Dampak Konflik Iran, Pengusaha Ritel Nego Harga Plastik dengan Supplier

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Ketua Umum Hippindo, Budiardjo Iduansjah ditemui di Smesco, Jakarta pada Rabu (15/4/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengaku akibat kenaikan nilai plastik sudah terasa imbas perang di Iran. Saat ini pengusaha tengah menegosiasikan nilai plastik dengan pemasok.

Ketua Umum Hippindo, Budiardjo Iduansjah, menjelaskan bahwa kenaikan nilai plastik di ritel terasa sejak dua pekan lalu.

“Saat ini kami di retail sudah terima kenaikan nilai dari supplier. Jadi dari 2 minggu lampau alias minggu lampau juga udah masuk. Dalam proses kami menegosiasi nilai lama. Tapi jika nggak bisa ya kami negosiasi harganya naik bertahap,” ujarnya ditemui di Smesco, Jakarta pada Rabu (15/4).

Adapun di sektor ritel, kenaikan memang paling terasa di sub sektor makanan dan minuman. Namun, Budoarjo menjelaskan sub sektor lainnya juga turut terdampak.

“Artinya memang udah kenaikan nilai itu. Terutama dari pengusaha makanan dan minuman. Elektronik juga, perangkat listrik nan berasosiasi dengan kabel-kabel itu naik semua. Alat listrik, perangkat elektronik nan berasosiasi dengan plastik itu semua naik. Ember-ember itu naik semua,” kata Budiarjo.

Ia menjelaskan kenaikan nilai plastik dari pemasok terjadi sebesar 5 sampai 10 persen. Budiarjo menuturkan dia memang belum mengusulkan usulan insentif untuk menghadapi situasi ini, namun usulan insentif sedang didiskusikan oleh Hippindo.

“Artinya kami coba lagi rundingkan insentif apa nan coba kita mintakan lagi nantinya,” ujarnya.

Sebelumnya pemerintah tengah mencari pengganti pasokan bahan baku plastik menyusul terganggunya impor dari Timur Tengah akibat perang di Iran. Seretnya pasokan membikin nilai plastik di dalam negeri naik.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengatakan Indonesia sekarang mulai menjajaki sumber baru dari beragam negara.

“Kita sekarang mencari pengganti pengganti alias pengganti dari negara lain dan kita sudah melakukan misalnya dari negara Afrika, India, dan Amerika,” kata Budi dalam konvensi pers di KSP, Jakarta, Rabu (1/4).

Meski begitu, dia mengakui proses peralihan pasokan tidak bisa dilakukan secara instan lantaran memerlukan penyesuaian rantai distribusi.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan