Harga minyak mentah naik ke level tertinggi dalam lebih dari tiga minggu terakhir pada Rabu (19/8). Hal itu lantaran kilang AS meningkatkan konsumsi minyak mentah dan perseteruan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Iran meningkatkan ketegangan regional.
Dikutip dari Bloomberg, nilai Brent untuk penyelesaian Oktober naik 0,7 persen menjadi menetap di USD 91,62 per barel. West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September naik 1,1 persen menjadi USD 85,83 per barel.
UEA memutuskan semua hubungan ekonomi dengan Teheran setelah menuduh Iran menembakkan rudal balistik ke wilayahnya. Eskalasi terbaru terjadi setelah Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa tidak ada pembicaraan nan sedang berjalan dengan Iran untuk mengakhiri perang nan telah membalikkan pasar energi.
"Kombinasi eskalasi antara UEA dan Iran, ditambah dengan pasar nan semakin menetapkan nilai 'tertutup untuk skenario nan lebih lama,' membikin minyak dan produk olahan tetap didukung," kata kepala analis di Manajemen Risiko Global, Arne Lohmann Rasmussen.
Data pemerintah AS nan baru menunjukkan bahwa kilang melangkah naik ke titik tertinggi sejak September 2019, dipimpin oleh Pantai Teluk. Hal ini mungkin menjelaskan kenapa nilai naik tipis pada laporan, apalagi ketika stok minyak mentah domestik naik 4,4 juta barel minggu lalu.
Lebih lanjut, persediaan distilat turun 1,5 juta barel ke level terendah dalam lebih dari sebulan, menurut laporan Administrasi Informasi Energi AS. Harga bahan bakar, terutama solar, telah meningkat jauh daripada minyak, lantaran perang antara Rusia dan Ukraina juga berkontribusi pada pasar daya nan lebih ketat setelah serangan terhadap kilang.
Margin untuk membikin solar dari minyak mentah di AS telah mencapai USD 100 per barel, menetapkan nilai tertinggi sepanjang masa. Di Eropa, gasoilfutures telah meningkat lebih dari dua kali lipat tahun ini.
Di tempat lain, tiga kapal tanker super nan mengenai dengan China berbalik arah di Selat Hormuz, menyoroti gimana akibat tetap meningkat di titik chokepoint kritis. Pada Selasa, Inggris mengatakan sebuah kapal nan meninggalkan selat terkena proyektil, menyebabkan satu korban.
Namun, produsen Teluk Persia terus diam-diam mengangkut minyak melalui Hormuz untuk menjangkau pengguna global, membantu menahan nilai nan jauh dari tingkat tinggi nan ditakuti banyak orang pada awal perang jika gejolak berkepanjangan hingga musim panas.
Ketika gencatan senjata 60 hari antara AS dan Iran berakhir, beberapa pedagang melepaskan taruhan panjang untuk menghindari salah langkah oleh deeskalasi nan tiba-tiba, juga membantu menundukkan harga.
49 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·