Jakarta, CNBC Indonesia - Kritik tajam terhadap arah pemerintahan Israel muncul dari dalam negeri sendiri, apalagi dari tokoh-tokoh nan pernah berada di lingkaran kekuasaan tertinggi militer dan politik negara tersebut. Di tengah bentrok nan belum betul-betul mereda, mereka menilai strategi pemerintah justru membawa Israel ke situasi nan makin sulit.
Tiga mantan pejabat senior Israel melontarkan kecaman keras terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dengan menyebut negara itu telah "dibajak" dan kandas mencapai tujuan dalam perang melawan Iran.
Dua mantan kepala staf militer Israel, Dan Halutz dan Moshe Ya'alon, dalam tulisan nan dimuat di Haaretz, menulis bahwa kondisi negara saat ini jauh dari cita-cita awal pendiriannya.
"Menjelang peringatan ke-78 kemerdekaan Israel (menurut almanak Ibrani), kami terpaksa mengatakan dengan pahit: Israel telah dibajak oleh sebuah rezim nan memandang sumber daya negara sebagai milik pribadinya sendiri," tulis keduanya, dikutip Jumat (23/4/2026).
Mereka juga menilai pemerintah saat ini kehilangan keterhubungan dengan realitas rakyat. "Sepenuhnya terlepas dari realitas warganya, bertindak seolah-olah negara ini adalah milik pribadi Netanyahu, istrinya (Sara), dan Miri Regev (menteri transportasi)," lanjut mereka.
Mengacu pada pemilu umum nan diperkirakan berjalan Oktober mendatang, keduanya menyerukan perubahan arah politik. "Kami menyerukan kepada publik untuk merebut kembali kendali atas negara ini."
Kritik senada datang dari mantan Perdana Menteri Ehud Barak nan juga menulis di media nan sama. Ia mengakui bahwa lawan-lawan Israel mengalami tekanan militer, tetapi menegaskan tujuan perang tidak tercapai.
"Para musuh mengalami pukulan nan menyakitkan, nan melemahkan mereka semua," tulis Barak. Namun dia menambahkan, "tidak satu pun tujuan perang nan tercapai. Hamas tetap berada di Gaza, dan Hizbullah tetap berada di Lebanon."
Lebih jauh, dia menyoroti bahwa serangan campuran Israel dan Amerika Serikat tidak sukses melumpuhkan Iran. "Rezim di Teheran memperkuat dari serangan campuran Israel-AS, dan ancaman nuklir serta rudal balistik tidak dihilangkan," katanya.
Menurut Barak, kondisi ini mencerminkan kegagalan serius secara strategis dan politik. Ia menyebutnya sebagai "kegagalan strategis dan politik nan serius jika dilihat dari keseimbangan kekuatan, lantaran Israel dan Amerika Serikat semestinya menang."
Ia juga menilai posisi Israel sekarang semakin berjuntai pada Washington. "Sebuah negara nan berada di bawah Amerika Serikat, nan memaksakan keputusan operasional dan diplomatik nan menentukan melalui pengarahan nan keras, dan terkadang memalukan," tulisnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, Israel memang terlibat dalam beragam operasi militer di kawasan. Sejak 2 Maret, serangan Israel di Lebanon dilaporkan menewaskan 2.294 orang, melukai 7.544 lainnya, dan memaksa lebih dari satu juta penduduk mengungsi, sebelum Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama 10 hari pada Kamis lalu.
Di sisi lain, Israel berbareng AS juga melancarkan perang terhadap Iran sejak 28 Februari. Konflik tersebut menewaskan lebih dari 3.000 orang sebelum Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April, nan dimediasi oleh Pakistan, sebagai upaya membuka jalan menuju kesepakatan damai.
(luc/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·