Jakarta -
Biaya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran diprediksi bakal melampaui nomor resmi nan dirilis pemerintah. Diperkirakan, total biaya perang ini bisa menembus nomor US$ 1 triliun alias setara Rp 17.100 triliun (kurs Rp 17.100/US$).
"Saya percaya perang Iran bakal mencapai US$ 1 triliun," ujar Akademisi Universitas Harvard Linda Bilmes, dalam sebuah wawancara internal, dikutip dari CNBC International, Selasa (14/4/2026).
Dalam laporan Pentagon kepada Kongres, operasi campuran AS-Israel dalam melawan Iran ini telah menghabiskan biaya sebesar US$ 11,3 miliar selama enam hari. Namun, Bilmes menilai nomor tersebut belum menghitung kondisi riil di lapangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bilmes memperkirakan biaya jangka pendek perang ini mencapai US$ 2 miliar per hari selama 40 hari bentrok berturut-turut. Biaya ini mencakup nilai amunisi, pengerahan pasukan, dan kerusakan aset militer.
Menurut Bilmes, biaya jangka pendek sebenarnya bisa lebih tinggi daripada nan dihitung Pentagon. Hal ini lantaran Pentagon melaporkan nomor berasas nilai lama barang-barang militer, bukan nilai terkini untuk menggantikan aset tersebut nan harganya bisa jauh lebih mahal.
"Kesenjangan inilah nan membikin laporan US$ 11,3 miliar sebenarnya lebih mendekati US$ 16 miliar. Ini mencerminkan perbedaan nan terus terjadi antara apa nan dilaporkan Pentagon dengan biaya perang nan sebenarnya," terang Bilmes.
Selain itu, perjanjian multi tahun dengan perusahaan seperti Lockheed Martin dan Boeing untuk rudal pencegat (interceptor) membikin biaya pengadaan kembali bagi AS menjadi sangat mahal, ialah US$ 4 juta per rudal. Angka ini sangat kontras dengan biaya drone Iran nan hanya memerlukan US$ 30.000 per unit untuk diproduksi.
Dalam jangka panjang, biaya perang bakal terus membengkak lantaran rekonstruksi akomodasi dan prasarana sekutu di area Teluk nan juga terkena dampaknya. Sementara itu, Gedung Putih telah meminta Kongres untuk meningkatkan anggaran pertahanan AS menjadi US$ 1,5 triliun.
Jika disetujui, ini bakal menjadi shopping militer terbesar sejak Perang Dunia II. Angka tersebut apalagi belum termasuk biaya persediaan US$ 200 miliar nan diminta Pentagon unik untuk perang di Iran.
Dampak ke Defisit Fiskal AS
Pengeluaran besar-besaran ini bakal memperbesar defisit fiskal AS. Sebagai perbandingan, saat perang Irak, AS kudu menelan total biaya US$ 2 triliun dengan utang publik AS tetap di bawah US$ 4 triliun.
Saat ini, utang AS telah melampaui US$ 31 triliun. Sebagian utang tersebut berasal disebabkan lantaran perang-perang sebelumnya, seperti saat melawan Irak.
"Kita meminjam duit untuk mendanai perang ini dengan suku kembang nan lebih tinggi, di atas pedoman utang nan sudah jauh lebih besar. Akibatnya, biaya kembang saja bakal menambah miliaran dolar pada total biaya perang ini. Berbeda dengan biaya operasional di awal, biaya kembang ini adalah beban nan secara nyata kita wariskan kepada generasi berikutnya," jelas Belmis.
(rea/hns)
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·