Indeks utama bursa saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street menguat pada perdagangan Rabu (19/8). Kenaikan terjadi setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS turun, sehingga penanammodal kembali berani membeli aset berisiko. Kenaikan juga ditopang reli saham sektor kesehatan, terutama Moderna nan melonjak nyaris 177 persen.
Dikutip dari Reuters, Kamis (20/8), indeks Dow Jones tercatat naik 119,65 poin alias 0,22 persen ke 53.463,05. S&P 500 bertambah 16,22 poin alias 0,21 persen menjadi 7.707,98, sedangkan Nasdaq naik 41,38 poin alias 0,16 persen ke 26.331,09.
Penguatan bursa terjadi setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS alias Treasury turun. Sehari sebelumnya, imbal hasil Treasury bertenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007.
Penurunan imbal hasil terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan bakal menggandakan nilai pembelian kembali obligasi pemerintah AS dengan jangka waktu panjang. Langkah ini membantu menambah likuiditas di pasar dan meredakan kekhawatiran penanammodal terhadap kenaikan suku bunga.
"Perdagangan aset berisiko kembali mendapat dorongan setelah kebijakan nan diumumkan Menteri Keuangan Bessent membantu meredakan tekanan dari kenaikan yield obligasi," ujar Carol Schleif, Chief Market Strategist BMO Private Wealth.
Sebelumnya, kenaikan imbal hasil obligasi membikin saham teknologi, terutama perusahaan besar nan banyak mengeluarkan biaya untuk membangun pusat info kepintaran buatan (AI), ikut tertekan. Biaya pinjaman nan lebih tinggi dinilai dapat membikin perusahaan kudu mengeluarkan lebih banyak duit untuk membiayai ekspansi.
Chief Investment Officer Plante Moran Financial Advisors Jim Baird mengatakan, penanammodal kemungkinan mengambil untung setelah indeks saham menguat pada awal perdagangan. Menurutnya, langkah pemerintah AS belum menghilangkan persoalan kenaikan suku kembang dalam jangka panjang.
Di pasar saham, Moderna menjadi perhatian utama setelah saham perusahaan bioteknologi tersebut melonjak nyaris 177 persen. Kenaikan ini menjadi rekor penguatan harian Moderna setelah perusahaan mengumumkan hasil uji klinis tahap akhir terapi kanker berbasis mRNA nan dikembangkan berbareng Merck. Saham Merck melonjak 12,6 persen. Saham Novavax juga naik 10,8 persen, sementara saham BioNTech nan diperdagangkan di AS melonjak 22 persen.
Kinerja saham-saham tersebut membikin indeks sektor kesehatan S&P 500 naik 3,5 persen. Ini menjadi kenaikan harian terbesar sektor tersebut sejak April 2025 sekaligus membawa sektor kesehatan ke rekor tertinggi.
Sektor peralatan konsumsi nonprimer juga menguat 2 persen. Sebaliknya, sektor industri turun 0,9 persen, sedangkan sektor teknologi info melemah 0,7 persen lantaran saham perusahaan chip tertekan.
Meski sektor teknologi secara umum melemah, saham Marvell Technology justru melonjak 9,9 persen. Kenaikan terjadi setelah perusahaan mengumumkan kerja sama dengan Google untuk mengembangkan chip khusus. Marvell juga memberikan kewenangan kepada Google untuk membeli saham perusahaan dengan nilai potensial mencapai USD 12,2 miliar.
Dari sisi keahlian perusahaan, saham Target naik 4,3 persen setelah peritel tersebut meningkatkan sasaran penjualan tahunannya. Saham Lowe's juga menguat 2 persen meski perusahaan memangkas perkiraan pertumbuhan penjualan tahunannya.
Sementara itu, saham perusahaan kosmetik Estée Lauder melonjak 16,3 persen setelah memperkirakan untung tahunan nan lebih tinggi dari perkiraan analis.
Di pasar komoditas, nilai minyak mentah Brent juga naik. Investor tetap mencermati perkembangan hubungan AS dan Iran serta kondisi Selat Hormuz. Secara keseluruhan, 2.855 saham di Nasdaq menguat, sementara 1.967 saham melemah. Di Bursa New York (NYSE), saham nan naik juga lebih banyak dibandingkan saham nan turun dengan rasio 1,9 banding 1.
Total transaksi saham di bursa AS mencapai sekitar 16,92 miliar saham. Angka tersebut sedikit di bawah rata-rata perdagangan selama 20 hari terakhir nan mencapai 16,96 miliar saham.
21 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·