Populer: Utang Luar Negeri RI Naik; IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Indonesia

Sedang Trending 5 hari yang lalu
Petugas menyusun nan dolar AS dan rupiah di Bank Syariah Indonesia (BSI), Bekasi, Jawa Barat, Jumat (21/2/2025). Nilai tukar rupiah (kurs) pada pembukaan perdagangan hari Jumat (21/2). Foto: ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah

Utang Luar Negeri Indonesia nan meningkat menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Rabu (15/4). Selain itu, Dana Moneter Internasional (IMF) juga menurunkan proyeksi pertumuhan ekonomi Indonesia menjadi 5 persen. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman buletin terkenal tersebut:

Utang Luar Negeri RI Naik Jadi Rp 7.505,6 Triliun per Februari 2026

Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia per Februari 2026 tercatat sebesar USD 437,9 miliar alias sekitar Rp 7.505,6 triliun, menunjukkan pertumbuhan 2,5 persen secara tahunan (yoy). Angka ini lebih tinggi dibanding Januari 2025 nan tumbuh 1,7 persen yoy, dengan peningkatan ini didominasi oleh ULN sektor publik, khususnya bank sentral seiring masuknya modal asing ke instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

ULN pemerintah pada periode tersebut mencapai USD 215,9 miliar, tumbuh 5,5 persen yoy, sedikit melambat dari Januari 2026 (5,6 persen yoy). Mayoritas utang pemerintah ini berkarakter jangka panjang (99,98 persen) dan dialokasikan untuk sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0 persen), Administrasi Pemerintah (20,3 persen), serta Jasa Pendidikan (16,2 persen). Sementara itu, ULN swasta tercatat USD 193,7 miliar, mengalami penurunan 0,7 persen yoy, dipengaruhi oleh golongan peminjam lembaga finansial dan perusahaan bukan lembaga keuangan.

instagram embed

ULN swasta didominasi utang jangka panjang (76,0 persen) dengan sektor Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan dan Penggalian menyumbang 80,3 persen dari total ULN swasta. Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,8 persen, dengan kekuasaan utang jangka panjang (84,9 persen), menunjukkan struktur ULN nan sehat. Bank Indonesia dan Pemerintah berkomitmen memantau dan mengoptimalkan ULN untuk pembiayaan pembangunan berkelanjutan.

IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi RI Jadi 5% di 2026, Fundamental Dinilai Masih Kuat

Suasana area padat masyarakat dengan latar belakang gedung bertingkat di Jakarta, Jumat (6/12/2024). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO

Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5 persen pada tahun 2026, sedikit di bawah perkiraan sebelumnya sebesar 5,1 persen dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Januari 2026. Meskipun demikian, prospek ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat di tengah ketidakpastian dunia nan dipicu bentrok geopolitik dan gangguan rantai pasok energi.

Beberapa negara Asia lain, seperti Filipina, diproyeksikan tumbuh 4,1 persen, sementara India tetap memimpin dengan 6,5 persen.

Laporan WEO April 2026 menyoroti akibat bentrok geopolitik nan berpotensi melambatkan pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,1 persen pada 2026 dari 3,4 persen pada 2025.

instagram embed

Harga komoditas daya diperkirakan melonjak hingga 19 persen, dengan nilai minyak diproyeksikan naik 21,4 persen menjadi rata-rata USD 82 per barel akibat gangguan produksi di Timur Tengah. Kenaikan biaya daya ini juga turut mendorong inflasi nilai pangan serta mengganggu jalur logistik global.

IMF juga mencatat disparitas akibat antarnegara, di mana negara pengimpor daya berpendapatan rendah bakal lebih terbebani oleh lonjakan nilai dan pelemahan nilai tukar. Sebaliknya, negara pengekspor daya condong diuntungkan. Konflik nan berkepanjangan dapat memperburuk skenario dasar IMF nan mengasumsikan lama bentrok nan singkat, menambah ketidakpastian dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi bumi secara keseluruhan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan