Video Viral Gunung Anak Krakatau Meletus Hebat Malam Hari Ternyata Hoax

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Jakarta -

Video letusan gunung berapi di tengah laut nan disebut erupsi Gunung Anak Krakatau viral di media sosial. Badan Geologi Kementerian ESDM menyebut video itu tidak betul namalain hoax.

Dilihat detikcom, video viral itu menunjukkan gunung nan mengalami erupsi berulang kali dan menyemburkan api ke langit pada malam hari. Video itu direkam seseorang dari atas kapal dan pengunggah mengaitkannya dengan erupsi Gunung Anak Krakatau nan terjadi baru-baru ini.

Badan Geologi ESDM kemudian melakukan penelusuran mengenai kebenaran peristiwa itu. Menurut Badan Geologi, peristiwa dalam video itu bukan erupsi Gunung Anak Krakatau.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Beredar di media sosial sebuah video nan diklaim memperlihatkan erupsi Gunung Anak Krakatau nan direkam dari atas kapal. Setelah dilakukan verifikasi, video tersebut bukan merupakan rekaman erupsi Gunung Anak Krakatau nan terjadi saat ini, sehingga info tersebut merupakan hoaks (tidak benar)," tulis Badan Geologi ESDM dalam situs resminya, Minggu (5/7/2026).

Badan Geologi menyebut Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif jenis A di perairan Selat Sunda. Pada 2018, goncangan gempa bumi memicu erupsi Anak Krakatau dan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau hingga menyebabkan tsunami di area Selat Sunda.

Setelah peristiwa itu, erupsi berskala rendah terus berjalan sebagai fase bangunan pertumbuhan kembali Gunung Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023. Setelah itu, terdapat jarak erupsi.

Gunung Anak Krakatau mengalami dua kali erupsi sejak 2 Juli 2026 ialah 2 Juli 2026 pada pukul 14.05 WIB dan 3 Juli 2026 pada pukul 11.50 WIB. Kabar erupsi itu kemudian diikuti video nan viral dan belakangan diketahui rupanya hoax.

"Masyarakat diimbau untuk tidak mempercayai maupun menyebarluaskan video nan belum terverifikasi. Seluruh info resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi/PVMBG dan MAGMA Indonesia," tulis Badan Geologi.

Badan Geologi juga meluruskan info soal jarak kondusif Gunung Anak Krakatau. Menurut Badan Geologi jarak rekomendasi 5 km nan beredar adalah info tidak benar.

"Rekomendasi resmi nan bertindak saat ini adalah masyarakat, wisatawan, dan nelayan tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius 3 km dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diharapkan selalu merujuk pada info resmi nan dikeluarkan oleh Badan Geologi/PVMBG dan tidak mudah terpengaruh oleh info nan tidak mempunyai sumber nan jelas," tulis Badan Geologi.

Berikut rekomendasi teknis level III alias Siaga Gunung Anak Krakatau:

1. Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan aktivitas di dalam wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.

2. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung minta tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunungapi Anak Krakatau nan bakal menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan aktivitas seperti biasa dengan senantiasa mengikuti pengarahan BPBD setempat.

3. Untuk mengetahui info dapat menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi (022) 7272606 di Bandung (Provinsi Jawa Barat) alias Pos Pengamatan G. Krakatau (0254) 651449 alias 085846324506 di Pasauran (Provinsi Banten).

4. Masyarakat, pemerintah daerah, dan lembaga mengenai dapat memantau perkembangan aktivitas dan rekomendasi Gunungapi Anak Krakatau melalui aplikasi/website Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (www.vsi.esdm.go.id), Magma Indonesia (https://magma.esdm.go.id), dan media sosial Badan Geologi (Facebook, X, dan Instagram), serta website Badan Geologi (www.geologi.esdm.go.id).

(haf/jbr)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News