Antara Profesional dan Personal: Garis Tipis Seorang Guru

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi siswa dan pembimbing Foto: Thinkstock

Di ruang kelas, hubungan antara pembimbing dan siswa sering kali tidak sesederhana menyampaikan materi lampau memberi nilai. Ada dinamika nan lebih dalam, tentang kedekatan, kepercayaan, dan pemisah nan kudu dijaga. Banyak pembimbing diam-diam bergulat dengan satu pertanyaan nan sama: seberapa dekat semestinya mereka dengan murid?

Bagi sebagian guru, menjaga profesionalitas adalah prinsip utama. Mereka percaya bahwa jarak nan jelas bakal membantu mereka bersikap adil, tegas, dan dihormati. Namun, di sisi lain, ada juga kemauan nan sangat manusiawi: mau disukai, mau didengar, dan mau betul-betul berfaedah bagi murid.

Di sinilah dilema itu muncul.

Seorang pembimbing pernah bercerita tentang muridnya nan selalu duduk di bangku belakang. Anak itu pendiam, jarang mengumpulkan tugas, dan nyaris tidak pernah berbincang di kelas. Awalnya, pembimbing tersebut memilih bersikap tegas, memberikan teguran, nilai rendah, apalagi sempat memanggil orang tua. Namun, tidak ada perubahan.

Suatu hari, setelah kelas selesai, pembimbing itu memberanikan diri untuk membujuk siswa tersebut berbincang santai. Bukan sebagai “penilai”, tetapi sebagai seseorang nan mau memahami. Dari percakapan singkat itu, terungkap bahwa siswa tersebut kudu membantu orang tuanya bekerja setiap malam. Ia sering kelelahan dan tidak punya waktu belajar.

Sejak saat itu, pendekatan sang pembimbing berubah. Ia tetap memberi tugas, tetap menilai, tetapi dengan langkah nan lebih elastis dan penuh pengertian. Perlahan, siswa itu mulai menunjukkan perubahan. Ia tidak langsung menjadi siswa terbaik, tetapi mulai berusaha.

Pengalaman seperti ini sering terjadi. Kedekatan emosional nan sehat bisa membuka pintu nan tidak bisa dijangkau oleh ketegasan semata.

Namun, tidak semua cerita melangkah mulus.

Ada juga pembimbing nan terlalu mau dekat dengan murid. Mereka mencoba menjadi “teman”, berbual tanpa batas, apalagi terkadang membiarkan pelanggaran mini lantaran tidak lezat hati. Awalnya suasana kelas terasa hangat, tetapi lama-kelamaan siswa mulai kurang menghormati. Instruksi tidak lagi diikuti dengan serius, dan ketika pembimbing mencoba kembali tegas, siswa justru merasa “berubah” dan susah menerima.

Seorang pembimbing lain pernah mengalami perihal serupa. Ia dikenal sebagai pembimbing nan santuy dan dekat dengan murid. Banyak siswa nyaman bercerita, apalagi di luar pelajaran. Tetapi kedekatan ini justru menjadi bumerang bagi pembimbing itu sendiri. Dalam setiap aktivitas di sekolah, beberapa siswa lebih menganggapnya seperti kawan sebaya. Dari langkah mereka berbincang dengannya, langkah berinteraksi. Bahkan ketika di dalam kelas, suasana belajar tidak lagi efektif dan efisien. Murid apalagi lebih sering bermain sesuka hati mereka. Bahkan ketika mereka melakukan pelanggaran, para siswa tersebut terkesan menganggap remeh sang guru. "Ah biarin aja, lagian Pak Bandi tidak mungkin marah dan menghukum kita"

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup mengguncang. Di titik itu, sang pembimbing menyadari bahwa pemisah nan dia jaga mulai kabur.

Di era sekarang, tantangan ini semakin kompleks. Komunikasi tidak berakhir di kelas. Pesan WhatsApp, komentar di media sosial, hingga hubungan di platform belajar membikin hubungan pembimbing dan siswa terasa lebih dekat dari sebelumnya. Ada pembimbing nan menerima curhat siswa larut malam, ada juga nan merasa tidak lezat jika tidak membalas pesan di luar jam kerja.

Di satu sisi, ini menunjukkan kepercayaan. Di sisi lain, ini bisa menjadi jebakan jika tidak disikapi dengan bijak.

Kunci dari semua ini sebenarnya bukan memilih antara “menjaga jarak” alias “mendekat”. Melainkan gimana menempatkan diri secara tepat.

Guru tetap bisa tersenyum, mendengarkan, dan memahami tanpa kudu kehilangan wibawa. Guru juga bisa tegas tanpa kudu menjadi sosok nan menakutkan. Kedekatan bukan berfaedah tanpa batas, dan profesionalitas bukan berfaedah tanpa empati.

Ada garis tipis nan kudu dijaga—dan garis itu sering kali berbeda di setiap situasi.

Guru nan sukses menemukan keseimbangan ini biasanya mempunyai satu perihal nan sama: kesadaran diri. Mereka tahu kapan kudu menjadi pendengar, kapan kudu menjadi pembimbing, dan kapan kudu berdiri sebagai penegak aturan.

Pada akhirnya, siswa tidak hanya memerlukan pembimbing nan pandai menjelaskan pelajaran. Mereka memerlukan sosok nan bisa dipercaya, dihormati, sekaligus dirasakan kehadirannya.

Karena dari hubungan nan sehat itulah, belajar tidak hanya terjadi di kepala—tetapi juga di hati.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan