Rupiah Melemah ke Level Rp 17.127 per Dolar AS, Apindo: Importir Tertekan

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Petugas menghitung duit pecahan dolar AS di Bank Mandiri, Jakarta, Jumat (11/10/2024). Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa (14/4). Berdasarkan info Bloomberg, rupiah turun 22 poin alias 0,13 persen ke level Rp 17.127 per dolar Amerika Serikat (USD).

Pelemahan ini dinilai mulai berakibat ke bumi usaha. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, mengatakan kondisi kurs saat ini memberikan pengaruh berbeda bagi pelaku usaha, terutama antara importir dan eksportir.

"Ya pastilah, ya kan. Tapi kan kayak begitu, nan importir bakal tertekan, nan eksportir ya happy gitu loh dengan Rp 17.000, ya. Tapi kita kudu antisipasilah segala corak kemungkinan,” kata Bob kepada wartawan di Kompleks Parlemen RI, Selasa (14/4).

Menurut Bob, rupiah nan melemah sebenarnya bisa menjadi kesempatan untuk menarik investasi, khususnya nan berorientasi ekspor. Nilai tukar nan lebih rendah dinilai membikin Indonesia lebih kompetitif di mata penanammodal global.

Namun, dia mengingatkan agar kondisi ini tidak justru meningkatkan biaya produksi di dalam negeri, terutama jika tetap banyak komponen biaya nan menggunakan dolar AS.

"Justru saya mendengar dengan rupiah nan melemah ini, kita menjadi atraktif untuk investasi masuk, terutama nan orientasi ekspor. Karena rupiah lemah. Cuma jangan sampai rupiah lemah ini justru membikin ongkos mahal, ya kan,” ungkapnya.

Dia menyoroti tetap adanya penggunaan dolar dalam sejumlah jasa domestik, seperti di pelabuhan, nan dinilai bisa membebani pelaku upaya saat rupiah melemah.

"Misalnya pelabuhan tetap pakai USD gitu loh, ya kan. Kita sudah pakai rupiah, nan lain-lain tetap pakai dolar gitu loh, ya kan. Nah, ini nan kudu kita perbaiki,” kata Bob.

Di sisi lain, Bob juga menyinggung akibat lanjutan terhadap ketenagakerjaan. Dia mengakui kekhawatiran gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai terasa di tengah tekanan dunia dan derasnya produk impor.

"Jadi nan kita khawatirkan sudah terjadi,” tuturnya.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam. Foto: Nicha Muslimawati/kumparan

Bob menekankan pentingnya langkah sigap untuk memastikan pekerja nan terdampak PHK bisa segera terserap kembali ke bumi kerja. Selain itu, dia meminta pemerintah lebih berpihak pada industri dalam negeri nan mempunyai akibat luas terhadap perekonomian.

"Justru sekarang gimana mereka nan PHK bisa dapat pekerjaan secepat-cepatnya. Nah, terus juga kita berambisi pemerintah, ada keberpihakan dong untuk industri-industri nan memang ada di dalam negeri, kemudian ada pekerjaannya, ya kan. Jadi jangan produk-produk impor nan multiplier efeknya nan nikmati negara lain, gitu loh,” kata Bob.

Bob juga mempertanyakan kejadian meningkatnya penggunaan produk impor, meski sebelumnya pemerintah mendorong penggunaan produk dalam negeri.

"Saya juga heran gitu loh, ya kan. Kenapa terjadi seperti itu? Bahkan Presiden sering bilang jika nilai mahal dikit, kita milih produk dalam negeri,” tuturnya.

Dia pun mendorong agar shopping dalam negeri lebih difokuskan pada sektor nan mempunyai pengaruh berganda besar, termasuk nan melibatkan rantai pasok hingga UMKM serta menyerap banyak tenaga kerja.

"Lebih banyak dibelanjakan sama negeri, terutama nan punya multiplier efek. Artinya nan punya supply chain sampai ke UMKM, nan pakai tenaga kerja sendiri, nan berorientasi ekspor, itu nan kudu dikasih prioritas sama pemerintah,” kata dia.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan