Sekelompok intelektual dikejutkan dengan kemunculan hewan langka hiu tidur pasifik untuk menggerogoti buntang tersebut, ketika melakukan penelitian dengan menjatuhkan buntang sapi ke dasar laut dalam China. Penelitian tersebut tertuang dalam jurnal Ocean-Land-Atmosphere Research.
Hiu tidur pasifik (Somniosus pacificus) dikenal sebagai salah satu hiu predator terbesar di dunia, nan tetap minim dipahami lantaran hidup di perairan dalam terpencil dan susah dijangkau. Karena itu, peneliti terkejut saat penelitian sederhananya menarik perhatian delapan hiu tidur pasifik sekaligus.
Awalnya para intelektual mau mempelajari kejadian whale fall, proses ketika buntang paus jatuh ke dasar laut dan menjadi sumber makanan bagi ekosistem laut dalam selama puluhan tahun. Untuk simulasi kondisi tersebut, tim sengaja menjatuhkan buntang sapi di kedalaman sekitar 1.629 meter di lereng benua dekat Pulau Hainan, Laut China Selatan.
Namun, rekaman video dari letak memperlihatkan kejutan tak terduga, delapan hiu tidur pasifik muncul di sekitar bangkai. Ini merupakan catatan pertama keberadaan jenis langka di wilayah tersebut.
Selain jumlahnya nan mengejutkan, perilaku hiu-hiu ini juga menarik perhatian. Rekaman menunjukkan hiu tidak saling berebut secara brutal, melainkan menunjukkan perilaku seperti mengantre. Hiu nan berada di depan apalagi memberi jalan bagi hiu lain nan datang dari belakang untuk mendapatkan giliran makan.
“Perilaku ini menunjukkan bahwa prioritas makan ditentukan oleh tingkat kejuaraan individu, apalagi di lingkungan laut dalam,” kata Han Tian dari Sun Yat-sen University dalam pernyataan resmi.
Menurutnya, strategi ini mencerminkan pola memperkuat hidup nan tidak sepenuhnya soliter pada hiu jenis ini. Peneliti juga menemukan hiu dengan panjang tubuh lebih dari 2,7 meter condong lebih garang dalam menyerang bangkai, dibandingkan hiu nan lebih kecil.
Hiu tidur pasifik berukuran mini terlihat lebih berhati-hati, apalagi beberapa di antaranya berputar-putar di sekitar buntang sebelum mendekat.
“Perilaku garang nan kami lihat menunjukkan bahwa wilayah ini kemungkinan tetap mempunyai sumber makanan nan melimpah di laut dalam,” ujar Tian.
Selain itu, tim peneliti juga mengawasi perilaku menarik lainnya, ialah keahlian hiu untuk menarik bola matanya ke dalam (eye retraction). Hal ini diduga sebagai sistem perlindungan saat makan, lantaran hiu ini tidak mempunyai kelopak mata ketiga seperti pada banyak hewan lain.
Beberapa hiu juga terlihat membawa parasit berupa copepoda, meski jenisnya belum dapat diidentifikasi. Spesies ini diketahui berkerabat dengan hiu Greenland, nan juga sering ditemukan mempunyai parasit di bagian mata. Selain hiu, kamera juga merekam keberadaan ikan siput (snailfish) dan beragam jenis amfipoda laut dalam.
Hiu tidur pasifik diketahui tersebar luas di Samudra Pasifik utara, dari Jepang hingga Alaska, serta ke selatan hingga California dan Palung Tonga. Mereka biasanya hidup di perairan dingin.
Namun, kemunculan mereka di Laut China Selatan, wilayah nan relatif lebih hangat, memunculkan pertanyaan baru. Apakah ini memang bagian dari kediaman alami mereka nan selama ini belum terdeteksi, ataukah tanda ekspansi wilayah akibat perubahan iklim?
“Frekuensi kemunculan mereka di wilayah ini menunjukkan bahwa pemahaman kita tentang populasi hiu ini tetap sangat terbatas,” kata Tian.
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·