Genjot Target E20, Pertamina Perkuat Kolaborasi Pengembangan Bioetanol

Sedang Trending 50 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina (Persero) mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada pangan dan kemandirian daya nasional melalui pengembangan bioetanol berbasis sumber daya domestik. Komitmen ini diwujudkan melalui penandatanganan tiga nota kesepahaman (MoU) strategis oleh Pertamina New and Renewable Energy (PNRE) berbareng PT Perkebunan Nusantara III (Persero) dan PT Medco Energi Internasional Tbk melalui PT Medco Intidinamika, pada Senin (27/04), di Jakarta.

Penandatanganan ini mencakup revitalisasi pabrik bioetanol di Lampung berbasis multi-feedstock, pembangunan pabrik bioetanol baru di Bone, Sulawesi Selatan, serta pengembangan pabrik bioetanol berbasis molase berbareng PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), anak upaya PTPN III. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya percepatan penerapan mandatori bioetanol menuju E20 pada 2028 guna memperkuat ketahanan daya nasional.

Penandatanganan dilakukan oleh CEO PNRE John Anis, Direktur Bisnis PTPN III Ryanto Wisnuardhy, dan Direktur PT Medco Intidinamika Aradea Z. Arifin, serta disaksikan oleh perwakilan kementerian dan lembaga terkait.

"Implementasi bioetanol ini tidak bisa ditunda lagi. Target E20 pada 2028 memerlukan lompatan besar, baik dari sisi pasokan maupun infrastruktur. Karena itu, kerjasama seperti nan dilakukan hari ini menjadi kunci untuk memastikan kesiapan produksi, kepastian offtaker, serta ekosistem nan terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pemerintah juga terus menyederhanakan izin agar pelaku upaya dapat bergerak lebih cepat," ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiya Dewi, dikutip Rabu (29/4/2026).

Kolaborasi ini menyatukan kekuatan lintas sektor, di mana PTPN III berkedudukan dalam penyediaan dan pengelolaan bahan baku (feedstock) berbasis komoditas perkebunan, Medco memperkuat pengembangan industri dan infrastruktur, serta Pertamina melalui PNRE mendorong hilirisasi dan pemanfaatan bioetanol sebagai daya bersih. Sinergi ini dirancang untuk membangun ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir nan dapat direplikasi secara nasional.

Kesepakatan pertama mencakup kerja sama antara PNRE, PTPN III, dan Medco untuk revitalisasi pabrik bioetanol di Lampung dengan kapabilitas dan rantai pasok berbasis multi-feedstock, termasuk ubi kayu dan komoditas lainnya. Selanjutnya, kerja sama kedua antara PNRE dan PTPN III berfokus pada pembangunan pabrik bioetanol baru di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dengan support pengembangan lahan dan rantai pasok bahan baku berbasis ubi kayu, jagung, dan tebu.

Adapun kerja sama ketiga antara Pertamina NRE dan Sinergi Gula Nusantara diarahkan pada pengembangan pabrik bioetanol berbasis molase nan terintegrasi dengan industri gula nasional.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyampaikan bahwa kerjasama ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat ketahanan daya nasional di tengah dinamika global.

"Dalam situasi geopolitik dunia nan penuh ketidakpastian, sumber daya terbaik adalah nan berasal dari dalam negeri. Kolaborasi ini membuka jalan bagi pemanfaatan daya terbarukan berbasis potensi domestik. Melalui sinergi Pertamina Group dengan sektor perkebunan dan mitra strategis, kami optimistis program bioetanol dapat mendorong substitusi impor dan memperkuat kemandirian daya nasional," ujar Agung.

Sementara itu, CEO Pertamina NRE, John Anis, menegaskan bahwa pengembangan bioetanol merupakan bagian dari roadmap strategis dalam mendukung agenda transisi daya nasional.

"Kebutuhan bioetanol nasional untuk mencapai sasaran E20 pada 2028 diperkirakan mencapai 3 hingga 5 juta kiloliter. Untuk itu diperlukan pembangunan sejumlah akomodasi produksi di beragam wilayah dengan pendekatan multi feedstock dan multi distribution dengan mempertimbangkan kesiapan bahan baku nan berbeda di setiap wilayah serta potensi kearifan lokal," tuturnya.

Kebutuhan tersebut memerlukan support dari sisi hulu untuk memastikan kesiapan bahan baku secara berkelanjutan. Direktur Utama PTPN III, Denaldy Mulino Mauna, menegaskan bahwa kerjasama ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem bioetanol terintegrasi dari hulu ke hilir. Menurut Denaldy, pengembangan bioetanol tidak hanya berakibat pada sektor energi, tetapi juga memberikan faedah ekonomi bagi masyarakat, termasuk kepastian pasar bagi petani dan stabilitas pasokan bagi industri.

"PTPN bakal memastikan kesiapan feedstock, sementara Pertamina mendorong hilirisasi energi. Ini bukan sekadar proyek, tetapi upaya berbareng untuk membangun masa depan daya Indonesia nan lebih berdikari dan berkelanjutan," tambahnya.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Pertamina secara berkepanjangan telah mendorong pengembangan ekosistem bioetanol terintegrasi, mulai dari pembangunan pabrik bioetanol di Glenmore, Banyuwangi, pembangunan pabrik bioetanol berbareng Toyota Tsusho di Lampung, pengembangan pilot project berbasis aren di Garut nan melibatkan golongan perhutanan sosial, hingga penguatan kerjasama dunia melalui kerja sama internasional dan investasi strategis di sektor daya terbarukan. Pengembangan bioetanol menjadi bagian dari arah strategis Pertamina ke depan. Pertamina bakal terus mendorong pengembangan bioetanol secara terintegrasi melalui penguatan kerjasama lintas sektor, guna memastikan kesiapan penerapan serta memberikan nilai tambah berkepanjangan bagi perekonomian nasional.

(rah/rah)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News