Ilustrasi.(Magnific)
SETELAH menjamu Donald Trump dan Vladimir Putin dalam kurun waktu satu minggu, Presiden Tiongkok Xi Jinping dikabarkan tengah mempersiapkan langkah besar berikutnya dalam almanak diplomatiknya: kunjungan kenegaraan ke Korea Utara.
Laporan dari Yonhap News pada Kamis (21/5) menyebut bahwa perjalanan tersebut dapat terjadi paling sigap minggu depan alias awal Juni. Jika terealisasi, ini bakal menjadi perjalanan luar negeri pertama Xi tahun ini sekaligus kunjungan pertamanya ke Pyongyang dalam tujuh tahun terakhir.
Tiongkok sebagai Penyeimbang Global
Signifikansi kunjungan ini melampaui hubungan bilateral semata. Datang tepat setelah pertemuan puncak berturut-turut dengan musuh terbesar Korea Utara (AS) dan mitra masa perangnya (Rusia), kunjungan ke Pyongyang bakal memungkinkan Xi untuk menampilkan Tiongkok sebagai satu-satunya kekuatan besar nan tetap bisa merangkul semua pihak di bumi nan semakin terfragmentasi.
"Di bumi nan tidak menentu akibat ketidakpastian style Trump, Xi mempresentasikan Beijing sebagai manajer pusat multipolaritas," ujar Brian Wong, asisten guru besar di Universitas Hong Kong. "Pesan dasarnya jelas: Tiongkok bakal berbincang dengan semua pihak, menyerap tekanan dari beragam arah, dan menjaga opsi strategisnya tetap terbuka."
Diplomasi dengan Trump dan Putin
Pengaruh Beijing terlihat jelas selama seminggu terakhir. Xi menggelar karpet merah untuk Trump dan Putin secara berurutan, menegaskan bahwa Beijing bakal mengelola hubungan dengan kedua kekuatan tersebut sesuai dengan ketentuannya sendiri.
Hasil Pertemuan Strategis:
- Dengan Donald Trump: Xi sukses mendorong kesepakatan kerangka kerja stabilitas strategis konstruktif untuk mengelola persaingan kekuatan besar dan memastikan Beijing tidak dikejutkan oleh kebijakan tarif alias hukuman teknologi AS nan tiba-tiba.
- Dengan Vladimir Putin: Xi memuji hubungan bilateral berada di tingkat tertinggi dalam sejarah, tetapi dia tetap menahan diri untuk tidak memberikan terobosan nan sangat dicari Rusia, ialah pipa gas baru nan bakal menggandakan ekspor Rusia ke Tiongkok.
Tantangan Nuklir dan Pengaruh Regional
Kunjungan ke Pyongyang dan pertemuan dengan Kim Jong Un bakal menjadi pengingat bagi Trump maupun Putin mengenai pengaruh besar nan dimiliki Beijing atas rezim Kim. Namun, pengaruh tersebut mempunyai batas. Meskipun ada tekanan bertahun-tahun dari Tiongkok, Korea Utara justru mempercepat program nuklirnya dan memperdalam ikatan militer dengan Rusia sejak invasi ke Ukraina.
Perbedaan tajam juga muncul dalam rumor nuklir. Gedung Putih menyatakan bahwa Trump dan Xi mengonfirmasi tujuan berbareng untuk denuklirisasi Korea Utara, tetapi poin tersebut tidakhadir dalam rilis resmi dari pihak Beijing. Hal ini memicu spekulasi bahwa Beijing secara diam-diam menerima Korea Utara sebagai kekuatan nuklir de facto.
Pusat Politik Dunia
Sejak Januari, Xi menerima lebih dari selusin pemimpin bumi dari Asia, Eropa, hingga Amerika Utara. Menurut info Bloomberg News, proporsi kunjungan pemimpin Barat tahun ini adalah nan tertinggi sejak Xi menjabat pada 2012.
"Rentetan kunjungan ini memperkuat persepsi bahwa Beijing dan Xi sangat aktif dan sentral dalam urusan dunia," kata Ja Ian Chong, guru besar pengetahuan politik di Universitas Nasional Singapura. Ia menambahkan bahwa kontras antara stabilitas Beijing dengan volatilitas pemerintahan Trump membikin posisi Tiongkok tampak lebih menarik secara alami bagi banyak negara. (Bloomberg/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·