Kuasa Usaha Ad Interim Kedubes Jepang untuk Indonesia, Mitsuru Myochin, memberikan penjelasan soal Jepang nan bakal memberikan support sebesar USD 10 miliar alias setara dengan Rp 171,67 triliun kepada negara-negara di Asia. Rencana ini sebelumnya diungkap oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam pertemuan virtual dengan para pemimpin area pada Rabu (15/4) lalu.
Myochin mengungkap support finansial itu dinamakan Partnership on Wide Energy and Resources Resilience Asia alias Power Asia. Dengan total support mencapai Rp 171,67 triliun, apa saja nan bakal didapatkan oleh negara-negara Asia?
"Lewat program ini dapat mengimpor hingga 1,2 miliar barel minyak mentah setiap tahunnya, nan setara dengan kebutuhan impor minyak mentah tahunan Asia," kata Myochin dalam obrolan dengan wartawan di Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, dikutip Jumat (24/4).
Myochin mengatakan terdapat dua pilar utama dalam inisiatif ini. nan pertama adalah pilar tanggap darurat, utamanya dalam menghadapi situasi di tengah lonjakan nilai minyak akibat blokade Selat Hormuz.
"Sebagai contoh, support pasokan untuk perusahaan lokal. Di Indonesia, terdapat support finansial untuk perusahaan Indonesia dalam corak angsuran alias pembiayaan. Kedua, support finansial untuk pemerintah negara-negara Asia. Ketiga, kerjasama dengan organisasi internasional seperti Asian Development Bank (ADB) dan IEA (OECD)," jelas Myochin.
Pilar nan kedua adalah pilar perspektif jangka menengah dan panjang. Myochin mengatakan lewat pilar kedua ini, Jepang mau mengatasi masalah struktural untuk membikin ekonomi lebih handal terhadap krisis nan bakal datang.
"Memperkuat sistem pasokan energi, diversifikasi sumber energi, dan meningkatkan efisiensi industri energi," ujarnya.
Myochin melanjutkan dalam pertemuan virtual nan dilakukan Takaichi, negara-negara nan datang tidak hanya dari ASEAN, tapi juga ada dari Australia, Korea Selatan, India, Bangladesh, dan Sri Lanka nan juga mau melindungi rantai pasokan daya di kawasan.
"Tapi kapan program ini bakal melangkah dan siapa saja nan dapat berperan-serta tetap dalam pembicaraan. Pada 15 April, para pemimpin baru menyetujui inisiatif ini dan sekarang tengah mendelegasikan level kementerian untuk mendiskusikan detailnya," tuturnya.
Myochin mengatakan, setiap negara diminta untuk mengusulkan permintaan terlebih dulu sebelum Jepang memproses support finansial ke negara-negara tersebut.
"Bantuan Jepang memprioritaskan negara penerima. Jadi, kami menunggu permintaan konkret dari negara-negara tersebut, termasuk Indonesia," pungkasnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·