Setiap pagi, Maslichan membuka gerbang makam Pangeran Pospuyodo Singopadon di Desa Singocandi, Kudus. Dengan satu tangan nan tersisa, laki-laki 53 tahun itu membersihkan area makam, menyambut peziarah, hingga merawat area makam nan telah dijaganya selama nyaris dua dasawarsa tanpa bayaran.
Maslichan merupakan penyandang disabilitas asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Keikhlasannya mengabdi sebagai ahli kunci makam Pangeran Pospuyodo Singopadon dijalaninya lebih dari 18 tahun tanpa berambisi mendapatkan gaji.
Maslichan menjalani perannya sebagai ahli kunci di makam Pangeran Pospuyodo Singopadon sejak tahun 2007. Rumah dinasnya berada di depan makam. Ia menggantikan ayahnya, Jasipan, nan sebelumnya juga menjadi ahli kunci.
Sejak 2007 sampai 2025, dia bekerja dengan tulus sebagai ahli kunci meski tak pernah menerima gaji. Ia baru menerima penghasilan dalam kurun waktu enam bulan terakhir di tahun ini usai diusulkan oleh pihak desa setempat.
Diketahui, sosok Pangeran Pospuyodo Singopadon dulu merupakan ahli bicara Sunan Kudus. Makam Pangeran Pospuyodo Singopadon diperkirakan sudah ada sejak tahun 1600-an.
Di area makam terdapat empat makam nan tetap berdiri. Keempatnya ialah makam Pangeran Pospuyodo Singopadon, makam istri Pangeran Pospuyodo Singopadon, makam putri Pangeran Pospuyodo Singopadon, dan makam menantu Pangeran Pospuyodo Singopadon.
Maslichan menceritakan, tangan kirinya diamputasi lantaran terkena petasan pada 1999.
Kendati menjadi penyandang disabilitas, dia mengaku tak kesulitan menjalankan tugasnya sebagai ahli kunci makam Pangeran Pospuyodo Singopadon serta menjadi marbut di Masjid Baitul Maqdis nan lokasinya tetap di sekitar makam. Ia juga aktif membantu istrinya berdagang di warung di sekitar makam Pangeran Pospuyodo Singopadon.
"Aktivitas sebagai ahli kunci dan marbut masjid saya jalani seperti biasa. Meski kehilangan tangan kiri, saya tetap bisa beraktivitas," katanya, Rabu (29/4).
Dalam benaknya, dia tak berambisi apa pun dari pekerjaan ahli kunci. Ia hanya beriktikad ibadah dan menjalankan perintah dari leluhur. Hal itu tercermin selama 18 tahun rela tak digaji sebagai ahli kunci.
"Baru ada penghasilan enam bulan terakhir ini lantaran diusulkan dari pihak sini," ujarnya.
Selama menjadi ahli kunci, dia mengaku tak pernah mengalami tantangan berarti. Ia selalu berterima kasih dan menjalankan amanah sebagai ahli kunci dengan keikhlasan.
Sebagai ahli kunci, dia bekerja membersihkan area makam. Selain itu, setiap ada tamu alias peziarah dirinya mendampingi. Setiap ada haul (peringatan hari wafatnya Pangeran Pospuyodo Singopadon), dia berbareng istri dan masyarakat setempat memperingati dengan beragam kegiatan.
"Haul beliau 17 Muharram. Biasanya ada pengajian dan membagikan nasi jangkrik (nasi dengan daging kambing alias kerbau nan dibungkus daun jati) sekitar seribuan porsi," jelasnya.
Sementara itu, istri Maslichan, Aris Kustini (51), menyampaikan kondisi suaminya nan kehilangan tangan kiri tidak menjadi kendala. Aris menyampaikan, suaminya tetap bisa menjalani pekerjaan sebagai ahli kunci serta marbut masjid.
"Alhamdulillah tidak ada kendala. Suami saya tetap bisa beraktivitas dan membantu saya di warung. Anak-anak juga tidak malu dengan kondisi ayahnya," imbuhnya.
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·