Jakarta -
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) meninjau langsung kesiapan gedung Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. Gedung itu bakal dimanfaatkan sebagai letak Sekolah Rakyat rintisan.
Kunjungan ini difokuskan pada pengecekan kondisi gedung sekaligus merumuskan langkah perbaikan agar akomodasi tersebut segera bisa digunakan untuk aktivitas belajar mengajar.
Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut Direktur Jenderal Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum, Bisma Staniarto, serta Ketua STIP, Tri Cahyadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pemaparannya, tim teknis menyebut dari total 56 gedung di area STIP, terdapat empat gedung dan dua akomodasi olahraga nan diizinkan untuk dimanfaatkan sebagai Sekolah Rakyat.
Empat gedung tersebut berada di Asrama Taruna E, Taruna J, Wisma Bahari II, dan Nautika, serta didukung akomodasi berupa dua lapangan tenis dan dua lapangan sepak bola.
"Untuk tahap awal, kapabilitas nan disiapkan sekitar 100 siswa, didukung dua tenaga pembimbing dan 18 tenaga pengajar," ujar Bisma, dalam keterangan tertulis, Minggu (19/4/2026).
Hasil survei menunjukkan bahwa secara struktur, gedung di area STIP tetap dalam kondisi sangat layak. Tidak ditemukan kerusakan pada bagian utama seperti fondasi, kolom, balok, maupun atap.
Dari sisi arsitektur, hanya terdapat kerusakan ringan, seperti perbaikan plesteran, pintu, dan jendela, serta penggantian beberapa komponen minor. Sementara itu, pada aspek utilitas, perbaikan difokuskan pada penggantian lampu nan sudah tidak berfungsi.
Dengan kondisi tersebut, proses perbaikan diproyeksikan dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat.
"Kami optimistis akhir April seluruh perbaikan bisa dituntaskan dan gedung siap digunakan pada awal Mei," jelasnya.
Selain STIP, pemerintah juga tengah menyiapkan letak lain, termasuk area milik Lembaga Administrasi Negara (LAN). Kondisi gedung di letak tersebut dinilai relatif serupa, dengan kapabilitas nan juga ditargetkan menampung sekitar 100 siswa.
Dalam kesempatan itu, Gus Ipul menegaskan program Sekolah Rakyat terus menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan penyelenggaraan di 166 titik pada tahun sebelumnya, para siswa mengalami peningkatan kepercayaan diri dan kemampuan.
Sementara itu, para pembimbing dinilai semakin adaptif dalam mengidentifikasi potensi serta kebutuhan belajar siswa dari beragam latar belakang.
"Selama lebih dari sembilan bulan berjalan, hasilnya cukup menggembirakan. Siswa mulai berkembang, dan para pembimbing bisa menyesuaikan metode pembelajaran tanpa mengandalkan tes akademik," ujar Gus Ipul.
Menindaklanjuti pengarahan Presiden, pemerintah menargetkan peningkatan kapabilitas Sekolah Rakyat pada tahun ini. Jika sebelumnya bisa menampung nyaris 16.000 siswa, sekarang jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 30.000 siswa, termasuk melalui penambahan sekolah rintisan di beragam daerah.
Khusus untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, telah ditetapkan 10 titik sekolah rintisan, termasuk di STIP. Secara keseluruhan, lokasi-lokasi tersebut diproyeksikan bisa menampung lebih dari 1.000 siswa, dengan tahap awal sekitar 700 siswa, kemudian ditambah 300 siswa pada pertengahan tahun.
Gus Ipul menegaskan bahwa proses seleksi siswa dilakukan berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), tanpa melalui sistem pendaftaran terbuka. Penjangkauan dilakukan langsung ke family sasaran guna memastikan program ini tepat sasaran.
"Tidak boleh ada titipan, tidak boleh ada praktik nan melanggar ketentuan. Semua kudu betul-betul menyasar family nan paling membutuhkan," tegasnya.
Ia juga memastikan bahwa hambatan di lapangan relatif minim dan hanya memerlukan perbaikan ringan pada akomodasi pendukung, seperti tempat tidur, toilet, dan ruang makan.
"Kita optimistis seluruh persiapan, termasuk pembaharuan ringan, dapat selesai pada akhir April sehingga aktivitas bisa dimulai awal Mei," pungkasnya.
(anl/ega)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·