Perang Saudara Baru Pecah di Negara Ini, Menhan Tewas Dibom

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah militer Mali menghadapi krisis keamanan dahsyat pada hari Minggu, (27/04/2026), menyusul serangan terkoordinasi berskala nasional oleh pejuang jihadis dan pemberontak separatis nan menewaskan Menteri Pertahanan serta membikin kota strategis di utara dilaporkan jatuh ke tangan pemberontak.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemimpin junta, Jenderal Assimi Goita, nan tidak terlihat sejak serangan dimulai pada Sabtu subuh. Serangan ofensif tersebut dilakukan secara sinkron oleh pemberontak Tuareg dari koalisi Azawad Liberation Front (FLA) dan golongan jihadis Group for the Support of Islam and Muslims (JNIM) di beberapa wilayah di negara gersang tersebut.

Krisis ini semakin memburuk setelah dikonfirmasinya kematian Menteri Pertahanan Sadio Camara nan menjadi pukulan telak bagi manajemen junta. Mengutip AFP, Camara beserta istri kedua dan dua cucunya tewas setelah serangan peledak mobil menghantam rumahnya di tembok junta, Kati, nan terletak di pinggiran Bamako.

Pemerintah Mali merilis pernyataan resmi mengenai tewasnya sang jenderal dalam pertempuran tersebut. Pihak berkuasa menjanjikan upacara pemakaman kenegaraan bagi sang menteri nan dianggap gugur saat menjalankan tugas.

"Camara meninggal saat melawan para penyerangnya, di mana beberapa di antaranya sukses dia netralisir. Jenderal tersebut meninggal lantaran luka-lukanya di rumah sakit," tulis pemerintah Mali dalam pernyataan resminya.

Selain tewasnya Menhan, militer Mali juga dilaporkan kehilangan kendali atas kota Kidal. Pemberontak Tuareg menyatakan kepada AFP bahwa mereka telah mencapai kesepakatan nan memungkinkan pasukan Africa Corps Rusia, nan mendukung tentara Mali, untuk menarik diri dari kota tersebut.

"Kami memandang konvoi militer pergi, tetapi tidak tahu rincian apa nan terjadi. Para pejuang dari aktivitas bersenjata sekarang telah mengambil alih jalan-jalan," ujar salah satu masyarakat Kidal nan menyaksikan penarikan pasukan tersebut.

Meskipun pemimpin junta Goita belum menampakkan diri, sumber keamanan Mali meyakinkan bahwa sang jenderal saat ini berada di letak nan aman. Di ibu kota Bamako, pasukan militer telah memblokir akses ke akomodasi militer dengan barikade dan ban di jalan-jalan guna mengantisipasi serangan susulan.

Serangan ini menuai kecaman keras dari beragam pihak internasional, termasuk Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Uni Eropa. Kelompok oposisi Coalition of Forces for the Republic (CFR) menyatakan bahwa saat ini Mali berada dalam ancaman besar dan janji junta untuk memberikan keamanan serta stabilitas terbukti gagal.

"Junta telah menjanjikan keamanan, stabilitas, dan kembalinya peran negara kepada rakyat Mali. Setelah serangan akhir pekan ini, tidak ada nan bisa menyatakan secara serius bahwa Mali telah tenteram alias aman," tegas CFR dalam pernyataan tertulisnya.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News