Waspada Silent Killer, Serangan Jantung pada Pasien Diabetes Tanpa Gejala Nyeri Dada

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Waspada Silent Killer, Serangan Jantung pada Pasien Diabetes Tanpa Gejala Nyeri Dada Ilustrasi(magnific)

PENYAKIT diabetes sering kali dijuluki sebagai "ibu" dari beragam komplikasi mematikan. Salah satu ancaman nan paling rawan adalah serangan jantung nan datang tanpa indikasi unik alias sering disebut sebagai silent killer.

Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam health talk berjudul “Silent but Deadly: Serangan Jantung pada Penderita Diabetes” nan diselenggarakan oleh Daewoong Pharmaceutical Indonesia bekerja sama dengan Siloam Hospitals Surabaya di RS Siloam Gubeng.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Prof. Yudi Her Oktaviono, mengungkapkan kebenaran medis nan mengkhawatirkan: pasien glukosuria sering kali tidak merasakan nyeri dada saat terjadi serangan jantung. Kondisi ini disebabkan oleh kadar gula hipertensi nan berjalan dalam jangka panjang, sehingga merusak saraf pengirim sinyal nyeri.

“Pasien glukosuria dapat mengalami akibat kardiovaskular tanpa indikasi nan nyata. Karena itu, pemeriksaan kesehatan berkala tidak boleh diabaikan, meskipun pasien merasa dirinya sehat,” tegas Prof. Yudi.

Ia menambahkan bahwa glukosuria mempercepat proses aterosklerosis alias penumpukan plak pada tembok pembuluh darah.

Prinsip Pencegahan: The Sooner, The Lower, The Better

Dalam upaya mencegah stroke dan serangan jantung, Prof. Yudi menekankan pentingnya mengelola kolesterol jahat (LDL) sedini mungkin. Prinsip utamanya adalah semakin sigap diturunkan dan semakin rendah kadarnya, maka hasil bagi kesehatan jantung bakal semakin baik.

Selain jantung, organ ginjal juga berada dalam ancaman serius nan sering kali tidak disadari. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi, Dr. dr. Soebagijo Adi Soelistijo, menjelaskan bahwa kegunaan ginjal dapat menurun drastis tanpa indikasi awal nan mencolok.

“Kadar gula darah nan terus tinggi merusak jaringan ginjal secara bertahap, layaknya filter nan aus seiring waktu. Pemeriksaan ginjal kudu proaktif, jangan menunggu sampai muncul gejala,” papar Dr. Soebagijo.

Untuk memantau kondisi kesehatan secara menyeluruh, pasien glukosuria disarankan melakukan tiga pemeriksaan rutin berikut:

Jenis Pemeriksaan Fungsi & Tujuan
HbA1c Melihat rata-rata kendali gula darah dalam jangka panjang (2-3 bulan terakhir).
UACR (Urine Albumin-to-Creatinine Ratio) Mendeteksi kebocoran protein dalam urine sebagai tanda awal kerusakan ginjal.
eGFR (Estimated Glomerular Filtration Rate) Menilai keahlian ginjal dalam menyaring darah secara keseluruhan.

Komitmen Layanan Terpadu dan Inovasi Terapi

Direktur Siloam Hospitals Surabaya, dr. Maria Magdalena Padmidewi, menyatakan bahwa edukasi bagi pasien glukosuria tidak boleh hanya terpaku pada penurunan nomor gula darah semata. Diperlukan pendekatan multidisiplin untuk menjaga kualitas hidup pasien secara utuh.

Sejalan dengan perihal tersebut, Daewoong Pharmaceutical Indonesia terus berkomitmen menyediakan solusi terapi inovatif. Head of Daewoong Pharmaceutical Indonesia Business Division, Baik In-hyun, menyebut bahwa pemahaman awal mengenai hubungan glukosuria dan komplikasi adalah kunci pencegahan kerusakan organ permanen.

Saat ini, Daewoong telah menghadirkan pilihan terapi untuk membantu pasien mengelola akibat kesehatan mereka:

  • Terapi Dislipidemia: Kombinasi dosis tetap ezetimibe dan rosuvastatin nan diluncurkan November tahun lampau untuk kontrol LDL-C nan ketat.
  • Terapi Diabetes Tipe 2: Enavogliflozin 0,3 mg, penemuan berdikari Daewoong nan telah mendapat persetujuan BPOM RI pada Desember tahun lampau dan dijadwalkan meluncur pada semester pertama tahun ini.

Melalui kerjasama antara lembaga medis dan penyedia terapi, diharapkan kesadaran masyarakat bakal pentingnya pengelolaan gula darah, kolesterol, dan kegunaan ginjal secara terpadu dapat terus meningkat demi masa depan nan lebih sehat. (Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia