Kisah inspiratif perjuangan untuk bisa berangkat ibadah haji terus memotivasi mereka nan saat ini tengah mengupayakan perihal nan sama.
Salah satu kisah inspiratif kali ini datang dari pasangan suami-istri asal Cirebon berjulukan Hasanudin Masngad Sarti (61) dan Kudaedah Abdul Hayi (60). Keduanya menabung belasan tahun hingga akhirnya bisa melunasi biaya berhaji dari hasil jualan sayuran.
Ditemui di Bandara Prince Mohammed Bin Abdulaziz, keduanya tergabung dalam kloter KJT 05 diberangkatkan lewat Bandara Internasional Kertajati. Sebelum berdagang sayur, Hasanudin bercerita sempat merantau ke Jakarta berdagang asinan buah.
"Jualan asinan mangga, kedondong, jambu. Saat itu penghasilan enggak tentu, kadang Rp 100.000, Rp 70.000, Rp 50.000. Namanya nasib kita orang susah, kadang gede kadang kecil. Hasil dari jualan itu ngumpulin terus, pokoknya ngumpulin lah. Sudah dapet ya daftar haji, ada lah jualannya 12 tahun di Jakarta," ujarnya, Sabtu (25/4) malam.
Setelah mendapat cukup modal, Hasanudin kembali pulang ke kampung laman dan mulai berdagang sayuran.
"Saya sudah punya modal pulang ke kampung tahun 2010, berakhir jualan di Jakarta. Pindah jual beli sayuran di Pasar Japura," ucapnya.
Namun, kebiasaan menabung di Jakarta itu tetap dia teruskan saat berdagang di Cirebon.
"Abis itu nabung, kan sudah daftar (haji). Nanti lunasinya darimana buat langkah selanjutnya jika enggak nabung," ucapnya.
Penghasilan dari berdagang sayuran juga tidak menentu.
"Dari jualan sayur dapatnya sedikit, sehari Rp 200.000, Rp 300.000 paling bersihnya Rp 70.000, Rp 60.000, dipakai beli beras lauk juga habis. Tapi tetap disisihkan sedikit," imbuhnya.
Di sisi lain, pasutri ini juga berjuang membiayai tujuh orang anak. Meski demikian, tekad mereka sangat kuat untuk berhaji.
"Jualan sayuran, ada cabe, bawang, kol, tomat, palawija, kacang panjang, terong, daun bawang. Harga sayuran sekarang lagi mahal-mahal, jadi jika untung pun sedikit," kata Kudaedah.
Biaya pendaftaran haji diingatnya senilai Rp 25,5 juta.
"Setelah daftar, tabungan haji itu ditabung terus. Enggak tentu sih, sedikit-sedikit. Nabung sehari kadang Rp 20.000, Rp 30.000, kadang jika jualan lagi ramai ya Rp 50.000. Ibu ikut arisan di pasar, hasil nabung itu dibayarkan ke arisan. Kalau menang arisan langsung ditabung ke bank. Kalau enggak nabung takut pas ngelunasin enggak bisa bayar, darimana coba? Makanya kudu nabung terus," tuturnya.
Dia dan suami berambisi ibadah haji diterima Allah SWT. Mereka juga mau mendoakan anak dan orang tua dari Tanah Suci.
"Pengin naik haji ya mudah-mudahan jadi haji mabrur. Pengin doain semuanya, anak-anak. Paling ingat terutama sama orang tua tinggal satu, jika bapaknya sudah meninggal. Ibu sekarang tinggal sama aku. Jadi mau saya doain dari Makkah," ucapnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·