Gelombang kudeta di Afrika Barat dalam beberapa tahun terakhir bukan sekadar tanda kemunduran demokrasi. Lebih dari itu, kejadian ini justru menunjukkan kegagalan model kerakyatan nan selama ini dipaksakan tanpa betul-betul menjawab kebutuhan masyarakat lokal.
Mali, Burkina Faso, hingga Niger menjadi bukti bahwa sistem politik umum seperti pemilu dan pemerintahan sipil tidak otomatis menghasilkan legitimasi. Demokrasi memang melangkah secara prosedural, tetapi kandas secara substansi. Ketika korupsi merajalela, ketimpangan ekonomi melebar, dan keamanan memburuk, kerakyatan kehilangan maknanya di mata rakyat.
Dalam situasi seperti ini, kemunculan militer sebagai “penyelamat negara” bukanlah solusi, melainkan indikasi dari krisis nan lebih dalam. Fakta bahwa sebagian masyarakat justru menyambut kudeta menunjukkan sungguh rendahnya kepercayaan publik terhadap pemerintah sipil. Ini adalah sirine keras bahwa kerakyatan nan ada tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Namun, menyederhanakan masalah ini sebagai “kegagalan internal Afrika” adalah kesalahan besar. Peran tokoh eksternal, terutama negara-negara Barat seperti France, tidak bisa diabaikan. Warisan kolonial dan intervensi politik-ekonomi nan tetap bersambung membikin banyak negara Afrika susah berdiri secara mandiri.
Bagi banyak penduduk Afrika, kerakyatan sering kali dipersepsikan bukan sebagai sistem nan membebaskan, tetapi sebagai perangkat nan mempertahankan ketergantungan terhadap Barat. Ketika pemerintah sipil dianggap terlalu dekat dengan kepentingan asing, legitimasi mereka otomatis melemah.
Kondisi ini kemudian membuka ruang bagi tokoh dunia lain untuk masuk. Russia mulai menawarkan kerja sama keamanan, sementara China memperluas investasi tanpa banyak syarat politik. Kehadiran mereka bukan sekadar alternatif, tetapi juga mencerminkan pergeseran kepercayaan negara-negara Afrika terhadap mitra globalnya.
Meski demikian, krusial untuk ditegaskan bahwa kudeta bukanlah jalan keluar. Pemerintahan militer tidak secara otomatis lebih baik, dan sejarah menunjukkan bahwa mereka sering kali mengulangi pola nan sama, otoritarianisme, kurangnya transparansi, dan stagnasi ekonomi. Namun, menyalahkan kudeta semata tanpa memandang akar masalahnya justru menutup kesempatan untuk memahami krisis nan sebenarnya.
Gelombang kudeta ini kudu dibaca sebagai corak penolakan terhadap sistem nan gagal, bukan sekadar pelanggaran terhadap demokrasi. Ini adalah sinyal bahwa masyarakat Afrika menuntut perubahan nan lebih mendasar, bukan hanya pergantian pemimpin, tetapi perubahan langkah negara dijalankan.
Jika organisasi internasional terus mempertahankan pendekatan lama nan hanya menekankan stabilitas tanpa keadilan sosial dan kemandirian ekonomi, maka gelombang kudeta ini tidak bakal berhenti. Sebaliknya, dia berpotensi menjadi pola baru dalam politik Afrika.
Afrika hari ini tidak lagi sekadar objek dalam politik global. Ia sedang mendefinisikan ulang posisinya, dan bumi perlu mulai mendengarkan, bukan sekadar mengarahkan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·