Kartini yang Kita Lewatkan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Setiap tanggal 21 April kita memperingati Hari Kartini untuk mengingat semangat perjuangannya, tetapi kerap luput memahami nan paling penting. Ruang publik dipenuhi kebaya, sanggul, dan seremoni nan menghadirkan Raden Ajeng Kartini sebagai simbol budaya nan anggun. Sekilas, semuanya terasa tepat: tradisi dirawat, identitas diteguhkan. Namun, justru di tengah kelengkapan simbol itu, ada kekosongan makna nan jarang dipersoalkan.

Masalahnya tidak terletak pada kebaya, tetapi pada langkah kita memaknai Kartini. Ketika peringatan berakhir pada representasi, Kartini perlahan bergeser dari ahli filsafat menjadi ikon. Padahal, nan diperjuangkan bukanlah estetika, melainkan kesadaran.

Dalam bagian pengantar suratnya kepada Estella H. Zeehandelaar (25 Mei 1899), Kartini menulis: “Saya mau berkenalan dengan seorang gadis modern, nan berani, nan dapat berdiri sendiri... nan selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan dirinya sendiri saja, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan banyak sesama manusia." Kutipan ini menunjukkan bahwa modernitas, dalam pandangan Kartini, bukan soal style hidup, melainkan sikap etis: keberanian berpikir dan komitmen untuk berkontribusi bagi orang lain.

Di sinilah ironi itu muncul. Semakin meriah simbol dirayakan, semakin kabur pendapat dipahami. Peringatan nan semestinya menghidupkan pemikiran Kartini justru kerap berakhir pada perihal nan paling permukaan.

Merayakan nan Mudah

Budaya publik kita tampaknya mempunyai kecenderungan tersendiri dalam merawat tokoh sejarah: menghadirkannya dalam corak nan lebih sederhana, lebih rapi, dan tentu saja lebih mudah dirayakan. Kartini pun kerap muncul sebagai figur nan anggun dan harmonis, seolah-olah kegelisahan nan terekam dalam surat-suratnya tidak lagi menjadi bagian krusial dari dirinya. 

Padahal, di dalam korespondensi itu tersimpan kritik terhadap feodalisme, praktik pingitan, dan keterbatasan pendidikan bagi perempuan—hal-hal nan tidak selalu nyaman untuk diangkat dalam suasana perayaan.

Sejak publikasi Door Duisternis tot Licht pada 1911—yang kemudian dikenal sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang—terlihat jelas bahwa pemikiran Kartini melampaui persoalan personal. Surat-surat tersebut memuat refleksi tentang ketidakadilan sosial nan lebih luas, termasuk struktur feodal dan kolonial nan menghalang kemajuan masyarakat. 

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com