Jakarta, CNBC Indonesia - Efek perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel nan terjadi sejak akhir Februari diperkirakan bakal tercermin pada pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal kedua 2026. Hal ini disampaikan oleh Direktur Neraca Pengeluaran Badan Pusat Statistik (BPS) Windhiarso Ponco Ali.
Windhiarso mengatakan perang di Iran bakal mempunyai akibat pada pertumbuhan ekonomi Indonesia nan diukur melalui Produk Domestik Bruto, utamanya mengenai ekspor dan impor.
Dampak perang nan tercermin di PDB pada kuartal pertama 2026 diperkirakan bakal sedikit dibandingkan pada kuartal kedua. Penyebabnya adalah kalkulasi PDB pada kuartal pertama dibatasi pada 31 Maret, sehingga akibat perang nan tercatat hanya sebulan. Berbeda dengan kuartal kedua nan mencatat akibat perang lebih banyak.
"Misalkan nilai impor-ekspor naik, ya kelak potensinya di triwulan 2. Di April, jika di April. Tapi jika selama dari 28 Februari sampai dengan 31 Maret belum ada akibat nan signifikan dari perang, berfaedah dampaknya tetap kecil," ucapnya saat memberikan pemaparan dalam aktivitas Workshop BPS kepada awak media di Gedung BPS Pusat, Jakarta pada Selasa (21/4/2026).
Efek perang Iran juga bakal memengaruhi inflasi lantaran adanya perubahan nilai komoditas global, seperti minyak mentah dan emas. Penyebabnya adalah adanya gangguan rantai pasok, utamanya terhadap pasokan minyak mentah dunia, akibat ditutupnya selat Hormuz.
Direktur Statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS) Saparno menjelaskan akibat perang bakal terasa pada biaya produksi nan turut meningkat.
"Tentunya ini bakal berakibat pada biaya produksi, lantaran seperti misalnya minyak itu adalah sebagai bahan bakar untuk semua aspek produksi," ucap Saparno saat memberikan pemaparan dalam aktivitas Workshop BPS kepada awak media di Gedung BPS Pusat, Jakarta pada Selasa (21/4/2026).
Secara tidak langsung, perang Iran turut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah nan melemah. Hal ini dikatakan Saparno bakal membikin nilai barang-barang impor semakin tinggi.
"Volatilitas nilai tukar, terutama ketika rupiah kita sangat volatile gitu ya, bisa naik dan turun, ini tentunya bakal membikin barang-barang impor. Karena biasanya transaksi perdagangan internasional, kita kan dalam dolar ya, ketika nilai trans apa, kurs rupiah turun, maka import kita menjadi lebih mahal," kata Saparno.
(haa/haa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·