Breaking: Gelombang Pemakzulan Trump Menggema di AS Gara-Gara Iran

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Gejolak politik di Amerika Serikat (AS) memanas setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman mengerikan untuk melenyapkan seluruh peradaban di Iran. Mengutip laporan CNBC International, gelombang dorongan agar Trump dimakzulkan alias dicopot dari jabatannya melalui Amandemen ke-25 sekarang menggema kencang di Washington.

Keresahan nan sebelumnya sempat tertahan di kalangan Demokrat mengenai tindakan Trump menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan menyerang Iran tanpa izin Kongres, sekarang pecah menjadi kemarahan terbuka. Pemicunya adalah unggahan Trump di media sosial Truth Social pada Selasa pagi. Trump menyebut bahwa "seluruh peradaban bakal meninggal malam ini", sebuah pernyataan nan membangkitkan bayang-bayang perang nuklir.

Meski pada Selasa malam Trump dan pihak Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu, perihal tersebut tidak menyurutkan kritik pedas dari beragam pihak. Anggota DPR AS dari Fraksi Demokrat, Alexandria Ocasio-Cortez, menilai pernyataan tersebut bukan sekadar retorika politik, melainkan ancaman nyata terhadap kemanusiaan nan kudu segera ditindaklanjuti dengan pencopotan jabatan.

"Ini adalah ancaman genosida dan layak menjadi argumen pencopotan dari jabatan. Kemampuan mental Presiden sedang runtuh dan tidak bisa dipercaya. Kepada setiap perseorangan dalam rantai komando Presiden: Anda mempunyai tugas untuk menolak perintah ilegal. Itu termasuk melaksanakan ancaman ini," tegas Ocasio-Cortez, dikutip Rabu (8/4/2026).

Ultimatum Trump tersebut muncul menjelang tenggat waktu nan dia tetapkan pada Selasa malam bagi Iran untuk membikin kesepakatan dengan AS dan membuka kembali Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur pengiriman kunci bagi minyak bumi dari Teluk Persia nan sangat vital bagi stabilitas ekonomi global.

Pemimpin Minoritas Senat, Chuck Schumer, juga menyampaikan pandangannya melalui media sosial setelah pengumuman gencatan senjata tersebut keluar. Schumer merasa lega namun tetap memberikan sindiran tajam terhadap sikap sang Presiden nan dianggapnya hanya mencari jalan keluar dari gertakannya sendiri.

"Saya senang Trump mundur dan dengan putus asa mencari jalan keluar dari ancaman konyolnya," tulis Schumer.

Namun, jarak bentrok ini dianggap belum cukup untuk menghentikan dorongan di Kongres. Puluhan personil Demokrat dan beberapa personil Republik tetap mengecam Trump pada Selasa, serta menegaskan bahwa gencatan senjata tidak mengubah penilaian mereka terhadap kapabilitas kepemimpinan Trump.

Anggota DPR Melanie Stansbury menekankan bahwa pengumuman gencatan senjata sesaat setelah menakut-nakuti bakal melakukan kejahatan perang tidak serta-merta membikin seorang presiden kembali layak menjabat.

"Hanya lantaran seorang Presiden mengumumkan dia menyetujui gencatan senjata dua minggu beberapa saat sebelum dia menakut-nakuti bakal melakukan kejahatan perang, tidak berfaedah dia tiba-tiba fit untuk bertugas. #AmandemenKe25," ungkap Stansbury.

Wacana pencopotan ini sebenarnya sudah mulai bergulir apalagi sebelum unggahan kontroversial pada Selasa tersebut muncul. Trump sebelumnya telah memulai ketegangan dengan Iran melalui unggahan di hari Minggu Paskah nan menakut-nakuti bakal menyerang jembatan dan pembangkit listrik Iran jika negara itu tidak segera membikin kesepakatan.

Merespons perihal itu, Anggota DPR John Larson pada Senin telah memperkenalkan pasal-pasal pemakzulan (articles of impeachment). Larson menuduh Trump telah melakukan perampasan berantai terhadap kekuasaan perang Kongres serta melakukan pembunuhan, kejahatan perang, dan pembajakan.

Dukungan terhadap pemakzulan juga datang dari Anggota DPR Ilhan Omar pada Selasa. Ia mempertanyakan keberanian rekan-rekan sejawatnya dari Partai Republik untuk mengambil tindakan tegas terhadap pemimpin mereka sendiri demi kepentingan negara.

"Kapan itu bakal cukup bagi rekan-rekan Republik saya untuk menumbuhkan keberanian dan mencopotnya dari jabatan?" tulis Omar.

Di sisi lain, beberapa personil Kongres seperti Ro Khanna beranggapan bahwa jalur tercepat adalah melalui Bagian 4 dari Amandemen ke-25. Mekanisme ini memungkinkan pengalihan kekuasaan secara paksa jika Wakil Presiden dan kebanyakan Kabinet menyatakan Presiden tidak bisa menjalankan tugasnya.

"Jika Kongres Amerika Serikat tetap mempunyai nyawa di dalamnya, setiap personil Kongres dan senator kudu menyerukan pencopotan Trump hari ini berasas Amandemen ke-25. Dia menakut-nakuti seluruh kehancuran sebuah peradaban. Dia menyebut orang Iran sebagai hewan," kata Khanna dalam sebuah video.

Mantan Ketua DPR Nancy Pelosi juga merilis pernyataan pada Selasa malam nan mendesak agar kewarasan segera dipulihkan di gedung putih. Ia meminta pihak Republik untuk ikut bertindak jika kabinet Trump sendiri tidak berani mengambil langkah konstitusional.

"Jika Kabinet tidak bersedia menggunakan Amandemen ke-25 dan memulihkan kewarasan, Partai Republik kudu mengumpulkan kembali Kongres untuk mengakhiri perang ini," tutur Pelosi.

Menanggapi gelombang tuntutan tersebut, Gedung Putih merilis pembelaan dan menyerang kembali pihak oposisi. Juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle, menyebut langkah Demokrat sebagai upaya lama nan tidak berdasar dan hanya didorong oleh rasa tidak suka terhadap Trump.

"Ini menyedihkan. Demokrat telah berbincang tentang memakzulkan Presiden Trump apalagi sebelum dia dilantik. Demokrat di Kongres sudah gila, lemah, dan tidak efektif, itulah sebabnya ranking persetujuan mereka berada pada titik terendah dalam sejarah," tulis Ingle dalam emailnya.

Secara historis, Trump telah dua kali dimakzulkan oleh DPR pada masa kedudukan pertamanya, namun tidak pernah dinyatakan bersalah oleh Senat. Meskipun ada beberapa upaya pemakzulan dalam periode Kongres kali ini, tidak ada nan mendapatkan support signifikan dari internal Demokrat sendiri.

Anggota DPR Maxine Waters, nan sebelumnya vokal menyerukan pemakzulan, sempat menyatakan pada Maret bahwa upaya tersebut susah dilakukan selama Demokrat tetap menjadi minoritas di kedua bilik legislatif. Terlebih di tahun pemilu, banyak pihak memandang rumor pemakzulan sebagai strategi nan bisa merugikan secara politik.

"Saya pikir ketika kita mengambil alih kendali DPR, kita bakal mempertimbangkan perihal itu," ujar Waters.


Republik Juga Dukung Pemakzulan?

Peluang pencopotan Trump saat ini memang tergolong rendah lantaran Partai Republik tetap mengendalikan DPR dan Senat. Selain itu, belum ada tanda-tanda pemberontakan terbuka di dalam kabinetnya, termasuk dari Wakil Presiden JD Vance nan justru memuji Trump saat berpidato di Budapest pada Selasa.

Meski demikian, kecaman mulai muncul dari internal Republik sendiri. Mantan sekutu Trump, Marjorie Taylor Greene, menyebut unggahan Trump sebagai kegilaan nan jahat dan secara mengejutkan ikut menyuarakan Amandemen ke-25.

"AMANDEMEN KE-25!!! Tidak ada satu pun peledak nan jatuh di Amerika. Kita tidak bisa membunuh seluruh peradaban," tegas Greene.

Senator Lisa Murkowski dari Alaska juga memutus hubungan dengan retorika Trump pada Selasa. Ia menilai ancaman penghancuran peradaban tidak bisa dibenarkan dengan argumen strategi negosiasi lantaran perihal itu merusak nilai-nilai luhur Amerika Serikat nan telah dijaga selama ratusan tahun.

"Ancaman Presiden bahwa 'seluruh peradaban bakal meninggal malam ini' tidak dapat dimaafkan sebagai upaya untuk mendapatkan pengaruh dalam negosiasi dengan Iran. Retorika jenis ini adalah penghinaan terhadap cita-cita nan diperjuangkan bangsa kita," kata Murkowski.

Kritik serupa datang dari Senator Ron Johnson dan Anggota DPR Nathaniel Moran nan merupakan kader Republik. Mereka sepakat bahwa meskipun pertahanan nasional kudu kuat, menghancurkan prasarana sipil alias seluruh peradaban bukanlah jati diri Amerika Serikat.

Anggota DPR Kevin Kiley, nan baru-baru ini beranjak menjadi independen, menegaskan pada Selasa bahwa Amerika tidak menghancurkan peradaban. Ia menekankan tanggung jawab Kongres untuk melakukan pengawasan terhadap operasi militer agar tetap sesuai dengan norma internasional dan kemanusiaan.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News