Liputan6.com, Jakarta - Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, menilai kelemahan dalam penerapan program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan perihal nan wajar. Dia menekankan perlunya pengawalan lebih ketat agar program strategis tersebut melangkah optimal.
Hal itu disampaikan Hashim dalam sambutannya pada aktivitas Jaga Desa Award 2026 di Jakarta, Minggu (19/4/2026) malam. Dia berambisi pengurus Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (Abpednas) dapat membantu mengawal penyelenggaraan MBG di desa-desa.
"Kita lihat memang ada kelemahan-kelemahan, misalnya keracunan, ada timbulnya belatung-belatung, dan sebagainya. Tetapi saya kira ini suatu perihal nan cukup wajar lantaran program MBG ini program pertama nan dilaksanakan, nan meliputi begitu banyak penerima manfaat," kata Hashim.
Hashim juga mengakui program MBG mendapat banyak kritik dari masyarakat. Namun, dia menilai kritik tersebut merupakan aspirasi tulus nan perlu ditanggapi secara positif.
Menurut Hashim, program MBG merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam mengatasi masalah stunting. Dia mengingat kembali kekhawatiran Presiden Prabowo Subianto sejak 2006 mengenai tingginya nomor stunting di Indonesia.
"Saya ingat, menurut Kementerian Kesehatan, waktu itu 30 persen anak-anak Indonesia menderita stunting. Sewaktu itu, Pak Prabowo bilang ke saya, ‘Kalau ini tidak bisa ditanggulangi, kita bisa bayangkan 20 tahun kemudian’," ujarnya, dilansir Antara.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·