Produser sekaligus CEO Visinema, Angga Dwimas Sasongko, menyoroti sejumlah tantangan nan tetap dihadapi industri perfilman Indonesia saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional dengan Asosiasi Perfilman di DPR RI, Rabu (8/4).
Dalam forum tersebut, Angga Dwimas Sasongko menyebut persoalan utama nan dihadapi pelaku industri bukan terletak pada pengedaran film, melainkan pada kebijakan pajak.
“Kalau ditanya tantangan sebagai pelaku usaha, rumor utamanya bukan di sektor distribusi. Isu utamanya di sektor pajak,” kata Angga dikutip dari YouTube TVR PARLEMEN, Rabu (8/4).
Angga menilai, industri movie nan tetap berada dalam fase berkembang memerlukan kebijakan nan lebih jelas dan mendukung pertumbuhan.
“Sebagai pelaku industri, kami butuh kebijakan pajak nan lebih clear, nan lebih pro terhadap pertumbuhan usaha, dan insentif nan tepat,” tuturnya.
Angga juga mencontohkan salah satu corak insentif nan dinilai dapat membantu industri, ialah keringanan pajak untuk aktivitas promosi.
“Misalnya di sektor promosi, ada insentif seperti moratorium pajak iklan untuk aktivitas kebudayaan alias produk ekonomi imajinatif seperti film. Itu sangat membantu kami untuk memperkenalkan movie Indonesia ke masyarakat,” ucapnya.
Selain persoalan pajak, Angga turut menyinggung keterbatasan jumlah layar bioskop di Indonesia nan dinilai tetap menjadi hambatan besar dalam menjangkau penonton.
Menurutnya, tantangan industri saat ini bukan hanya memproduksi film, tetapi juga memastikan movie tersebut dapat dikenal luas oleh masyarakat.
“Yang perlu kita lakukan hari ini bukan hanya membikin film, tapi juga memperkenalkan movie Indonesia ke masyarakat Indonesia itu sendiri,” kata Angga.
Angga Dwimas Sasongko soal Distribusi Film Belum Merata
Angga menilai, keterbatasan jumlah layar membikin pengedaran movie belum merata, terutama di daerah-daerah nan belum mempunyai akses bioskop nan memadai.
“Film Indonesia belum bisa menjangkau seluruh masyarakat Indonesia dengan keterbatasan layar nan ada,” ujarnya.
Angga menambahkan, pembukaan layar baru di beragam wilayah perlu diiringi dengan upaya berbareng untuk membangun awareness terhadap movie lokal.
“Ketika ada bioskop buka di kota baru, perlu upaya berbareng untuk memperkenalkan movie Indonesia di wilayah tersebut. Itu nan menurut saya lebih strategis dan jadi tantangan nyata nan kami hadapi setiap minggu,” tandasnya.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·