Chalid menyampaikan, sekolah dan kampus merupakan tempat terbaik untuk menanamkan kebiasaan baru. Ketika budaya mengelola sampah dibangun sejak dini, dampaknya tidak hanya dirasakan di lingkungan pendidikan, tetapi juga meluas ke family dan masyarakat.
"Karena itu, perubahan perilaku kudu menjadi fondasi utama dalam membangun sistem pengelolaan sampah nan berkelanjutan," ucap dia.
Dalam implementasinya, lanjut Chalid, setiap lembaga pendidikan didorong untuk mengidentifikasi kondisi aktual, tantangan, dan tindakan prioritas pengelolaan sampah nan berfokus pada pengurangan timbulan, pemilahan dari sumber, pengolahan sampah organik, serta penguatan tata kelola data.
"Roadmap nan disusun melalui program ini diharapkan bisa menjadi pedoman awal dalam memperkuat sistem nan terintegrasi, mulai dari perubahan perilaku penduduk lembaga dan penguatan akomodasi pendukung, hingga pengembangan area edukatif berbasis lingkungan," jelas Chalid.
Sementara itu, Dekan FTUI Kemas Ridwan Kurniawan menyampaikan, pengelolaan sampah memerlukan kerjasama multipihak dan solusi berbasis pengetahuan pengetahuan.
"Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan pengetahuan dan inovasi, tetapi juga kudu bisa menghadirkan solusi nan menjawab tantangan masyarakat," kata dia.
"Melalui program Merdeka Sampah, FTUI mendorong sinergi antara akademisi, pemerintah, dan industri untuk membangun model pengelolaan sampah nan berkepanjangan dan dapat menjadi referensi bagi lembaga pendidikan di Indonesia," jelas Kemas.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·