Jakarta -
Penyedia indeks saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), mengumumkan kembali menunda review indeks saham Indonesia di bulan Mei 2026. Sebab saat ini, MSCI tetap mengkaji aksesibilitas investasi di pasar modal Indonesia.
Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir, beranggapan pengumuman lanjutan dari MSCI mengenai peringatan kepada Indonesia merupakan perihal nan positif. Sebab menurutnya langkah ini menunjukkan bahwa lembaga indeks dunia itu mau mengawasi secara ketat keberlanjutan reformasi di pasar modal Tanah Air.
"Menurut saya positif di note bahwa dari sisi bursa bahwa mereka telah melakukan tahap-tahap sesuai dengan feedback nan didapatkan dari MSCI dan merupakan kemajuan," kata Pandu saat ditemui di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (21/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya ke depan MSCI bakal terus mengawasi perbaikan pasar modal Indonesia. Sehingga perihal ini dapat menjadi dorongan bagi pasar modal Garuda untuk terus melakukan reformasi sesuai dengan dengan arah nan sudah ditetapkan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya.
"Mereka juga mau mengawasi ke depan bahwa reformasi bakal terus dilakukan. Saya rasa tuh ini tahap inisial awal nan positif mengenai MSCI," ujarnya.
Dengan begitu Pandu menekankan gimana sistem pasar modal Tanah Air sudah melangkah sebagaimana mestinya. Sementara hasil akhirnya bakal berjuntai pada proses reformasi pasar modal itu sendiri.
"Saya rasa market sistem berjalan, dan sekarang kan dari MSCI juga bakal memandang gimana perkembangan reformasi nan ada," tegasnya.
Sebagai informasi, MSCI memperpanjang rebalancing indeks saham-saham Indonesia pada Mei 2026. Dalam pengumuman terbarunya, MSCI mengaku tetap mengkaji akibat reformasi pasar modal terhadap aksesibilitas investasi.
MSCI juga mengaku telah menerima laporan dari OJK, BEI, dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengenai reformasi pasar modal. Reformasi tersebut meliputi peningkatan keterbukaan info pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%; peningkatan perincian pengelompokkan penanammodal dalam info kepemilikan saham; pengenalan kerangka HSC; dan peta jalan peningkatan pemisah minimum free float menjadi 15%.
Meski begitu, MSCI tetap mempertahankan keputusannya untuk menunda rebalancing saham Indonesia. Selain itu, MSCI juga bakal membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan jumlah saham (Number of Shares/NOS); MSCI tidak bakal menambahkan saham ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI); dan MSCI tidak bakal melakukan kenaikan pengelompokkan ukuran saham ke segmen nan lebih besar, termasuk dari Small Cap ke Standard.
"MSCI bakal terus menjalin komunikasi dengan para pelaku pasar dan otoritas mengenai di Indonesia, serta menyambut masukan dari para pelaku pasar mengenai sumber info dan parameter nan baru diperkenalkan, termasuk efektivitasnya dalam menentukan free float dan menilai kepantasan investasi. MSCI berencana untuk memberikan info lebih lanjut mengenai topik ini sebagai bagian dari Tinjauan Aksesibilitas Pasar nan dijadwalkan pada Juni 2026," tulis pengumuman MSCI.
(igo/fdl)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·