Ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuannya pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026 di tengah tekanan eksternal dan kondisi domestik nan belum sepenuhnya solid. Suku kembang referensi BI di level 4,75 persen pada Maret 2026. Sementara suku kembang deposit facility sebesar 3,75 persen dan lending facility sebesar 5,5 persen.
Langkah menahan suku kembang dinilai menjadi pilihan logis untuk menjaga stabilitas makroekonomi, terutama nilai tukar rupiah dan inflasi.
Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Ryan Kiryanto, mengatakan situasi dunia saat ini tidak berkawan bagi perekonomian Indonesia. Ketidakpastian meningkat akibat bentrok geopolitik, terutama perang di area Teluk, nan berakibat pada sentimen ekonomi secara luas.
“Jadi dalam situasi eksternal nan tidak bersahabat, penuh dengan ketidakpastian, lantaran indeks ketidakpastian globalnya makin tinggi, lantaran ekses dari perang di Teluk, itu memberikan sentimen nan negatif untuk ekonomi Indonesia secara keseluruhan,” kata Ryan kepada kumparan, dikutip pada Rabu (22/4).
Di dalam negeri, sejumlah parameter makroekonomi juga menunjukkan pelemahan. Indeks PMI manufaktur tercatat menurun mendekati periode pemisah ekspansi. Di sisi lain, nilai tukar rupiah tetap berada dalam tekanan dan belum menunjukkan penguatan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Ryan juga menyoroti kondisi tersebut sebagai sinyal perlambatan ke depan. “Indeks PMI kita kan drop dari sebetulnya 53 ke 50 sekian. Itu kan mengindikasikan bahwa untuk kita ke depan itu agak gloomy, gloomy itu penuh,” ungkap Ryan.
Selain itu, tekanan terhadap rupiah dinilai menjadi perhatian utama. Dalam beberapa bulan terakhir, nilai tukar belum menunjukkan penguatan nan berfaedah meski Bank Indonesia telah melakukan beragam langkah stabilisasi.
“Posisi nilai tukar rupiah kita nan sudah beberapa bulan terakhir, 2 alias 3 bulan terakhir ini, tidak menguat-menguat juga, tetap di Rp 17.000 sekian kan gitu,” kata Ryan.
Dari sisi inflasi, tekanan juga tetap terasa dan berada di atas sasaran bank sentral. Kondisi ini mempersempit ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter.
“Maka, tidak ada pilihan lain selain di RDG bulan ini, pilihannya tuh tunggal, tahan tingkat suku kembang referensi alias BI rate,” ungkap Ryan.
Senada, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga memprediksi BI bakal kembali menahan suku kembang di 4,75 persen pada RDG April 2026. Ia menilai arah kebijakan BI saat ini tetap jelas berfokus pada stabilitas rupiah.
Menurutnya, tekanan eksternal tetap menjadi aspek utama nan membatasi ruang pelonggaran kebijakan. Ketidakpastian dunia dan dinamika geopolitik membikin langkah penurunan suku kembang menjadi berisiko.
“Meski pasar dunia pada awal pekan terlihat relatif tenang dan bursa saham utama tetap bertahan, ketenangan itu belum cukup kuat untuk mengubah sikap BI,” ujar Josua.
Selain itu, aspek daya juga turut menjadi pertimbangan. Kenaikan nilai daya dinilai tidak hanya berakibat langsung terhadap inflasi, tetapi juga mempengaruhi ekspektasi inflasi serta biaya produksi.
“Dampak langsung kenaikan BBM nonsubsidi ke inflasi April memang condong terbatas lantaran nan naik hanya segmen tertentu dan pangsa volumenya kecil. Namun BI tidak hanya memandang akibat langsung satu bulan, melainkan juga akibat tidak langsung ke ekspektasi inflasi, biaya logistik, biaya produksi, dan inflasi impor jika rupiah tetap tertekan,” jelas Josua.
Dari sisi domestik, kondisi ekonomi dinilai tetap cukup kuat meski mengalami moderasi. Hal ini membikin BI mempunyai ruang untuk tetap memprioritaskan stabilitas, dibandingkan mendorong pertumbuhan secara agresif.
“Artinya, ekonomi domestik memang mengalami moderasi, tetapi belum masuk kondisi nan memaksa BI kudu buru-buru menurunkan suku kembang demi menyelamatkan pertumbuhan,” tutur Josua.
Ke depan, kata Josua, kesempatan penurunan suku kembang diperkirakan semakin terbatas selama tekanan eksternal belum mereda. BI dinilai bakal mempertahankan suku kembang pada level saat ini dalam jangka waktu lebih panjang untuk menjaga stabilitas.
“Selama tekanan dari nilai energi, akibat geopolitik, pelemahan rupiah, potensi pelebaran defisit transaksi berjalan, dan premi akibat Indonesia tetap tinggi, BI perlu menjaga tingkat suku kembang sekarang agar daya tarik aset rupiah tidak turun terlalu cepat,” kata Josua.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·