Aksi mahasiswa dijaga polisi dan pecalang.(MI/Arnoldus Dhae)
RATUSAN mahasiswa nan berasal dari beragam komponen melakukan tindakan unjuk rasa di depan Kantor DPRD Bali, Senin (22/6). Mereka berasal dari BEM Udayana Bali, seluruh fakultas dari Udayana Bali, GMKI, PMKRi, GMNI, BEM Universitas Warmadewa, BEM Universitas Pendidikan Nasional, FMN, BEM PMD, dan beragam asosiasi lainnya.
Ratusan mahasiswa tersebut melangkah kaki dari Bundaran Kartika Denpasar menuju Kantor DPRD Bali. Tiba di Kantor DPRD Bali, rombongan disambut oleh beberapa personil DPRD Bali, personil Polri dari Polresta Denpasar dan Polda Bali.
Ketua BEM Universitas Udayana (Unud) I Gusti Agung Ngurah Oka Paramahamsa mengatakan, tindakan unjuk rasa kali ini tetap dengan tema besar nasional ialah ekonomi nasional nan terus merosot, nilai BBM nan terus dinaikan serta pro kontra MBG nan memicu kondisi finansial nan terus merosot.
Isu lain nan juga disampaikan adalah menghapus kebijakan militerisasi, dan juga penempatan abdi negara kepolisian di beragam sektor pelayanan publik hingga urusan pangan.
"Mahasiswa tidak bisa membiarkan beragam kondisi ini terjadi. Kami bakal terus menyuarakan kondisi ketidakadilan nan sudah ada sejak lama dan menginginkan perubahan secepatnya," ujarnya
Menariknya, pengamanan dilakukan bukan hanya dari abdi negara kepolisian dan TNI melainkan Pecalang Bali (polisi adat) nan sejak pagi telah memenuhi seputaran Kantor Gubernur Bali dan Kantor DPRD Bali.
Aparat keamanan berbareng pecalang dikerahkan untuk mengamankan jalannya tindakan unjuk rasa di Bali guna memastikan situasi tetap kondusif. Kehadiran pecalang, sebagai satuan pengamanan adat, menjadi bagian krusial dalam menjaga ketertiban selama penyampaian aspirasi masyarakat berlangsung.
Pecalang telah menunjukkan kesiapan membantu abdi negara TNI–Polri dalam mengawal massa aksi. Mereka berkedudukan mengatur pergerakan massa, menjaga akomodasi umum, serta mencegah terjadinya tindakan pemberontak nan dapat merugikan masyarakat luas.
Pecalang sendiri merupakan petugas keamanan tradisional unik Bali nan bekerja menjaga ketertiban di wilayah desa budaya dan sering dilibatkan dalam pengamanan aktivitas besar, termasuk tindakan unjuk rasa.
Koordinasi antara pecalang dan abdi negara negara dinilai efektif dalam meredam potensi kericuhan. Dalam sejumlah kesempatan, pecalang menegaskan komitmennya untuk menolak segala corak tindakan demonstrasi nan berujung pemberontak serta menjaga keamanan Pulau Bali tetap kondusif dan damai.
Selain melakukan pengamanan, pecalang juga mengedepankan pendekatan persuasif kepada massa tindakan agar tetap tertib dan menghormati patokan hukum. Langkah ini dinilai krusial mengingat stabilitas keamanan sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan sektor pariwisata di Bali.
Dengan sinergi antara pecalang, abdi negara keamanan, dan masyarakat, diharapkan setiap tindakan unjuk rasa di Bali dapat berjalan secara tenteram tanpa mengganggu ketertiban umum maupun aktivitas masyarakat sehari-hari. (OL/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·