Mitos atau Fakta, Perlintasan Sebidang Sebabkan Kendaraan Mogok?

Sedang Trending 46 menit yang lalu
Seorang relawan penjaga perlintasan Kereta Rel Listrik (KRL) mengatur lampau lintas kendaraan di perlintasan sebidang di dekat Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (29/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Hingga sekarang belum ada jawaban pasti nan dapat menjelaskan kejadian kendaraan bisa mogok tepat di tengah rel ketika hendak menyeberangi perlintasan sebidang. Contoh kasus taksi Green SM nan menjadi pemicu awal kecelakaan dua rangkaian kereta di Bekasi.

Seperti biasa, tak sedikit warganet memainkan perannya untuk melemparkan argumen hingga spekulasi dari penyebab dari kejadian tersebut di jagat maya. Paling banyak terlontar adalah kaitannya dengan 'elektromagnetik'.

Menanggapi perihal tersebut, Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eka Rahman Priandana mencoba menjelaskan penyebab kendaraan dapat mengalami mogok di tengah rel.

"Dahulu sempat heboh, jika rel KRL mempunyai 'efek impedansi' nan bisa menyebabkan mobil baik itu ICE (internal combustion engine) dan BEV (battery electric vehicle) menjadi mogok di atas rel. Setelah saya cek publikasi reputasi tinggi dunia terindeks scopus, tidak ditemukan bahwa 'efek impedansi' dapat menyebabkan kegagalan kelistrikan kendaraan," buka Eka kepada kumparan, Rabu (29/4/2026).

Petugas KAI mengevakuasi buntang mobil Daihatsu Grand Max nan tertabrak KA Harina relasi Surabaya Pasarturi-Bandung di perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Desa Brumbung, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Minggu (15/2/2026). Foto: Aji Styawan/ANTARA FOTO

Lebih lanjut, penggunaan istilah 'efek impedansi' itu sendiri, kata Eka berasal dari media. Jadi menurutnya bukan istilah dari peneliti nan bidangnya konsentrasi pada kelistrikan dan elektromagnetik, makanya tidak ada nan secara tegas menyatakan 'efek impedansi' sebagai penyebab kelistrikan mobil mati.

"Hanya ada satu jurnal nan membahas 'efek impedansi' pada rel kereta ini, ialah dari Universitas Negeri PGRI Kediri. Menurut peneliti nan menulis jurnal tersebut, terukur rel kereta hanya memancarkan medan elektromagnetik sebesar 82 microTesla namalain tidak cukup kuat untuk mengacaukan sistem ECU (Electronic Control Unit) kendaraan," terangnya.

"Banyak nan berkomentar itu lantaran intervensi elektromagnetik alias 'efek impedansi', tetapi mobil-mobil sebelumnya nan sukses menyeberang rel itu kan harusnya sudah banyak dan tidak terjadi apa-apa. Lantas, kenapa satu kendaraan itu nan mengalami langsung diambil konklusi lantaran intervensi elektromagnetik rel?" jelas Eka.

Dugaan sementara menurut Eka, aspek penyebab kendaraan listrik Green SM nan melintang di tengah rel dan akhirnya tertemper kereta di Bekasi Timur itu dapat diamati dari beberapa perspektif.

Wujud taksi online nan mogok diperlintasan kereta di dekat Stasiun Bekasi Timur. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Pertama adalah aspek psikologis dari pengemudi alias disebut sebagai panic stall saat melewati pelintasan rel. Kedua guncangan elektromekanik saat melewati pelintasan ada nan menyebabkan sambungan kendur sehingga terjadi kegagalan fungsi.

Ketiga mengenai dengan kondisi kendaraan itu sendiri nan mengalami anomali sehingga terjadi kegagalan fungsi. Untuk mengetahui penyebab sesungguhnya adalah dengan menunggu hasil investigasi dari Green SM setelah membaca logger dari ECU armadanya.

Senada dengan Eka, pendiri EV Safe sekaligus pengajar di National Battery Research Institute, Mahaendra Gofar juga membantah teori penyebab taksi Green SM alias kendaraan listrik secara umum dapat mogok di tengah perlintasan lantaran pengaruh medan listrik di lokasi.

"Soal pengaruh kelistrikan lantaran kereta? Menurut pendapat saya ini mitos. Kemungkinan mobil tersebut mogok lantaran memang masalah kelistrikan nan ada pada kendaraan itu sendiri alias mungkin aki/baterai 12V soak," ujarnya kepada kumparan, Selasa (28/4).

Lebih-lebih, Gofar mendorong perusahaan taksi Green SM untuk melakukan investigasi lebih lanjut dan terbuka terhadap masalah nan menyebabkan sistem kelistrikan pada armadanya dapat padam seperti itu.

"Soal EV mogok itu sudah banyak studinya, lembaga penanganan breakdown ADAC di Jerman merilis nyaris separuh kasus mogok disebabkan oleh aki 12V nan soak alias rusak. Tetapi lainnya juga bisa dari kesalahan software nan terdapat bug," kata Gofar.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan