Sementara itu, Nanik S. Deyang menyoroti kondisi masyarakat nan dinilai tetap tenang dan kondusif di tengah kenaikan nilai BBM dan LPG. Meski begitu, stabilitas nilai BBM di Papua memberikan akibat positif terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat. Ia juga mengapresiasi upaya pemerintah dan Pertamina dalam menjaga nilai agar tetap stabil.
“Masyarakat sangat tenang, tidak ada gejolak. Program BBM satu nilai ini luar biasa, apalagi di wilayah timur seperti Papua. BBM Satu Harga saja ini sudah kerja keras, pada saat kenaikan BBM di negara lain, Indonesia tetap bertahan. Pertamina betul-betul menjalankan kegunaan sebagai agent of development, saya senang Pertamina memberikan ketenangan dan rasa kondusif bagi masyarakat,” kata Nanik.
Ia juga mengungkapkan, tingkat ketahanan stok BBM di Sorong apalagi lebih tinggi dibandingkan wilayah Jawa. Dengan kondisi pasokan nan kondusif serta pengedaran nan terkendali, Pertamina optimistis kebutuhan daya masyarakat di Papua Barat Daya dapat terus terpenuhi dengan baik.
“Di Jawa stok sekitar 10 hari, sementara di Sorong bisa mencapai 20 hari. Ini memberikan rasa kondusif bagi masyarakat, semoga bukan hanya di Sorong saja. Tapi di seluruh wilayah Papua juga kondusif stoknya,” harapnya.
Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bagian transisi energi, berkomitmen dalam mendukung sasaran Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program nan berakibat langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina nan berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan upaya dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini upaya dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https://www.danantaraindonesia.co.id/.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·