The St. Regis, Jakarta, Selasa (14/4/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan refleksi mendalam mengenai pengalamannya dalam menghadapi beragam krisis berskala nasional dan dunia selama masa kepemimpinannya. Dia mengatakan selama 10 tahun memimpin RI, banyak krisis nan kudu diatasi.

​SBY menyebut bahwa memimpin negara di masa krisis merupakan ujian sejarah nan berat, sehingga mengharuskan seorang pemimpin untuk berani mengambil keputusan susah dan pantang menunjukkan kegamangan.

Pernyataan tersebut disampaikan SBY dalam aktivitas "Supermentor 28" nan digelar oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, Selasa (14/4) malam.

SBY berkesempatan membedah beragam krisis sejarah secara lengkap, mulai dari hancurnya Aceh akibat Tsunami, proses tenteram Helsinki, kebuntuan suasana di Bali, krisis ekonomi 2008, hingga penyanderaan di Somalia.

​"Maka sejak day 1, hari pertama sudah kita jalankan manajemen krisis. nan saya lakukan adalah crisis action leadership. Langsung di lapangan. Saya ambil alih lantaran pemerintahan wilayah lumpuh," ujar SBY mengenang Tsunami Aceh 2004.

​SBY menekankan bahwa di tengah situasi nan luluh lantak dan tekanan jiwa nan luar biasa, seorang pemimpin kudu tetap tegar menjadi jangkar ketenangan bagi rakyatnya.

​"Saya pemimpin. Saya tidak boleh cengeng, saya tidak boleh takut, saya tidak boleh gamang. In times of crisis, pemimpin kudu menjadi contoh, menunjukkan arah, memberikan ketenangan," lanjutnya.

​Di tengah duka tersebut, SBY juga mengambil langkah berani untuk menghentikan bentrok bersenjata dengan GAM demi kemanusiaan.

​"Saya langsung mengambil keputusan, kita hentikan operasi militer tanpa kudu minta persetujuan pihak GAM waktu itu. Saya ambil akibat itu, saya bisa salah. Ternyata pihak GAM juga menghentikan operasinya," ungkap SBY membedah jalan menuju Perjanjian Helsinki.

Terkait perundingan di tingkat global, SBY membagikan kisah saat menyelamatkan Konferensi Iklim PBB di Bali (2007) nan nyaris gagal.

​"Akhirnya baik Sekjen Ban Ki-moon maupun saya bicara hanya 3 menit. Three-minute speech. Dengan tampilnya kami berdua membawa harapan, akhirnya mereka antusias lagi, dan kita lahirkan Bali Roadmap," kenangnya.

Foto kolase Masjid Rahmatullah Lampuuk tetap berdiri sementara gedung di sekitarnya hancur (kiri) dan kondisi sekarang dengan gedung rumah nan sudah dibangun di sekitar Masjid Rahmatullah Lhoknga, Aceh Besar, Aceh (kanan). Foto: ANTARA FOTO

​SBY kemudian beranjak pada pengalamannya saat kudu menempuh kebijakan nan tidak terkenal demi menyelamatkan negara ketika krisis finansial 2008 melanda.

​"Menaikkan bahan bakar, itu juga very painful, difficult. Tapi kudu saya ambil. Sebab jika tidak dinaikkan bahan bakar waktu itu, ekonomi kita kolaps," tegas SBY.

​Ia memastikan bahwa setiap kebijakan berisiko di masa krisis kudu diimbangi dengan jaring pengaman konkret bagi rakyat kecil.

​"Keputusan saya ambil, tetapi nan miskin, nan tidak bisa kita berikan bantuan, cash transfer. Akhirnya ekonomi kita selamat," tambahnya.

​Cerita kepemimpinan tersebut ditutup dengan keberhasilan SBY mengerahkan operasi militer jarak jauh sejauh 7.000 mil untuk membebaskan sandera kapal Sinar Kudus di perairan Somalia pada 2011.

​"Saya mengambil risiko. Itu bisa gagal, pekerjaan politik saya finish. Tapi saya mengkalkulasikan, ini kedaulatan kita, kita jaga. Harus kita selamatkan penduduk negara kita, kita selamatkan kapal kita," tegasnya.

​Melalui seluruh rentetan krisis tersebut, SBY berambisi generasi muda dapat memetik pelajaran bahwa keberhasilan selalu datang dari kalkulasi nan matang.

​"Jadi selalu ada risiko, selalu ada hal-hal nan barangkali muncul tanpa kita perkirakan. Tetapi jika itu sudah kita kalkulasikan dengan baik, dengan tujuan nan jelas, pasti lebih banyak berhasilnya," pungkas SBY.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan