Belajar Humor dari Pater Mathias Wolff, SJ

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Patung Pater Mathias Wolff di depan Museum Puspita Generalat Yogyakarta (Foto arsip pribadi)

Pater Mathias Wolff, SJ adalah seorang pemimpin Katolik kelahiran Dierkirch, Luxemburg, pada tanggal 9 Maret 1779 nan berkarya di Belanda saat gereja sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Situasi Eropa barat khususnya di Belanda pada abad 18 dan 19 sedang dalan kondisi nan sangat kacau dan semangat anti terhadap kepercayaan dan gereja sedang panas-panasnya khususnya terhadap gereja Katolik.

Di tengah situasi nan tidak menguntungkan tersebut Pater Wolff dengan berani berdiri menghadapi segala tuduhan apalagi ancaman pembunuhan akibat dari pelayanannya bagi Tuhan dan umat nan sedang kelaparan rohani akibat dari ekses revolusi Prancis dan Reformasi Protestan di Belanda.

Pater Wolff menjawab tantangan itu dengan mendirikan lembaga Pedagogie Chrétienne (Pendidikan Kristen) tanggal 29 Juli 1822 nan bergerak mendidik gadis-gadis muda Belanda utara untuk membantu pelayanan di bagian pendidikan anak-anak miskin, khususnya perempuan. Institusi ini adalah cikal bakal dari sebuah Lembaga religius nan nantinya Bernama Kongregasi suster-suster Jesus, Maria dan Joseph (SJMJ). Pada perkembangannya kongregasi ini berkembang juga di Indonesia sejak tahun 1898 dan telah berkarya dalam bagian pendidikan, Kesehatan dan karya sosial pastoral.

Sebagai seorang pendidik nan berkarya di bawah naungan Yayasan Joseph Esa Ene nan berakar pada karisma dan spiritualitas Pater Mathias Wolff , saya sangat terinspirasi dengan kisah Pater Wolff dalam mengembangkan pendidikan.

Salah satu style kepemimpinan pendidikan nan diajarkan oleh Pater Wolff adalah mengembangkan selera humor. Meskipun dikenal sebagai pengkhotbah nan tegas dan berpendirian sehingga orang menjulukinya “serigala nan mengerkah”, Pater Wolff sangatlah dekat dengan umat teristimewa dengan anak-anak.

Cara mengajar Pater Wolff sangatlah humanis dan dipenuhi dengan gelak tawa. Tak heran anak-anak dan umat sangat senang mendekatinya dan mendengarkan ceramahnya. Ada banyak kisah tentang beliau nan menggambarkan kejenakaan dan kepemimpinannya nan humoris. Berikut adalah beberapa penggalan kisahnya menurut kitab Serigala nan Mengerkah karya H. Closs, SJ (2010)

Keluarga nan humoris

Pater Wolff berasal dari family sederhana nan sangat religius. Mereka mengajarkan nilai-nilai kesalehan kepada Wolff kecil. Meskipun begitu family Wolff adalah family nan humoris khususnya dari ayahnya. Mereka selalu diajarkan untuk menghadapi setiap masalah dengan “tertawa”.

Suatu ketika setelah ibunya selesai “marah hebat” kepada ayahnya, maka ayahnya berbicara “ibu khotbahmu kurang berkesan lantaran ibu lupa membikin tanda salib pada permulaannya.” Seketika itu juga pasangan suami istri itu tertawa berbareng dan mereka sudah tidak bentrok lagi.

Pastor Hilarius (selalu gembira)

Pater Wolff dikenal sebagai pastor nan selalu bahagia. Ia selalu membawa kegembiraan di mana pun dia berada. Melalui keterbukaan dan keakrabannya dia selalu membagi-bagikan gelak tawa dengan cerita-ceritanya nan lucu. Kadang dia menertawakan dirinya sendiri dengan sengaja agar orang lain tenggelam dalam kegembiraan.

Alkisah pater Wolff berceramah menggunakan Bahasa Belanda nan belum dia kuasai. Sewaktu memberikan nasihat rohani, dia berkata, “kita kudu mempersembahkan kepada Tuhan segala pikiran kita, perkataan kita dan segala pekerjaan kita”. Ternyata dia salah mengucapkan kata “pekerjaan” dalam Bahasa Belanda “werken”. Ia justru menyebut “varken” nan artinya “Babi”.

Jadi kalimatnya berubah menjadi “kita kudu mempersembahkan kepada Tuhan segala pikiran kita, perkataan kita dan segala babi kita”. Setelah mendengar itu, seluruh umat tertawa terbahak-bahak, tak terkecuali Pater Wolff sendiri.

Keledai tua

Menertawakan diri sendiri memperlihatkan kepada kita bahwa selera lawaksangat erat kaitannya dengan semangat kerendahan hati. Dalam catatan pribadinya Pater Wolff menyebut dirinya sebagai “si keledai tua dari Dierkirch”. Ia tidak disukai oleh otoritas setempat lantaran misinya mengembangkan gereja di Belanda. Bahkan tidak jarang pula dia mendapat tantangan dari dalam gereja sendiri. Namun, untuk menghadapi itu semua Pater Wolff memilih untuk menertawakan dirinya dengan menyebut dirinya “si keledai tua”. Ia memberikan teladan cinta kasih kepada mereka nan membencinya.

Meskipun diperlakukan jahat oleh orang-orang di Culemborg namun beliau tetap berjuang agar mereka dapat tetap saling mencintai. Ia selalu berpendirian jika terpaksa kudu menegur dengan keras hendaklah ditutup dengan kebaikan senyuman dan lawaksambil menunjukkan kerahiman Allah.

Saya belajar bahwa meskipun kita kudu menegur orang lain kita juga perlu menjaga martabatnya dengan langkah nan penuh hormat. Humor bakal membantu kita untuk mencairkan suasana nan tegang itu.

Tegas namun tetap humoris

Pater Wolff adalah pribadi nan tegas dan keras pada prinsip terutama saat memihak doktrin gereja selayaknya para pemimpin Jesuit nan berkobar-kobar dalam Yesus dan gereja-Nya. Namun kelebihan dari pater Wolff adalah dia sanggup tertawa dan bisa membikin orang lain tertawa.

Sewaktu dihadapkan pada pengadil protestan dan didakwah telah mealakukan tuduhan dengan menyebut Marthin Luther telah jatuh ke neraka---pater Wolff menjawab sang hakim. “sebentar lagi saya bakal membikin Luther menampakkan diri di sini, kelak dia sendiri nan bakal menjelaskan kepada tuan hakim”. Singkat cerita sang pengadil langsung meninggalkan ruang sidang lantaran cemas perihal itu betul-betul terjadi. Sedangkan Pater Wolff dengan bebas keluar dari ruang sidang diiringi gelak tawa orang-orang nan melihatnya.

Si tukang roti

Dalam kisah nan lain Pater Wolff mempunyai seorang sahabat nan berjulukan Philip Hakker, si tukang roti. Jika ada orang nan lantaran jengkel “mengutuki” orang lain dengan kata-kata “setan” alias “Tuhan” maka pater Wolff bakal meminta mereka menggantinya dengan kata “Hakker de Bakker” lantaran menurut Pater Wolff Tuhan dan Setan sudah cukup terganggu dengan umpatan mereka.

Dari kisah ini kita belajar bahwa jangan sembarangan menghujat orang lain apalagi menyebutnya “setan” alias membawa-bawa nama Tuhan. Kita kudu lebih bijak dalam memilih kata-kata sewaktu dalam keadaan marah alias jengkel kepada orang lain.

Gratis pater

Pater Wolff juga mempunyai kebiasaan meminta orang untuk mendoakannya. Ia bertanya kepada sahabatnya Karel Copier nan adalah seorang pelukis. “berapa ongkos gambar-gambar itu?”. Karel menjawab, “gratis Pater”. Pada saat itulah pater langsung mengeluarkan leluconnya, “baik, Karel kelak saya urus agar engkau tidak masuk dalam api penyucian”. Tentu saja itu adalah perihal nan tidak mungkin lantaran urusan surga dan neraka bukanlah urusan Pater Wolff.

Pater Wolff dan Ordo Fransiskan

Alkisah seorang biarawan Fransiskan mempertanyakan kewenangan Pater Wolff untuk menghidupkan kembali devosi jalan salib di Belanda. Pater Wolff Dengan hati-hati menjawab, “saya bakal mengirimkan gambar-gambar jalan salib ke gereja biara Fransiskan agar mereka juga dapat menjalankan ibadah jalan salib”. Semoga Santo Fransiskus di surga ikut tertawa lebar lantaran seorang Jesuit telah membantu menyediakan gambar-gambar untuk devosi jalan salib para Fransiskan.

Teladan pater Mathias Wolff dalam perihal mempunyai selera lawakmenginspirasi saya bahwa masalah bakal selalu datang dalam kehidupan kita. Namun pada akhirnya semua tergantung pada langkah kita menghadapinya. Terkadang lawakdapat membantu kita untuk bening memandang masalah.

Romo Y.B Mangunwijaya dalam kitab Sekadar Tulisan (2011) menulis, Manusia nan peka lawakialah pribadi dewasa nan telah sampai pada tingkat keberanian menertawakan diri sendiri.

Kisah Pater Wolff mengajarkan saya bahwa untuk sampai pada keahlian menertawakan diri sendiri kita kudu mempunyai angan dan beragama bakal apa nan diharapkan. Kita kudu berbahagia dalam Tuhan dan tetap rendah hati dalam segala corak pelayanan kita.

Selera lawakhingga akhir hayat

Pada usia 70 tahun Ketika sudah beruban pater Wolff tetap menjadi pribadi nan periang. Dalam sebuah kesempatan dia tetap saja bersenda gurau:

“pada batu kuburku boleh Anda tulis, inilah kubur seorang anak gila”.

Mungkin Pater Wolff sadar bahwa selera humornya itu adalah bentuk dari kekagumannya pada karya Allah dalam kehidupannya. Bahkan pada saat jenasahnya disemayamkan, seorang pelawak berlindung di bawah kain kafan dan mengusili seorang bruder nan berdiri di depan jenazah Pater Wolff.

Suara berat itu berdengung, “Bruder, kau mau buat apa?’ Sang bruder pun terkejut dan lari tunggang langgang keluar dari gereja. Hal ini jelas menggambarkan bahwa apalagi sampai kematiannya orang-orang mengenal Pater Wolff sebagai seorang pemimpin nan humoris dan penuh dengan banyolan tawa. Hari itu tanggal 31 Oktober 1857 serigala nan mengerkah menghadap Allah Bapanya dengan kegembiraan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan