Itamar Ben Gvir.(Al Jazeera)
VIDEO nan diunggah oleh Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir, memicu kecaman internasional nan luas. Video tersebut memperlihatkan Ben-Gvir mengejek para aktivis armada kemanusiaan nan ditangkap saat mencoba menembus blokade Gaza. Tindakan ini dinilai menghancurkan kampanye hubungan masyarakat (PR) Israel nan dikenal sebagai Hasbara.
Dalam rekaman nan diunggah di platform X, Ben-Gvir tampak bangga saat para aktivis dari Global Sumud Flotilla bertimpuh di lantai dengan mata tertutup dan tangan terikat di Pelabuhan Ashdod. Pasukan angkatan laut Israel sebelumnya mencegat kapal-kapal tersebut di perairan internasional lepas pantai Siprus dan menahan 430 peserta secara ilegal.
Runtuhnya Ilusi Hasbara
Para mahir beranggapan bahwa upaya pengendalian kerusakan nan dilakukan oleh pejabat Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu nan memerintahkan deportasi sigap para aktivis, bukan didasari oleh kemarahan moral, melainkan ketakutan bakal kerusakan permanen pada gambaran dunia Israel.
Selama beberapa dekade, Israel mengandalkan Hasbara--istilah Ibrani nan berfaedah penjelasan--sebagai kampanye propaganda sistematis untuk membenarkan kebijakan militer mereka terhadap Palestina. Fathi Nimer, master kebijakan Palestina dari Al-Shabaka, menyebut Hasbara sebagai perangkat untuk mempercantik wajah pendudukan.
Fakta Anggaran: Akibat isolasi dunia nan semakin dalam, anggaran Hasbara Israel diproyeksikan melonjak drastis dari sekitar US$15 juta (sekitar Rp240 miliar) pada tahun 2023 menjadi US$700 juta (sekitar Rp11,2 triliun) pada tahun 2026.
Namun, video Ben-Gvir justru membongkar narasi mahal tersebut dalam sekejap. "Bagi Netanyahu, dosanya bukanlah penyiksaan alias penghinaan terhadap aktivis, melainkan menyiarkannya ke seluruh dunia," jelas Nimer.
Standar Ganda Amerika Serikat
Kejadian itu juga menyoroti pertentangan kebijakan Amerika Serikat. Meskipun Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, mengkritik Ben-Gvir lantaran dianggap, "Mengkhianati martabat bangsanya." Kritik tersebut dinilai sunyi oleh banyak pihak.
Hanya sehari setelah video tersebut beredar, Departemen Keuangan AS justru menjatuhkan hukuman kepada empat penyelenggara Global Sumud Flotilla, dengan melabeli misi kemanusiaan tersebut sebagai armada pro-teror. Analis menyoroti standar dobel ini yaitu AS dengan sigap menghukum aktivis kemanusiaan, tetapi terus melindungi menteri sayap kanan Israel dari akuntabilitas nyata.
Mikrokosmos Penderitaan Palestina
Bagi penduduk Palestina, penghinaan nan dialami oleh aktivis internasional ini hanyalah sekilas gambaran dari realitas sistemik nan lebih gelap. Mustafa Barghouti, Sekretaris Jenderal Inisiatif Nasional Palestina, menyatakan bahwa pemandangan aktivis nan terikat dan ditutup matanya hanyalah mikrokosmos dari apa nan dialami ribuan tahanan Palestina setiap hari.
Lembaga kewenangan asasi manusia memperkirakan nyaris 100 penduduk Palestina telah tewas dalam tahanan Israel sejak Oktober 2023, di tengah laporan luas mengenai kelaparan, pemukulan parah, dan pengabaian medis.
Luisa Morgantini, mantan Wakil Presiden Parlemen Eropa, menyerukan tindakan nan lebih tegas daripada sekadar memanggil duta besar. Ia mendesak negara-negara Eropa untuk menangguhkan perjanjian asosiasi dengan Israel, menghentikan penjualan senjata, dan mendukung surat perintah penangkapan ICC terhadap para pemimpin Israel. (Al Jazeera/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·