IHSG Dibayangi Suku Bunga BI dan Geopolitik, Mampukah Tembus Level 7.700?

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Anggie Ariesta , Jurnalis-Senin, 20 April 2026 |07:54 WIB

IHSG Dibayangi Suku Bunga BI dan Geopolitik, Mampukah Tembus Level 7.700?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak dalam fase konsolidasi nan condong fluktuatif. (Foto: Okezone.com/IMG)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak dalam fase konsolidasi nan condong naik turun (sideways volatile) pada pekan ini, 20–24 April 2026. Dominasi sentimen geopolitik Timur Tengah serta arah kebijakan moneter domestik menjadi aspek utama nan bakal menyetir arah pasar.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan meskipun IHSG sempat menguat signifikan ke level 7.634 alias naik 2,35 persen pada pekan lalu, aliran biaya asing (foreign flow) justru mencatatkan pengedaran alias tindakan jual bersih sebesar Rp2,4 triliun.

Imam memproyeksikan IHSG bakal menguji level teknikal krusial guna menentukan arah tren selanjutnya. Area 7.773 dipetakan sebagai halangan terdekat, sementara level 7.308 menjadi alas penopang jika tekanan pasar meningkat.

"Secara teknikal, area 7.773 menjadi resistance terdekat nan cukup krusial, di mana jika sukses ditembus bisa membuka ruang kenaikan lanjutan. Namun, selama tetap tertahan, potensi pullback tetap perlu diwaspadai. Sementara itu, level 7.308 menjadi support krusial nan bakal menjadi penopang andaikan terjadi tekanan, terutama jika ada sentimen negatif dari global," jelas Imam dalam risetnya, Senin (20/4/2026).

Imam menambahkan bahwa pergerakan IHSG kemungkinan besar tetap bakal tertahan dalam rentang tersebut lantaran pasar condong reaktif terhadap setiap perkembangan info eksternal nan berkarakter susah ditebak (unpredictable).

Ketidakstabilan di Selat Hormuz, nan merupakan jalur bagi 20 persen pengedaran minyak dunia, telah mendorong nilai minyak mentah Indonesia (ICP) melonjak hingga USD102 per barel. Kondisi esensial nan ketat akibat menipisnya persediaan minyak di hub utama dunia diprediksi bakal menjaga nilai daya tetap tinggi secara struktural.

"Kalau kita tarik ke aspek global, memang sentimen utamanya tetap didorong oleh dinamika geopolitik, khususnya bentrok antara AS dan Iran. Situasinya condong tidak stabil, apalagi dalam waktu nan sangat dekat kita memandang perubahan narasi nan cepat. Sempat ada pernyataan bahwa Selat Hormuz dibuka, tetapi kemudian muncul lagi laporan gangguan hingga adanya tembakan terhadap kapal," ujar Imam.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com