IDAI Bicara Efek Buruk Anak Kena Campak, Wamenkes Tegaskan Pentingnya Imunisasi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Hartono Gunardi (batik ungu) di instansi Kemenkes, Jakarta pada Kamis (23/4/2026). Foto: Abid Raihan/kumparan

Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Hartono Gunardi, mengingatkan ancaman penyakit balang pada anak. Ia menegaskan balang bukan sekadar penyakit ringan.

“Penyakit balang itu bukan sekadar merah—demam dengan bercak merah biasa, tapi bisa menyebabkan komplikasi macam-macam,” kata Hartono di Kantor Kemenkes, Jakarta, Kamis (23/4).

Ia menjelaskan salah satu komplikasi serius adalah radang paru-paru nan bisa berujung fatal pada anak.

“Antara lain 1 dari 20 anak nan menderita balang bakal menderita radang paru-paru. Radang paru-paru ini merupakan penyebab kesakitan maupun kematian nan terbanyak pada anak balita,” ujarnya.

Selain itu, balang juga berisiko menyebabkan radang otak hingga tegang dan penurunan kesadaran.

“Di samping itu balang ini bisa mengakibatkan radang otak, anaknya kejang-kejang, tidak sadar, dan jikalau sembuh—mohon maaf sebagian tentu tidak bisa tertolong—bila sembuh dia seringkali mempunyai indikasi sisa,” tuturnya.

Hartono menegaskan imunisasi merupakan langkah paling kondusif untuk mencegah penyakit menular sekaligus melindungi lingkungan sekitar.

“Jadi imunisasi merupakan salah satu upaya nan paling kondusif untuk mencegah penyakit jangkitan nan dapat dicegah imunisasi. Bukan hanya melindungi dirinya tapi juga melindungi family lain,” kata dia.

Wamenkes Dante Saksono Harbuwono di Kantor Kemenkes, Jakarta pada Kamis (23/4/2026). Foto: Abid Raihan/kumparan

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menegaskan pentingnya imunisasi di tengah tetap rendahnya cakupan vaksinasi anak di Indonesia. Ia menyebut imunisasi merupakan investasi kesehatan jangka panjang nan murah tetapi efektif mencegah penyakit.

“Jadi imunisasi ini adalah aktivitas vaksinasi, investasinya murah tapi bisa mencegah penyakit nan bakal timbul di masa depan nan lebih berat,” kata Dante.

Dante mengungkapkan saat ini tetap ada lebih dari satu juta anak nan belum mendapatkan imunisasi. Padahal, akses jasa vaksinasi dinilai sudah semakin mudah hingga ke tingkat Posyandu.

“Jadi sebenarnya tidak ada halangan akses lagi masyarakat untuk imunisasi. Tapi memang tetap ada satu juta lebih anak-anak nan tidak diimunisasi,” ujarnya.

Menurut dia, salah satu penyebabnya adalah tetap adanya misinformasi di masyarakat nan menganggap imunisasi berbahaya. Ia menegaskan seluruh vaksin telah melalui uji klinis sebelum digunakan.

“Nah teman-teman tolong dong, teman-teman media ini untuk meluruskan hal-hal tersebut. Bahwa semua imunisasi nan diberikan di tempat kita sudah melalui serangkaian uji klinis nan memandang efektivitas, efikasi, dan pengaruh samping,” tuturnya.

Dante juga membantah beragam hoaks mengenai pengaruh samping vaksin, termasuk nan dikaitkan dengan vaksin COVID-19.

“Yang jelas bahwa vaksinasi itu tidak punya pengaruh samping lantaran sudah ada studi jangka panjang,” ucapnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan