Ruang Teduh di Tengah Riuh Ibu Kota: Warga Temukan Nyaman di RPTRA Gondangdia

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Suasana RPTRA Gondangdia nan tepat di bawah jalur kereta api layang (24/4/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Suara gemuruh kereta commuter line nan melintas memecah udara sore itu. Terdengar cukup keras, hingga memaksa siapa saja nan sedang mengobrol di bawahnya untuk sejenak menghentikan perbincangan mereka.

Namun, begitu gerbong terakhir berlalu dalam hitungan detik, suasana kembali hidup. Anak-anak kembali berlari, dan obrolan penduduk bersambung diiringi rimbunnya pepohonan.

Pemandangan ini adalah rutinitas harian di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Gondangdia, Jakarta Pusat.

Suasana RPTRA Gondangdia nan tepat di bawah jalur kereta api layang (24/4/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Posisinya nan terjepit tepat di bawah jalur rel Stasiun Cikini dan Stasiun Gondangdia membikin ruang terbuka ini mempunyai karakter nan unik. Di atas serba beton dan bising, di bawahnya serba hijau dan asri.

Bagi mereka nan baru pertama kali berkunjung, gemuruh kereta mungkin terasa mengagetkan. Namun bagi penduduk sekitar, bunyi itu sudah menyatu dengan keseharian mereka dan tak sedikit pun mengusik kenyamanan.

​"Tetap asyik, seru, sejuk di sini tepatnya, di bawah rel soalnya. Apalagi banyak tanaman juga," ujar Kurnia (17), salah seorang remaja nan kerap menghabiskan waktunya di sana.

Suasana RPTRA Gondangdia nan tepat di bawah jalur kereta api layang (24/4/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

​Hal senada juga diungkapkan oleh Nita (45), penduduk sekitar nan menjadikan RPTRA Gondangdia sebagai tempat singgah favoritnya.

Alih-alih terganggu, dia justru menikmati akomodasi ruang terbuka nan jarang ditemui di area padat masyarakat tersebut.

​"Nyaman, tamannya bagus, udaranya juga bagus. Di belakang tuh tamannya bagus, jadi bisa buat foto-foto," tuturnya.

Ari (37) Koordinator RPTRA Gondangdia. Foto: Kevin Daniel/kumparan

​Tingkat penyesuaian nan tinggi ini diamini oleh Koordinator RPTRA Gondangdia, Ari (37).

Bertugas di sana sejak 2019, Ari mengaku sudah sangat terbiasa dengan ritme bising tersebut. Menurutnya, perihal itu hanya jarak sesaat nan tak menghalangi RPTRA menjalankan fungsinya sebagai pusat hubungan warga.

​"Kalau bunyi ribut ya hanya beberapa saat aja, paling hitungan detik. Karena penduduk di sini udah terbiasa. Kayak saya juga awal pertama kali di sini jika ngobrol sama kawan ngerasa nggak enak. Tapi lantaran udah sering, ya setiap ngobrol kadang tak bersuara dulu. Udah jadi kebiasaan aja," jelas Ari santai.

Suasana RPTRA Gondangdia nan tepat di bawah jalur kereta api layang (24/4/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Kini, RPTRA Gondangdia tampil semakin asri dan tertata. Melalui program beautifikasi dari pihak Kelurahan Gondangdia pada 2023 lalu, lahan ini disulap dengan penambahan rumput hijau dan penataan tanaman nan lebih estetis.

​Fungsinya pun tak hanya sekadar taman bermain. Di hari Minggu, RPTRA ini menjadi ruang belajar bagi anak-anak kolong berbareng organisasi Sekolah Cinta Anak Indonesia. Warga juga leluasa menggunakan lapangan untuk bermain basket hingga berlatih tari di aula.

Suasana RPTRA Gondangdia nan tepat di bawah jalur kereta api layang (24/4/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Melihat kehidupan ruang publik nan terus berdebar selaras di bawah rel kereta ini, penduduk meletakkan angan besar agar perawatannya senantiasa dipertahankan.

​"Harapannya mungkin lebih dibagusin lagi sih ya, lebih indah. Soalnya kan di sini banyak anak-anak nan belajar juga, biar lebih kondusif aja. Terus fasilitasnya dipenuhi, lantaran kan ini buat kepentingan anak bangsa juga," pungkas Nita.

Suasana RPTRA Gondangdia nan tepat di bawah jalur kereta api layang (24/4/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan
Suasana RPTRA Gondangdia nan tepat di bawah jalur kereta api layang (24/4/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan
Suasana RPTRA Gondangdia nan tepat di bawah jalur kereta api layang (24/4/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan