Ilustrasi anak usia menjelang remaja.(Dok. Magnific)
PERTUMBUHAN dan perkembangan anak sangat berjuntai pada peran hormon pertumbuhan alias growth hormone (GH). Hormon ini diproduksi oleh kelenjar pituitari, sebuah organ mini nan terletak di dasar otak. Pada masa kanak-kanak, GH mempunyai kegunaan krusial dalam mendukung pertumbuhan normal, menjaga kekuatan otot dan tulang, serta mengatur pengedaran lemak tubuh.
Namun, produksi alias keahlian hormon GH tidak selalu melangkah mulus. Gangguan pada hormon ini dapat memengaruhi proses tumbuh kembang anak secara signifikan, termasuk saat memasuki masa pubertas. Berdasarkan info dari Endocrine Society, hormon pertumbuhan bekerja secara sinergis dengan hormon tiroid dan hormon seks untuk mendukung lonjakan tinggi badan. Jika salah satu hormon tersebut terganggu, dampaknya bakal terlihat pada tinggi badan maupun waktu dimulainya pubertas.
Gangguan Pubertas dan Dampaknya pada Pertumbuhan
Pubertas dini didefinisikan sebagai munculnya tanda-tanda karakter seks sekunder pada anak wanita di bawah usia 7½ alias 8 tahun, serta pada anak laki-laki di bawah usia 9 tahun. Meski di beberapa kasus, seperti di Amerika Serikat, pubertas awal sering kali merupakan ragam normal alias aspek familial (keturunan), orang tua tetap kudu waspada.
Anak wanita di bawah usia 6–7 tahun alias anak laki-laki nan menunjukkan tanda pubertas awal mempunyai akibat lebih tinggi mengalami gangguan endokrin. Kondisi ini memerlukan pertimbangan medis dan pengobatan nan tepat agar tidak mengganggu potensi tinggi badan maksimal mereka di masa depan.
Tidak Semua Anak Pendek Butuh Suntik Hormon
Kekhawatiran orang tua terhadap tinggi badan anak sering kali berujung pada dugaan bahwa anak mengalami stunting. Hal ini memicu tren penggunaan langkah instan seperti suntik hormon peninggi badan. Padahal, tidak semua anak bertubuh pendek mengalami kekurangan hormon pertumbuhan.
Endocrine Society menegaskan bahwa banyak anak bertubuh pendek disebabkan oleh aspek genetik alias keterlambatan pertumbuhan nan tetap dalam pemisah normal. Dalam kondisi tersebut, terapi hormon tidak diperlukan dan justru berisiko jika diberikan tanpa indikasi medis nan jelas.
Beragam Penyebab Anak Bertubuh Pendek
Selain aspek hormon, terdapat beragam aspek lain nan dapat menyebabkan anak mempunyai perawakan pendek, di antaranya:
- Penyakit Kronis: Penyakit serius seperti radang usus, penyakit jantung berat, glukosuria melitus, penyakit celiac, hingga kelainan darah dapat menghalang pertumbuhan.
- Malnutrisi: Kurangnya asupan kalori, terutama di negara berkembang, tetap menjadi penyebab utama. Kondisi ini juga rentan terjadi pada anak dengan fibrosis kistik alias anoreksia nervosa.
- Lahir dengan Berat/Panjang Rendah (SGA): Sekitar 10% anak nan lahir small for gestational age kandas mengalami pertumbuhan kejar (catch-up growth) setelah usia dua tahun.
- Kondisi Psikologis: Lingkungan nan penuh kekerasan alias stres berat, seperti di panti didikan nan tidak terurus, dapat menghalang hormon pertumbuhan hingga kondisi lingkungan membaik.
- Kelainan Genetik dan Tulang: Kondisi seperti sindrom Turner alias kelainan sistem rangka seperti achondroplasia secara langsung memengaruhi struktur dan tinggi badan.
Ksimpulannya, gangguan pertumbuhan dan pubertas berkarakter kompleks. Orang tua diimbau untuk tidak terburu-buru mengambil langkah medis instan seperti suntik hormon. Konsultasi dengan master ahli anak sangat diperlukan untuk mendiagnosis penyebab pasti dan menentukan penanganan nan sesuai dengan kondisi medis anak.
(Endocrine Society/H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·