Wabah Ebola di Kongo 2026: Kecepatan Penularan Lampaui Rekor Terburuk Sejarah

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
 Kecepatan Penularan Lampaui Rekor Terburuk Sejarah Ilustrasi.(Magnific)

LAPORAN terbaru mengenai penyebaran virus ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) menunjukkan tren nan sangat mengkhawatirkan. Kecepatan munculnya kasus baru dilaporkan jauh melampaui laju wabah-wabah sebelumnya dalam sejarah, dengan jumlah kasus nan melonjak drastis hanya dalam waktu singkat.

Mantan Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), Tom Frieden, menyebut lintasan awal pandemi ini sebagai sesuatu nan mengkhawatirkan. Melalui info nan berasal dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan Kongo, terlihat bahwa jumlah kasus saat ini mencapai level nan pada pandemi terbesar sebelumnya memerlukan waktu berbulan-bulan untuk tercapai.

Deteksi Terlambat dan Lonjakan Kasus

Virus mematikan ini diyakini menyebar tanpa terdeteksi selama beberapa minggu sebelum akhirnya pandemi nasional resmi diidentifikasi pada Jumat lalu. Sejak deklarasi tersebut, WHO melaporkan telah ada lebih dari 500 kasus suspek hingga Rabu (20/5/2026).

Sebagai perbandingan, pada pandemi Afrika Barat periode 2014-2016--yang merupakan pandemi terbesar sejak virus ini ditemukan pada 1976--dibutuhkan waktu sekitar 80 hari untuk mencapai jumlah kasus nan sama. Wabah 2014 tersebut akhirnya menginfeksi lebih dari 28.600 orang dan menewaskan 11.325 jiwa di beragam negara.

Faktor Risiko Utama:

Frieden nan juga seorang epidemiolog menjelaskan bahwa meskipun Kongo dan Uganda mempunyai pengalaman luas menangani ebola, kondisi saat ini jauh lebih susah karena:

  • Konflik bersenjata nan terus bersambung di wilayah terdampak.
  • Keterlambatan penemuan awal.
  • Munculnya strain baru dengan perangkat diagnostik nan terbatas.
  • Belum adanya vaksin alias pengobatan nan terbukti efektif untuk strain ini.

Status Risiko WHO

WHO pada Rabu (20/5) menyatakan bahwa akibat epidemi ini berada pada level tinggi di tingkat nasional dan regional. Namun, untuk saat ini, akibat di tingkat dunia tetap dinilai rendah.

Para mahir kesehatan internasional sekarang berpacu dengan waktu untuk membendung penyebaran strain baru ini sebelum melintasi perbatasan negara tetangga, mengingat mobilitas masyarakat di wilayah tersebut tetap tinggi di tengah bentrok nan berkecamuk.

Krisis kesehatan ini menambah beban berat bagi area Afrika Tengah nan juga menghadapi tantangan ekonomi dan stabilitas keamanan. Otoritas kesehatan dunia mendesak support internasional segera untuk memperkuat sistem diagnostik dan pengawasan di lapangan. (Huffpost/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia