Di sebuah desa mini nan dikelilingi sawah hijau, hiduplah seorang pemuda berjulukan Jaka. Ia dikenal sebagai anak nan sederhana, rajin, dan selalu berupaya menjaga sikapnya. Sejak kecil, orang tuanya sering menasihati dengan sebuah pepatah Jawa: ojo cedhak kebo gupak. Jaka belum sepenuhnya memahami makna kalimat itu, tetapi dia mengingatnya baik-baik.
Suatu hari, musim hujan datang lebih awal. Sawah-sawah berubah menjadi lautan lumpur. Para petani tetap bekerja, termasuk pak Wiryo nan mempunyai seekor kerbau besar. Kerbau itu kuat dan membantu membajak sawah, tetapi tubuhnya selalu penuh lumpur. Setiap hari, dia berkubang, berguling, dan melangkah ke sana ke mari tanpa peduli kebersihannya.
Jaka sering melewati sawah itu dalam perjalanan ke ladang. Ia memandang gimana kerbau itu melangkah pelan, tetapi setiap langkahnya membikin lumpur terciprat ke mana-mana. Tak jarang, orang nan terlalu dekat ikut terkena cipratan itu—bajunya kotor, tubuhnya belepotan.
Suatu sore, Jaka berjumpa dengan beberapa temannya di pinggir sawah. Mereka tertawa, bercanda, dan tanpa ragu mendekati kerbau tersebut. “Ayo, Jaka! Dekat saja, tidak apa-apa,” kata mereka. Awalnya Jaka ragu, tetapi lantaran tidak mau dianggap penakut, dia pun mendekat.
Belum lama dia berdiri di sana, kerbau itu mengibaskan tubuhnya. Lumpur nan menempel di kulitnya terlempar ke segala arah. Seketika, baju Jaka nan bersih menjadi kotor. Teman-temannya tertawa, sebagian malah semakin enak-enak bermain di lumpur. Namun Jaka justru terdiam. Ia menatap pakaiannya nan kotor, lampau perlahan mengingat nasihat orang tuanya.
Malam itu, setelah membersihkan diri, Jaka duduk sendiri di beranda rumah. Ia merenung. “Ternyata benar, bukan lantaran saya ikut bermain lumpur, tetapi lantaran saya terlalu dekat, saya tetap terkena,” gumamnya. Ia mulai memahami bahwa pepatah itu bukan sekadar tentang kerbau, melainkan juga tentang kehidupan.
Hari-hari berikutnya, Jaka mulai lebih berhati-hati. Ia tetap berkawan dengan siapa saja, tetapi dia belajar menjaga jarak dari hal-hal nan bisa merusak dirinya. Ia tidak lagi mudah terbawa arus hanya lantaran mau diterima. Ia memilih lingkungan nan membuatnya bertumbuh, bukan nan menyeretnya jatuh.
Waktu berlalu. Jaka tumbuh menjadi pribadi nan disegani di desanya. Ia dikenal bukan hanya lantaran kepandaiannya, melainkan juga lantaran keteguhan sikapnya. Banyak anak muda datang kepadanya untuk belajar dan meminta nasihat.
Suatu hari, seorang pemuda bertanya, “Kak Jaka, gimana caranya agar kita tidak mudah terpengaruh perihal buruk?”
Jaka tersenyum, lampau menunjuk ke arah sawah tempat kerbau itu dulu sering berkubang. “Pernahkah Anda memandang kerbau nan kotor itu?” tanyanya.
Pemuda itu mengangguk.
Jaka melanjutkan, “Kalau Anda terlalu dekat, Anda tidak perlu ikut bergulir di lumpur untuk menjadi kotor. Cukup berdiri di dekatnya saja, Anda sudah bakal terkena cipratannya. Begitu juga dalam hidup.”
Ia berakhir sejenak, lampau berbicara pelan, “Kita tidak bisa selalu memilih siapa nan ada di sekitar kita, tetapi kita bisa memilih seberapa dekat kita dengan mereka. Itu nan menentukan kita tetap bersih, alias ikut menjadi kotor.”
Sejak saat itu, pepatah “ojo cedhak kebo gupak” bukan lagi hanya menjadi nasihat lama, melainkan juga menjadi prinsip hidup nan nyata—bahwa menjaga diri sering kali dimulai dari menjaga jarak.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·