Dosen UNSRI Ungkap Alasan Ikan Sapu-sapu Tak Layak Dikonsumsi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Tim Content Intelligent kumparan memberikan sample beberapa makanan Siomay nan dibeli secara random di area Jaksel di Lab FMIPA Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (6/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Belakangan ini, tindakan penangkapan ikan sapu-sapu tengah gencar dilakukan di beragam daerah. Bahkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun ikut bergerak menangani populasi ikan ini di sejumlah sungai di ibu kota.

Langkah tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Sebab, populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta terus meningkat. Berdasarkan penelitian nan dipublikasikan dalam Jurnal Berita Biologi Vol. 24 No. 2 (2025), jumlah ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung meningkat sekitar 24 kali lipat dalam kurun waktu 14 tahun.

Situasi tersebut pun turut memunculkan kekhawatiran lain. Melimpahnya populasi ikan sapu-sapu dikhawatirkan dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab sebagai bahan pangan.

Padahal, menurut para ahli, ikan sapu-sapu tidak layak dikonsumsi manusia lantaran berpotensi mengandung unsur rawan nan berasal dari lingkungan perairan tempat hidupnya.

Petugas campuran menangkap ikan sapu-sapu di sungai nan berada di samping Plaza Indonesia, Jakarta, Jumat (17/4/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Dosen Teknologi Hasil Perikanan Universitas Sriwijaya, Gama Dian Nugroho, mengingatkan bahwa ikan sapu-sapu nan hidup di perairan tercemar berpotensi membawa beragam unsur rawan bagi tubuh manusia.

“Dampaknya sangat negatif jika daging ikan sapu-sapu dikonsumsi manusia. Apalagi kebanyakan perairan di Indonesia sudah tercemar,” ujar Gama kepada kumparanFOOD, Sabtu (18/4).

Menurut Gama, ikan sapu-sapu merupakan jenis ikan dasar nan bisa memperkuat hidup di lingkungan tercemar. Kemampuan inilah nan justru membikin ikan tersebut rentan menyerap logam berat dari perairan dan menumpuknya di dalam tubuh.

“Kalau limbah industri seperti merkuri alias timbal masuk ke sungai, ikan sapu-sapu tetap bisa hidup dan logam berat itu dapat terakumulasi di dalam dagingnya,” jelasnya.

Seorang konten pembuat menjaring ikan sapu-sapu di Kali Ciliwung, Jakarta, Senin (6/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Jika ikan nan telah terkontaminasi logam berat itu dikonsumsi secara terus-menerus, efeknya mungkin tidak langsung terasa. Namun dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan akibat gangguan kesehatan serius, termasuk pengaruh karsinogenik alias memicu kanker.

Tak hanya itu, dari sisi kandungan gizi, ikan sapu-sapu juga dinilai tidak unggul dibanding ikan konsumsi pada umumnya. “Pola makan ikan ini berbeda dengan ikan konsumsi pada umumnya, sehingga nilai gizinya relatif lebih rendah dibanding ikan konsumsi nan terkenal di Indonesia,” tambah Gama.

Karena hidup di dasar sungai nan tercemar, ikan sapu-sapu juga berisiko membawa kuman patogen. Hal ini membikin pengolahannya menjadi bahan pangan tetap rawan meskipun telah dimasak.

Tim Content Intelligent kumparan memberikan sample beberapa makanan Siomay nan dibeli secara random di area Jaksel di Lab FMIPA Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (6/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Secara rasa, Gama menjelaskan bahwa daging ikan sapu-sapu mungkin tidak terlalu berbeda setelah diolah, apalagi jika sudah dicampur dengan bahan lain seperti bakso alias olahan ikan lainnya. Justru perihal ini nan menjadi celah bagi produsen bandel lantaran bahan bakunya murah dan susah dikenali konsumen.

“Kalau sudah diolah menjadi bakso ikan misalnya, teksturnya tersamarkan dan masyarakat susah membedakannya,” katanya.

Gama menegaskan bahwa ikan sapu-sapu pada dasarnya tidak layak dikonsumsi manusia. Hal ini berangkaian dengan kondisi habitatnya nan kerap berada di perairan tercemar, sehingga berpotensi membawa unsur rawan ke dalam tubuh ikan.

“Untuk dikonsumsi manusia, ikan ini tidak layak. Mungkin jika diolah menjadi pakan hewan tetap bisa, meskipun efeknya juga kurang baik. Namun, jika terpaksa diolah, penggunaannya lebih memungkinkan untuk pakan hewan daripada konsumsi manusia,” ujarnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan