Krisis Energi Hebat Guncang Negara Ini, Kota Gelap-Warga "Terpanggang"

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis daya dahsyat sekarang tengah menghantam Bangladesh di tengah terjangan "gelombang panas nan membara", nan menyerang negeri itu. Negara tersebut terpaksa melakukan pemadaman listrik massal lantaran kekurangan pasokan bahan bakar akibat eskalasi perang di Timur Tengah nan mengganggu rantai pasok global, di tengah suhu nan mencapai 40°C di sebagian besar wilayah.

Situasi ini memaksa pemerintah setempat memberlakukan kebijakan pemutusan beban listrik alias load-shedding lantaran tingginya permintaan masyarakat nan tidak sebanding dengan kapabilitas produksi nan tersedia. Mengutip laporan AFP, penderitaan penduduk mulai mencapai titik nadir akibat kombinasi panas ekstrem dan matinya aliran listrik.

Mashuka Yasmin Mishu, seorang ibu dua anak berumur 35 tahun dari distrik Pabna di barat laut, mengeluhkan kondisi keluarganya nan kesulitan beristirahat. "Baik anak-anak saya maupun saya tidak bisa tidur tadi malam lantaran seringnya pemadaman listrik. Cuacanya sangat panas," kata Mishu Jumat, (24/04/2026).

Mishu menambahkan bahwa meskipun gangguan listrik bukan perihal baru di sana, namun kondisi tahun ini merupakan nan terburuk nan pernah dia alami. Ia merasa sangat tertekan lantaran keluarganya apalagi tidak bisa mendapatkan akses listrik selama dua jam terus-menerus.

"Kami pernah mengalami pemadaman listrik sebelumnya," tambahnya. "Tetapi tahun ini kami tidak bisa mendapatkan listrik apalagi selama dua jam berturut-turut," lanjut Mishu.

Krisis ini berakar pada ketergantungan daya Bangladesh nan sangat tinggi, di mana negara Asia Selatan tersebut mengimpor 95% kebutuhan minyak dan gasnya. Sebagian besar pasokan tersebut berasal dari Timur Tengah, nan pengirimannya melalui Selat Hormuz terganggu sejak perang pecah pada akhir Februari lalu.

Pejabat senior Kementerian Energi, Umme Rehana, memberikan penjelasan resmi kepada wartawan pada Kamis mengenai hambatan teknis nan dihadapi pemerintah. Rehana mengakui bahwa prasarana pembangkit nan dimiliki sebenarnya memadai, namun terkendala ketiadaan bahan baku.

"Kami mempunyai kapabilitas pembangkit listrik nan besar," ujarnya."Tetapi lantaran kekurangan gas dan bahan bakar, kami tidak dapat memanfaatkannya," kata Rehana.

Kesenjangan antara kebutuhan dan produksi ini juga dikonfirmasi oleh Menteri Muda Urusan Listrik, Anindya Islam Amit, saat berbincang di hadapan parlemen pada hari Jumat. Amit memaparkan info teknis bahwa permintaan listrik nasional telah menyentuh nomor 16.000 megawatt, sementara pembangkit nan beraksi hanya bisa menghasilkan 14.126 megawatt.

Amit menjelaskan lebih lanjut bahwa langkah ini diambil sebagai corak keadilan pengedaran daya antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Pemerintah memutuskan untuk melakukan uji coba pemadaman di ibu kota guna meringankan beban para petani nan juga terdampak panas hebat.

"Pemadaman listrik secara terbatas diperlukan," tegas Amit di hadapan para personil dewan.

"Untuk menjaga keadilan, kami telah memutuskan untuk memperkenalkan pemadaman listrik terbatas dan eksperimental sebesar 110 megawatt di Dhaka. Tidak dapat diterima jika masyarakat kota menikmati kenyamanan sementara para petani menderita," jelas Amit.

Selain krisis listrik, antrean panjang selama berjam-jam juga terjadi di beragam stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di Bangladesh sepanjang minggu ini. Kendati demikian, Menteri Energi Iqbal Hasan Mahmud mencoba menenangkan publik dengan menyebut kejadian tersebut dipicu oleh kepanikan warga.

"Negara mempunyai persediaan bahan bakar nan cukup," pungkas Mahmud sembari menyalahkan tindakan panic buying sebagai penyebab utama antrean panjang di lapangan.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News